UNAIR NEWS Kesempatan belajar di luar negeri menjadi pengalaman berharga bagi Muhammad Dhiyaul Faizin, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris angkatan 2022 51动漫 (UNAIR), yang berhasil mengikuti program student exchange di , Korea Selatan.
Faizin mengungkapkan bahwa ia mengetahui program tersebut melalui pencarian informasi secara mandiri dari platform internasional. Tanpa proses yang terlalu rumit, ia memberanikan diri untuk mendaftar hingga akhirnya dinyatakan lolos bersama belasan mahasiswa lainnya.
Adaptasi Lingkungan Baru Jadi Tantangan Utama
Selama menjalani program exchange, Faizin menilai tantangan terbesar bukan terletak pada akademik, melainkan proses adaptasi terhadap lingkungan baru. Perbedaan sistem belajar, budaya, hingga cara berinteraksi menjadi hal yang harus ia pelajari sejak awal. Ia juga harus beradaptasi dengan lingkungan internasional yang sangat beragam. Kampus tempatnya belajar saat ini menerima mahasiswa dari berbagai negara, seperti Kazakhstan, India, Prancis, hingga negara-negara Asia Tenggara.
淒i sini saya bertemu banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Itu jadi pengalaman baru yang sangat berkesan bagi saya, ungkapnya.
Perbedaan Sistem Akademik dan Budaya Belajar
Dari segi akademik, Faizin melihat adanya perbedaan budaya belajar yang cukup signifikan. Ia menyoroti tingginya etos belajar mahasiswa di Korea Selatan yang terlihat dari aktivitas di perpustakaan yang hampir tidak pernah sepi, bahkan hingga larut malam. Menurutnya, suasana belajar tersebut menunjukkan tingkat kedisiplinan dan fokus yang tinggi dari para mahasiswa dalam menjalani perkuliahan.
Selain itu, sistem pembelajaran juga lebih banyak menekankan pada diskusi kelompok dan partisipasi aktif mahasiswa di kelas. Interaksi antara dosen dan mahasiswa berlangsung cukup dinamis, sehingga mendorong mahasiswa untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Pengalaman Berharga di Luar Zona Nyaman
Lebih dari sekadar kegiatan akademik, Faizin merasakan bahwa program exchange ini membawanya keluar dari zona nyaman dan membuka perspektif baru dalam melihat dunia. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga, mulai dari bertemu orang-orang baru, menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, hingga belajar memahami dirinya sendiri.
淜etika kita berani mencoba dan menempatkan diri di lingkungan baru, pengalaman itu akan datang dengan sendirinya, ujarnya.
Selama berada di Korea Selatan, Faizin juga merasakan perubahan dalam dirinya, terutama dalam hal keterbukaan terhadap hal-hal baru. Ia menjadi lebih berani mencoba pengalaman baru, termasuk dalam hal budaya, makanan, maupun interaksi sosial. Menurutnya, pengalaman ini mengajarkan bahwa proses belajar tidak selalu terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui interaksi dan pengalaman sehari-hari.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





