FIB NEWS – (FIB) 51动漫 melalui kembali menghadirkan kegiatan akademik yang memperkaya wawasan mahasiswa. Pada 11 November 2025, departemen menyelenggarakan kuliah tamu bertema 淒oing Literature Review in the Humanities and Social Sciences yang berlangsung di Ruang Chairil Anwar, FIB UNAIR. Kegiatan ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Dyah Pitaloka dari Monash University Malaysia sebagai narasumber utama.
Kuliah tamu ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai teknik menyusun literature review yang efektif, khususnya bagi mahasiswa di bidang ilmu humaniora dan ilmu sosial. Dalam pemaparannya, Dr. Dyah menjelaskan bahwa literature review bukan hanya sekadar daftar bacaan penelitian terdahulu, melainkan proses akademik yang sistematis dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa literature review memiliki dua peran utama: sebagai proses dan sebagai produk.
Sebagai produk, literature review merupakan tulisan yang tersusun secara kritis, mencakup analisis, interpretasi, dan sintesis terhadap berbagai sumber yang relevan dengan topik penelitian. Literature review membantu peneliti memahami apa yang sudah diketahui, pendekatan apa yang telah digunakan, serta celah penelitian yang masih dapat dikembangkan. Sebagai proses, literature review bersifat iteratif, yakni dilakukan secara berulang melalui pencarian, pembacaan, penelusuran, serta pencatatan referensi secara sistematis.
Dalam sesi penjelasannya, Dr. Dyah menguraikan enam tahapan penting dalam mengembangkan literature review, yakni: menentukan tujuan, memetakan bidang kajian, membaca secara kritis, melakukan sintesis, membangun argumen, serta menulis dan merevisi. Menurutnya, literature review yang baik harus mampu menunjukkan bagaimana suatu bidang keilmuan berkembang serta di mana posisi penelitian yang sedang dikerjakan.
Dr. Dyah juga menggarisbawahi perbedaan mendasar antara merangkum dan mensintesis. Merangkum hanya menyajikan kembali berbagai penelitian secara terpisah, sementara sintesis menghubungkan dan membandingkan argumen antarpeneliti sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Dengan metode ini, literature review dapat memberikan konteks yang kuat, evaluasi kritis, dan posisi akademik yang jelas dalam penelitian.
Selain itu, ia memperkenalkan konsep note-taking rule yaitu 1 ide, 1 kritik, 1 koneksi, yang membantu mahasiswa menyimpan informasi penting dan mengembangkan analisis kritis saat membaca sumber pustaka.
Menutup sesi kuliah, Dr. Dyah menegaskan bahwa literature review yang baik bukan sekadar cerminan dari penelitian-penelitian sebelumnya. Sebaliknya, literature review harus menghadirkan konstruksi pengetahuan baru melalui analisis kritis dan sintesis yang komprehensif.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari mahasiswa dan dosen yang hadir. Melalui kuliah tamu ini, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB UNAIR berharap mahasiswa semakin terampil dalam menyusun literature review sebagai fondasi penting dalam penulisan skripsi, tesis, maupun karya ilmiah lainnya. Kuliah tamu ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




