51动漫

51动漫 Official Website

Kuliah Tamu FIB UNAIR Soroti Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dan Relevansinya dalam Sastra Indonesia

Sesi foto bersama pengisi acara kuliah tamu dengan para dosen dan pakar di Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, Selasa (12/5/2026) di Ruang Majapahit, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. (Foto: Istimewa)
Sesi foto bersama pengisi acara kuliah tamu dengan para dosen dan pakar di Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, Selasa (12/5/2026) di Ruang Majapahit, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – 听 terus menunjukkan komitmennya dalam mengapresiasi dan memperkenalkan karya sastra Indonesia melalui pemikiran para sastrawan ternama. Pada kesempatan kali ini, Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia sukses menggelar kuliah tamu bertajuk Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Penulisan Karya Sastranya. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (12/5/2026) di Ruang Majapahit, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.

Mengenal Pramoedya Ananta Toer

Selaku Pembicara Utama, Prof Koh Young Hun dari Hankuk University of Foreign Studies听menjelaskan kedekatannya dengan Pramoedya Ananta Toer serta berbagai pandangannya terhadap karya dan perjalanan hidup sastrawan besar tersebut. Ia mengungkapkan bahwa Pramoedya pernah menerima gelar doktor honoris causa dari universitas di Amerika Serikat dalam sebuah agenda yang turut melibatkan Prof Anderson dari Cornell University. 淏apak Pram sempat mengunjungi Amerika dan menerima doktor honoris causa. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Prof Anderson dari Cornell University, ujarnya.

Prof Koh Young Hun bersama Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR, Dr Puji Karyanto SS MHum selaku moderator saat sesi diskusi kegiatan kuliah tamu, Selasa (12/5/2026). (Foto: Istimewa)

Dalam pemaparannya, Prof Koh juga menyinggung peluang Pramoedya Ananta Toer memperoleh Nobel Sastra pada era 1980-an. Menurutnya, peluang tersebut gagal terwujud karena lemahnya dukungan diplomasi pemerintah Indonesia saat itu. 淪ebenarnya Pramoedya dulu bisa mendapat hadiah Nobel, tetapi gagal karena kebodohan diplomasi Indonesia, jelasnya.

Nasionalisme dan Sejarah

Prof Koh menilai bahwa sejarah menjadi fondasi penting dalam hampir seluruh karya Pramoedya Ananta Toer. Novel-novel seperti Arus Balik, Arok Dedes, hingga Bumi Manusia disebut sarat dengan refleksi sejarah dan nasionalisme Indonesia. 淧engalaman sejarah dapat menjadi fondasi bagi masa depan. Pramoedya memiliki pemahaman mendalam terhadap sejarah bangsa sehingga tafsir nasionalismenya berbeda dengan pandangan umum, imbuhnya.

Lebih lanjut, Prof Koh menjelaskan bahwa karya-karya penting Pramoedya justru lahir dalam situasi penindasan dan pemenjaraan. Novel Keluarga Gerilya ditulis saat berada di penjara, sedangkan Bumi Manusia diselesaikan ketika Pramoedya menjalani pengasingan di Pulau Buru. Bahkan, ia menyebut banyak politikus asing bercanda bahwa memenjarakan Pramoedya justru membuatnya semakin produktif dalam berkarya. 淜arya-karya penting itu dihasilkan dalam keadaan penderitaan, tuturnya.

Prof Koh Young Hun saat memaparkan materi kuliah tamu Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, Selasa (12/5/2026). (Foto: Istimewa)

Selain membahas karya sastra, Prof Koh turut menyinggung posisi Lekra dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Menurutnya, gerakan tersebut perlu dipahami sesuai konteks zamannya. Ia menilai bahwa banyak tokoh, termasuk Pramoedya, kerap dimanfaatkan oleh kepentingan politik tertentu. 淜alau mau melihat gerakan Lekra waktu itu, kita perlu melihat dengan mata pada zamannya, bukan dengan mata sekarang, jelasnya.

Di akhir sesi, Prof Koh menegaskan bahwa pemikiran Pramoedya Ananta Toer berakar kuat pada nilai kemanusiaan, nasionalisme, dan perjuangan melawan kolonialisme. Baginya, karya-karya Pramoedya tidak hanya penting sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai catatan sejarah bangsa Indonesia. 淭ujuan utama nasionalisme adalah membebaskan diri dari penjajahan kolonial, pungkasnya.

Penulis: Putri Andini

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

AKSES CEPAT