51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mengenal Suroan Melalui Kacamata BSO Pakarsajen

Anggota BSO Pakarsajen Pada Acara Suroan 2025

FIB NEWS “ Tradisi Suroan tentunya sudah tak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat suku Jawa. BSO Pakarsajen 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) turut merayakan acara kebudayaan ini dengan menggelar tradisi sakral pada setiap tahunnya. Bukan hanya sekedar ritual tahunan, peringatan bulan Suro juga menjadi kegiatan penting bagi anggota Pakarsajen untuk melestarikan budaya Jawa yang merupakan warisan turun-temurun ini.

œBulan suro ini kami anggap sebagai bulan yang baik untuk mendapatkan wahyu. Nguri uri budaya dan pembersihan diri dari segala sifat buruk dan lain-lain. Kalau di Pakarsajen kita melakukan pembersihan di gamelan dan wayang, tutur Wiwit Widiati, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2023 sebagai ketua BSO Pakarsajen.

Dari Pembersihan Gamelan ke Jamasan Keris

Kegiatan utama BSO Pakarsajen untuk memperingati bulan Suro adalah Jamasan, yaitu ritual pembersihan gamelan sebagai simbol pembersihan diri. Ritual tersebut terus berkembang selama beberapa periode. Jamasan yang tadinya hanya berfokus pada gamelan, kini terdapat juga inventarisasi dan pembersihan wayang, serta bersih-bersih ruang kesenian.

œSejak 2011 sudah ada ritual pemandian gong gede dan sesajen. Mulai di tahun 2024 kemarin dan berlanjut sekarang, kami ada tambahan jamasan keris dari koleksi Museum Sejarah FIB UNAIR, jelas Wiwit.

Selain jamasan, BSO Pakarsajen juga menggelar sembahyangan atau unjuk dungo, yakni ritual doa dengan sesaji lengkap sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan. Para anggota melakukan ritual ini secara khusus dengan menyiapkan sesaji lengkap, yang secara simbolis mereka tujukan kepada alam dan Tuhan.

Tantangan di Tengah Modernitas

Bagi sebagian masyarakat khususnya generasi muda, kegiatan budaya seperti ritual Suroan kadang masih dianggap asing atau bahkan kuno. Menurut Wiwit, pergeseran cara pandang terhadap religiusitas di zaman modern menjadi salah satu penyebabnya. Namun, bagi Pakarsajen, tradisi Suroan ini tetap memiliki makna yang relevan dengan keadaan saat ini.

œIbaratnya kita punya koleksi barang itu untuk dirawat dan dijaga dengan ritual budaya yang ada. Jadi selain kita nguri uri budaya tuh juga memahami dan melestarikan, serta memperbaiki pola pikir agar seimbang untuk menghargai aja di sebagian tempat, ungkapnya.

Menjaga Tradisi untuk Generasi Mendatang

Bagi BSO Pakarsajen, prosesi Suroan dalam budaya Kejawen bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi bentuk nyata pelestarian warisan leluhur yang kaya akan makna. Tak hanya sebagai warisan, budaya juga dapat menjadi alat yang sangat kuat untuk menjaga harmoni dan persatuan.

œKita percaya kalau budaya itu senjata terkuat untuk menjaga keharmonisan dunia, apalagi yang namanya budaya itu pasti berkaitan dengan unsur seni dimana seni itu dapat menyatukan sesuatu yang berbeda, jelas Wiwit.

Terakhir, Wiwit mengungkapkan harapan besarnya terhadap generasi-generasi mendatang agar tidak hanya mengenal, tetapi juga melestarikan tradisi Kejawen lainnya.

œSemoga tetap selalu kita lestarikan dan kenalkan kepada generasi generasi mendatang dan menunjukan bahwa begini loh budaya kejawen kita. Ada yang namanya prosesi ritual dan sebagainya. Tetapi, tetap dengan percaya agama masing-masing. Yang paling penting tidak melupakan budaya aja, tutupnya.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Quality Education.

Penulis: Pudja Safana Dwi Putri

Editor: Nadia Azahrah Putri

AKSES CEPAT