51动漫

51动漫 Official Website

Kegiatan Diskusi Rutin Mahasiswa PPDH dan Dosen di Laboratorim Kemajiran

Koasistensi PPDH di Laboratorium Kemajiran Divisi Reproduksi memainkan peran
penting dalam pembelajaran dan pengembangan keterampilan calon dokter hewan. Adapun
capaian dari kegiatan mahasiswa dalam laboratorium Kemajiran yakni dapat mendiagnosa serta
mengobat agangguan reproduksi hewan, khususnya hewan ternak.
Kegiatan yang dilakukan mahasiswa PPDH selama berada di Laboratorium kemajiran
yaitu diskusi rutin bersama dosen. Diskusi membahas seputar masalah kemajiran pada hewan
terutama ternak ruminansia. Tujuan utama dari adanya diskusi ini adalah untuk memperluas
wawasan dan memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai konsep-konsep kemajiran yang
aplikatif di lapangan. Selain itu, kegiatan ini juga melatih kemampuan berpikir kritis, analisis
ilmiah, dan komunikasi akademik mahasiswa, yang sangat penting untuk mendukung kesiapan
sebagai calon dokter hewan profesional.

Kegiatan diskusi diawali dengan pemaparan materi oleh dosen dan kemudian dilanjutkan
dengan sesi tanya jawab dari dosen kepada mahasiswa untuk mengukur seberapa jauh
pemahaman mahasiswa terkait materi yang telah disampaikan. Melalui diskusi ini, mahasiswa
didorong untuk aktif memberikan tanggapan dan menyampaikan opini. Dalam diskusi tersebut,
beberapa topik utama dibahas, antara lain acute puerperal metritis, endometritis, repeat
breeding, hipofungsi ovarium, penyakit reproduksi akibat agen infeksius (bakteri, virus, jamur,

dan parasit), kematian embrio dini, abortus, korpus luteum persisten, kista ovarium, serta
pyometra.
Acute Puerperal Metritis (APM) adalah peradangan akut pada uterus yang terjadi dalam
10 hari pasca-partus, ditandai dengan sekreta purulen, demam, dan penurunan kondisi umum.
APM disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Escherichia coli dan Trueperella pyogenes yang
masuk melalui saluran reproduksi terutama akibat distokia, prolaps uteri, retensio sekundinaria,
kelahiran kembar (terutama pada kasus freemartinism), dan endometritis kronis. Infeksi tersebut
menimbulkan stres oksidatif dan lipid peroxidation yang memperparah kerusakan jaringan.
Diagnosis APM dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan koleksi sekreta uterus menggunakan
irigasi NaCl atau povidone iodine 0,5%, metricheck, atau endoskopi. Terapi mencakup
pemberian antibiotik (penstrep, cefapirin), antiinflamasi (flunixin, meloxicam), oksitosin, dan
uterine flushing dengan Foley catheter, baik secara sistemik (parenteral) maupun intrauterin.
Kesembuhan ditandai dengan involusi uterus, hilangnya sekreta, serta kembalinya siklus estrus
dalam 6090 hari pasca-partus.
Endometritis adalah peradangan pada lapisan endometrium uterus yang umumnya
bersifat kronis dan terjadi pasca-partus, dimulai sekitar hari ke-21 hingga saat birahi, atau
minimal setelah involusi uterus berlangsung (6090 hari). Agen penyebab utama adalah bakteri
spesifik seperti Actinomyces pyogenes, dengan faktor predisposisi meliputi lingkungan yang
tidak higienis, nutrisi yang tidak memadai, serta faktor genetik. Secara klinis, ditandai oleh
keluarnya cairan mukopurulen dari vagina dan gangguan siklus estrus, sementara kasus subklinis
dapat dideteksi melalui sitologi atau teknik uterine cytobrush. Penanganan dilakukan dengan
pemberian antibiotik intrauterin seperti Oxytetracycline 20% atau Penstrep 20%, serta dapat
dibantu dengan pemberian hormon PGF2伪 untuk membantu pembersihan uterus.

Repeat breeding adalah kondisi reproduksi pada betina di mana kegagalan kebuntingan
terjadi setelah dilakukan inseminasi buatan sebanyak tiga kali atau lebih tanpa adanya kelainan
klinis yang jelas. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain waktu inseminasi
yang tidak tepat, kualitas semen yang rendah, infeksi subklinis, gangguan hormonal, stres
lingkungan, serta intoksikasi akibat zat antinutrisi seperti sianida dan mimosin. Penanganannya
meliputi evaluasi menyeluruh terhadap manajemen reproduksi dan lingkungan, serta dapat

