51动漫

51动漫 Official Website

Konferensi Internasional MKSB Hadirkan Pembicara Lintas Benua

Ketua HIMA MKSB, Dekanat, dan Speaker dalam International Conference Cultural Studies Research

Penulis: Lady Khairunnisa Adiyani | Editor: Muhamad Rohman Obet

, , 51动漫 menyelenggarakan Konferensi Internasional pada Kamis, (6/6/2024) secara daring melalui Zoom Meeting. Konferensi ini menghadirkan pembicara utama yang terkenal dari berbagai belahan dunia untuk berbagi perspektif mengenai kajian budaya. Terdapat Dr. Freek Colombijn dari Vrije Universiteit Amsterdam, Jaeshil Kim MA PhD dari Liberty University USA, serta Antonio Guerra Arias PhD dari Universidad Aut贸noma de Chihuahua.

Keberagaman Budaya di Indonesia 

Dr. Jaeshil Kim, salah satu pemateri lintas benua, menyatakan bahwa keragaman di Indonesia merupakan harta budaya yang sangat bernilai dan menjadi salah satu daya tarik utama negara ini. Keragaman ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti bahasa, tradisi, dan seni. Jaeshil menggunakan metafora “Sayur Lodeh” untuk menggambarkan keragaman di Indonesia.

Sayur lodeh, dengan berbagai bahan seperti kacang panjang, terong, tempe, santan, dan rempah-rempah, melambangkan filosofi nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia. Beragamnya bahan ini mencerminkan keanekaragaman budaya dan tradisi di Indonesia. Seperti bahan-bahan dalam sayur lodeh yang menyatu, masyarakat Indonesia diharapkan bisa hidup bersama dengan harmonis dan saling menghormati satu sama lain.

Studi Wayang Kulit

Wayang Kulit tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan untuk hiburan semata, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai luhur masyarakat seperti gotong royong, kesopanan, dan penghormatan terhadap leluhur.

Karena itu, wayang kulit sering menjadi subjek penelitian bagi para peneliti dan budayawan. Mereka mengeksplorasi tidak hanya sejarah dan perkembangan wayang kulit, tetapi juga nilai-nilai filosofis, religius, dan sosial yang terkandung di dalamnya.

Hal ini juga merupakan fokus penelitian Dr. Antonio Guerra Arias, salah satu pembicara dalam konferensi internasional MSKB. Antonio tertarik mempelajari perbedaan antara wayang bayangan dari Tiny Mexico dan wayang kulit Indonesia. Kedua tradisi pertunjukan seni ini memiliki banyak kesamaan dalam teknik pementasan, cerita, dan makna yang disampaikan, namun berbeda dalam bahan pembuatan. Wayang bayangan dari Tiny Mexico biasanya dibuat dari kertas tipis yang dipotong dan dihias, sementara wayang kulit Indonesia dibuat dari kulit hewan yang diukir.

Antonio menyatakan bahwa penelitiannya tentang wayang kulit bertujuan untuk mempelajari teknik-teknik pementasan wayang kulit dan melakukan analisis etno-dramatis. Setiap gerakan wayang, pengucapan dialog, hingga pemilihan lakon atau cerita mengandung pesan-pesan tersembunyi. 淪elain itu, saya juga tertarik dengan transfer pengetahuan antara teknik tubuh dari wayang kulit dengan wayang bayangan Tiny Mexico. Hal ini bisa menjadi angin segar bagi kajian budaya, jelas Antonio.

AKSES CEPAT