Perwakilan pemenang kategori Pentas Seni Terbaik dalam Bradanaya 2025 di depan Gedung FIB, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR pada Jumat (8/8/2025). (Foto: Dok. Divisi PDD Bradanaya 2025)
FIB NEWS “ 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) gelar hari kedua Bradanaya 2025. Bertempat di depan gedung FIB, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR pada Jumat (8/8/2025), suasana makin meriah dengan tujuh penampilan menarik dari mahasiswa baru yang sukses memukau penonton. Selain itu, acara ini juga menggelar awarding di enam kategori yang dinilai secara ketat oleh divisi acara dan balayudha.
Kategori Awarding dan Kriteria Penilaian
Zalfa Izzati Efendi, salah satu staf acara Bradanaya 2025, menjelaskan pembagian kategori awarding. œDivisi Acara menilai kategori Baju Adat Terbaik Putra, Baju Adat Terbaik Putri, dan Pentas Seni Terbaik. Sedangkan Balayudha menilai Pemuda Terbaik Putra, Pemuda Terbaik Putri, dan Kelompok Terbaik, jelasnya saat diwawancara Humas Muda pada Jumat (8/8/2025).
Tahun ini, ada peserta putri yang tampil dengan baju adat Dayak, sedangkan peserta putra mengenakan baju adat Jawa Solo secara lengkap. Penilaian kategori baju adat pada Bradanaya 2025 menitikberatkan pada dua aspek utama, yaitu usaha dan konsistensi peserta. Usaha terlihat dari kelengkapan ornamen dan aksesoris yang dikenakan, sementara konsistensi terukur dari kemampuan peserta mempertahankan tampilan pakaian adat sejak awal hingga akhir acara.
Sementara itu, juri pada kategori Pentas Seni Terbaik menilai kekompakan kelompok, pembagian peran yang merata, serta kesesuaian dan kejelasan tema yang diangkat. Kreativitas dan cara kelompok menginterpretasikan tema menjadi poin penilaian paling menentukan.
Sedangkan untuk kategori Satyamuda terbaik putra dan putri serta Kelompok Terbaik, penilaian dilakukan berdasarkan akumulasi poin penugasan dari Balayudha dan keaktifan peserta selama sesi diskusi. Pemenang akhirnya ditentukan dari total poin tertinggi yang diperoleh.
Penampilan Terbaik
Aurelia Shallom Ayustyo, perwakilan penampilan ke-9 sekaligus pemenang Pentas Seni Terbaik Bradanaya 2025, membagikan konsep mereka. œKami memadukan tari kreasi gabungan dengan modern dance. Kostum kami gabungkan antara kebaya tradisional dan pakaian modern untuk menunjukkan harmoni budaya dan gaya kekinian, jelas Aurelia.
Tim lintas prodi ini membawakan tari kreasi gabungan, seperti Kecak, Tor Tor, Cublak Suweng, Ampar-Ampar Pisang, Rasa Sayange, dan Saman Aceh. Mereka juga menampilkan elemen modern seperti JKT48, dance TikTok, KPop, serta lagu œDokter Cinta dan œWhat is Love? dari Twice.
œLatihan singkat, tapi chemistry tim langsung kuat. Kami berusaha tampil profesional dan membagikan energi positif lewat gerakan, senyuman, bahkan hadiah permen untuk penonton, tambah Aurelia.

Perwakilan peraih awarding kategori Kelompok Terbaik Bradanaya 2025. (Foto: Dok. Divisi PDD Bradanaya 2025)
Peraih Awarding
Yudhistira Argatirta dari Prodi Bahasa dan Sastra Inggris sebagai Putra Terbaik Satyamuda 2025, mengaku bersyukur. œAku nggak nyangka bisa menang karena banyak teman-teman lainnya yang lebih hebat, tapi aku memang aktif selama sesi diskusi, itu mungkin jadi nilai tambah, ujarnya.
Selain itu, Puja Anggita Alvianida sebagai Putri Terbaik Satyamuda 2025 juga berbagi cerita. œAku kaget waktu namaku disebut, tapi memang aku berusaha serius dalam penugasan dan diskusi forum. Ini langkah awal yang membanggakan, kata Puja.
Lalu, Ganis Dita Violina dari Prodi Bahasa dan Sastra Jepang, sebagai perwakilan Kelompok Terbaik, yakni Kelompok 10 Baudrillard, menilai bahwa kekompakan jadi kunci sukses kelompoknya. œKami saling mendukung dan berusaha memberikan yang terbaik untuk kelompok, ungkapnya.
Terakhir, untuk kategori busana, Baju Adat Terbaik Putra diraih oleh Dodik Kharisma Fariz dari Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang, sedangkan Baju Adat Terbaik Putri dimenangkan oleh Fahra Azkia Munawarah dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris.
Keberlangsungan Awarding dan Penampilan Terbaik dalam acara Bradanaya 2025 ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education).
Penulis: Gustyosih Chesta Pramesti
Editor: Fania Tiara Berliana Marsyanda