disertai dengan pemberian terapi hormonal untuk mengatasi gangguan ovulasi atau
ketidakseimbangan hormonal.
Hipofungsi ovarium merupakan kondisi penurunan atau hilangnya fungsi ovarium yang
umumnya disebabkan oleh malnutrisi, terutama defisiensi protein, yang berdampak pada
penurunan sekresi hormon protein seperti GnRH, serta menurunnya produksi hormon FSH dan
LH. Kondisi ini menyebabkan tidak adanya aktivitas folikuler yang memadai sehingga terjadi
anestrus. Diagnosis ditegakkan melalui palpasi rektal atau pemeriksaan ultrasonografi untuk
menilai aktivitas ovarium. Penanganan dilakukan dengan pemberian terapi hormonal seperti
GnRH atau kombinasi GnRH dan PGF2伪 untuk merangsang aktivitas ovarium, disertai dengan
perbaikan nutrisi, termasuk penyediaan hijauan berkualitas, konsentrat tinggi protein, serta
mineral dan vitamin penting untuk kesuburan seperti vitamin A, D, E, dan K.
Penyakit reproduksi akibat agen infeksius dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur,
dan parasit yang menimbulkan gangguan serius seperti infertilitas, kematian embrio dini, dan
abortus. Agen bakteri seperti Brucella abortus, Leptospira spp., dan Campylobacter fetus sering
menyebabkan abortus dan penurunan tingkat kebuntingan. Infeksi virus, khususnya Infectious
Bovine Rhinotracheitis (IBR) dan Bovine Viral Diarrhea (BVD), merupakan penyebab utama
abortus virus pada sapi. Sementara itu, jamur seperti Aspergillus spp. dapat menimbulkan
abortus mikotik, terutama pada lingkungan yang lembap dan tidak higienis. Pada sisi lain, parasit
seperti Toxoplasma gondii dan Neospora caninum merupakan penyebab penting abortus pada
kambing dan sapi, yang kerap bersifat endemik di beberapa wilayah peternakan.
Kematian embrio dini merupakan kegagalan perkembangan embrio yang terjadi sebelum
hari ke-42 kebuntingan dan umumnya disebabkan oleh gangguan endokrin, infeksi pada uterus,
atau kelainan genetik. Sementara itu, abortus didefinisikan sebagai pengeluaran fetus dari uterus
sebelum mencapai usia viabel. Kedua kondisi ini berdampak signifikan terhadap efisiensi
reproduksi ternak, sehingga identifikasi penyebab abortus menjadi langkah krusial dalam strategi
pengendalian dan pencegahan penyakit reproduksi di tingkat peternakan.

Corpus Luteum Persisten (CLP) terjadi ketika korpus luteum bertahan lebih dari satu
siklus birahi, biasanya disebabkan oleh kondisi patologi uterus seperti endometritis, pyometra,
kematian embrio atau fetus, serta maserasi atau mumifikasi fetus. Secara klinis, CLP tidak
menunjukkan gejala birahi karena korpus luteum yang terus memproduksi progesteron

menyebabkan umpan balik negatif pada hipotalamus, sehingga sekresi GnRH terhambat.
Diagnosis dapat dilakukan melalui palpasi rektal, meskipun untuk pemeriksaan lebih akurat
dibutuhkan pengalaman klinis yang cukup. Pengobatan utama meliputi pemberian PGF2伪 untuk
menginduksi luteolisis, serta penanganan penyebab yang mendasari, seperti endometritis atau
infeksi lainnya.
Kista ovarium adalah benjolan berisi cairan yang dapat terbentuk pada ovarium, dan
terbagi menjadi beberapa jenis, yakni kista folikel, kista luteal, dan kista korpus luteum. Kista
folikel terjadi ketika folikel tidak mengalami ovulasi, ditandai dengan folikel berdiameter lebih
dari 25 mm yang bertahan lebih dari 10 hari, menyebabkan peningkatan estrogen yang mengarah
pada nimfomania tanpa ovulasi. Penyebabnya adalah rendahnya LH, dengan FSH normal, dan
estrogen tinggi. Terapi untuk kondisi ini melibatkan pemberian hormon LH atau HCG
(Pregnyl庐), diikuti dengan progesteron untuk mengendalikan birahi dan mendukung kehamilan.
Kista luteal terjadi pada sapi menyusui, di mana prolaktin (LTH) tinggi dan LH rendah,
menyebabkan anestrus. Penanganannya menggunakan LH. Kista korpus luteum terjadi akibat
gangguan hormonal pasca-partus, di mana terdapat rongga berisi cairan di dalam korpus luteum.
Perbedaannya dengan corpus luteum persisten (CLP) adalah pada kista CL, PGF2伪 tidak dapat
meregresi CL karena terhalang oleh kista, sementara pada CLP, PGF2伪 tetap dapat bekerja.
Pengobatan kista CL melibatkan enukleasi manual dan terapi hormon seperti PMSG, GnRH, dan
progesteron, serta perbaikan BCS untuk mendukung kesuburan.
Secara keseluruhan, kegiatan diskusi rutin di Laboratorium Kemajiran sangat bermanfaat
untuk meningkatkan kualitas pendidikan mahasiswa PPDH, khususnya dalam memahami
penyakit reproduksi pada ternak. Diskusi yang mencakup berbagai topik penting seperti infeksi,
gangguan hormonal, dan masalah-masalah reproduksi lainnya memberikan landasan yang kuat
bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan ilmiah di dunia nyata. Dengan melibatkan
mahasiswa secara aktif, kegiatan ini juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan
sebagai calon dokter hewan profesional yang mampu mengatasi masalah kesehatan reproduksi
pada hewan dengan tepat dan efektif.

AKSES CEPAT