Dokumentasi Kegiatan Mengabdi dari Hati untuk Yayasan Suara Hati (Dok. Istimewa).
FIB NEWS – Himpunan Mahasiswa () Fakultas Ilmu Budaya () 51动漫 (UNAIR) telah mengadakan pengabdian masyarakat yang bertajuk Mengabdi dari Hati untuk Yayasan Suara Hati. Kegiatan itu berlangsung pada Sabtu-Minggu (24-25/5/2025) di Yayasan Suara Hati, Sidoarjo, Jawa Timur.
Membangun Nalar Kritis Melalui Kisah Inspiratif
Dika Prestiawan, S.Hum, selaku Ketua HIMA LINGUA, menjelaskan tema dari acara tersebut adalah Storytelling for Critical Thinking. Perwakilan HIMA LINGUA dengan baik membawakan kisah Yusuf, seorang anak dari Gaza yang gigih berjuang meskipun menghadapi keterbatasan fisik dan kehilangan keluarga akibat konflik.
Kisah Yusuf yang memilih menjadi jurnalis untuk menyuarakan kondisi di tanah kelahirannya, menjadi cerminan nyata dari semangat pantang menyerah. Kisah tersebut bertujuan memicu pemikiran kritis para peserta dari Yayasan Suara Hati yang terdiri dari berbagai jenjang, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Selain kisah Yusuf, ada juga cerita tentang tiga burung dengan sifat berbeda. Kedua cerita tersebut memiliki nilai-nilai moral dan pelajaran hidup. “Jadi yang dimaksud dengan storytelling yaitu kami memberikan sebuah cerita kepada mereka, mereka menanggapi, dan berdiskusi,” tambah Dika. Setelah sesi tersebut ada juga worksheet, yaitu para peserta menuliskan kembali apa yang telah mereka dengar.
Keterbatasan Bukan Penghalang
Salah satu aspek yang menarik adalah nilai inklusi dalam HIMA LINGUA. “Intinya saya sebagai ketua HIMA ingin HIMA LINGUA ini lebih inklusi, kami menerima semua pihak,” tegas Dika.
Ketua HIMA tersebut mengungkapkan bahwa tim HIMA LINGUA sendiri memiliki anggota disabilitas yang turut aktif dalam acara tersebut. Kehadiran peserta disabilitas dari Yayasan Suara Hati, termasuk seorang anak yang tidak bisa melihat juga semakin memperkuat pesan tersebut.
“Kami ingin sampaikan bahwa keterbatasan itu bukan sebagai sesuatu yang negatif, tapi bisa dirubah sebagai sesuatu yang positif, sehingga mereka bisa berjuang untuk menggapai cita-citanya, ucap Dika.
Selain sesi storytelling, acara tersebut juga memberikan ruang untuk menampilkan bakat dan karya. Aktivitas itu bukan sekadar hiburan, melainkan panggung bagi mereka untuk mengasah keberanian dan kepercayaan diri. “Kami juga memberikan kepada anak-anak Yayasan untuk membuat sebuah karya. Ada yang membaca puisi, bernyanyi, buat cerita, story telling, menggambar, dan mewarnai,” jelas Dika.
Motivasi dan Harapan
Alasan memilih Yayasan Suara Hati sebagai lokasi pengabdian juga sangat menyentuh. Mayoritas anak-anak di Yayasan tersebut merupakan yatim, piatu, atau yatim piatu. Selain secara latar belakang keluarga, dari segi ekonomi dan finansial juga terbatas, tidak sama seperti anak-anak yang lain.
HIMA LINGUA berharap dapat berbagi ilmu, semangat, dan perhatian supaya anak-anak itu bisa meraih cita-citanya. “Kami ingin memberikan kontribusi yang kuat bahwa anak-anak tersebut menjadi salah satu tujuan kami untuk mereka bisa memperoleh pendidikan dan ilmu. Sama halnya seperti anak-anak lain yang memiliki orang tua utuh,” tegas Dika.
Kegiatan Mengabdi dari Hati untuk Yayasan Suara Hati yang diselenggarakan oleh HIMA LINGUA ini mendukung SDGs poin ke-4, yaitu Quality Education (Pendidikan yang Berkualitas).
Penulis: Ainnur Ayu Nanda Agustin
Editor: Selly Imeldha




