Potret Dani saat Wawancara Dalang Muda Berprestasi oleh Tribun Jatim (Foto: Dok. Istimewa)
FIB NEWS “ Seni Pedalangan dan Karawitan adalah bagian penting dari warisan budaya Jawa yang terus menghadapi tantangan di era globalisasi. Peran mahasiswa, khusunya mahasiswa 51¶¯Âþ (FIB UNAIR), menjadi krusial dalam menjaga keberlanjutan seni budaya di Indonesia.
Anugrah Hamdani, mahasiswa FIB UNAIR yang aktif menekuni dunia pedalangan, ia berbagi kontribusi, perjalanan, serta dampak nyata yang ia hasilkan untuk melestarikan budaya tradisional.
Identitas sebagai Mahasiswa FIB
Dani mulai menekuni pedalangan sejak kelas 1 SD dan aktif mengikuti kompetisi sejak SMP dari tingkat kota sampai ke tingkat nasional. Ketertarikannya muncul karena adanya keunikan wayang kulit yang memungkinkan satu orang memerankan banyak karakter. Selain itu, keinginannya untuk meneruskan budaya pedalangan di Surabaya menjadi motivasi utama dalam perjalanan berkesenian.
Selama berkuliah di FIB UNAIR, Dani aktif dalam mengikuti komunitas seni, khususnya Paguyuban Karawitan Sastra Jendra. Melalui organisasi ini, ia berhasil menghidupkan kembali pertunjukan wayang kulit di lingkungan FIB yang sebelumnya belum pernah ditampilkan secara rutin. FIB UNAIR menjadi wadah penting bagi Dani untuk menyalurkan seni sekaligus memperluas jejaring dengan instansi budaya seperti PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) Jawa Timur yang kemudian mendukung berbagai kegiatan pedalangan di kampus.
œSekarang pandangan instansi kebudayaan sudah mulai melirik FIB UNAIR sebagai penggagas festival dalang dan kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya ujarnya
Strategi & Dampak Nyata
Salah satu perspektif yang didapatkan Dani adalah pentingnya modernisasi pertunjukan. Ia mengadaptasi bahasa pertunjukan menjadi lebih dekat dengan mahasiswa, seperti menggunakan bahasa arekan Surabaya, bahasa Indonesia, bahkan bahasa Inggris pada saat tampil.
œBagaimana caranya kita mengolah pertunjukan wayang kulit dikalangan mahasiswa supaya bisa menjadi pertunjukan yang mahasiswa banget, dengan mengkolaborasikan unsur modern dan bahasa yang lebih dekat dengan penonton sebutnya.
Kontribusi Dani tidak hanya dirasakan di lingkungan kampus, tetapi juga masyarakat luas. Salah satu dampak terbesar adalah terselenggaranya Festival Budaya dan Festival Dalang tingkat nasional di UNAIR yang pertama kali diadakan oleh kampus di Jawa Timur. Kegiatan ini membangun citra FIB UNAIR sebagai pusat pengembangan seni tradisional, sekaligus menarik perhatian instansi kebudayaan dan komunitas seni. Selain itu, kolaborasi dengan UMKM dan seniman lokal turut menghidupkan ekosistem budaya di sekitar kampus.

Penampilan Dani saat ICAS UNAIR 24 (Foto: Dok. Istimewa)
Mahasiswa sebagai Jembatan Tradisi
Menurut Dani, mahasiswa FIB berperan sebagai jembatan tradisi, akademik, dan masyarakat. Meskipun minat mahasiswa meningkat secara kuantitas, kualitas pembinaan masih perlu diperkuat melalui dukungan fakultas dan organisasi kemahasiswaan agar potensi seni dapat berkembang optimal.
Dani berharap FIB UNAIR dapat lebih aktif dalam mendukung mahasiswa berbakat dibidang seni tradisional. Menurutnya, banyak mahasiswa yang memiliki potensi besar namun kurang terekspos dan kurang percaya diri untuk berkembang di bidang seni budaya.
Kontribusi Dani sebagai dalang muda berprestasi mahasiswa FIB UNAIR mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Arimbi Sadien P.S
Editor: Tsabita Nuha Zahidah




