
Lelahku di Depan Layar
Ini seperti gubahan
tentang sebuah nota yang pernah kucerna
aku masih ingat
saat tangis langit hinggap
menyeka peluhku yang masih tabu untuk mendesah pilu

Ini seperti gubahan
tentang sebuah nota yang pernah kucerna
aku masih ingat
saat tangis langit hinggap
menyeka peluhku yang masih tabu untuk mendesah pilu

Semua harap-harap cemas tanpa siap apa yang akan terjadi. Mak Surati hanya seorang berpendidikan SD nggak tamat. Sedangkan kontaminasi masa mewabahkan prilaku tak terkendali kepada tole Bagus, anak semata wayangnya.

Burung bangau mulai kembali Sang Surya mulai menepi Diam diam sang Senja datang Tersenyum hangat obat kerinduan Indah langit sore tak terbantahkan Penuh cerita

Nun datang mengisi ruang
Menjelma seperti malaikat yang hendak meneguk nimat
Mengisi putaran waktu seakan hanya dia yang mampu mencipta tawa untukku

Benarkah itu sesungguhnya yang disebut perasaan cinta, sebuah gerakan molekul-molekul atom yang berhasrat menjadi senyawa dalam satu padu tiada berpisah,

Iya, sudah lebih dari hitungannya
Nun pergi ke seberang sana
Menjelma menjadi kisah yang hanya dalam cerita
Bukan luka atau suka

Ataukah hasrat nafsumu ?
ataukah hasrat nafsumu yang tiada terbendung itu, lebih menggila, mematikan dewa-dewi dunia yang menjanjikan cahaya sempurna di deretan keindahan surga nantinya.

Sementara di bumi yang sama, di belahan yang berbeda siang berdedang dengan kerumun keramaian, di situ pula malam sunyi tersaji menyenyakkan

Memang, terkadang desak memberi sesak Meski tak dipungkiri Desak pun terkadang memberi gerak Pada desak aku ingin berkata Kau datang untuk menghentak Dari lelap

Seperti pagi itu, Saat riuh menyibak jalanan kotaku Rintihmu mengurung asa setiap jiwa yang tengah berkelana Seperti siang itu, Saat gaduh membungkam segala semu