51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

GAGASAN BARU JAWA TIMUR SEBAGAI GERBANG BARU NUSANTARA

Berita UNAIR Pascasarjana, Minggu, 8 Desember 2024Surabaya, 7 Desember 2024, 51¶¯Âþ kembali menjadi pusat diskusi strategis melalui seminar bertajuk “Gagasan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara”. Acara ini mengundang Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak sebagai pembicara utama. Acara ini diselenggarakan oleh Ikatan Alummi 51¶¯Âþ yang berlangsung di Ruang Ujian Doktor Terbuka, Gedung Sekolah Pascasarjana, Kampus B 51¶¯Âþ ini mengupas potensi Jawa Timur dalam mendukung pembangunan nasional. Dalam seminar ini, Emil Elestianto Dardak hadir untuk memberikan presentasi mengenai peran strategis Jawa Timur.

Diskusi ini diawali dengan sambutan oleh Prof. Badri Munir Sukoco SE., MBA., Ph.D., Direktur Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ menyoroti peran kampus sebagai penghasil ide-ide segar yang bisa memberikan rekomendasi strategis bagi pemerintah. Beliau menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8,1 persen, sebagaimana disampaikan Presiden, tidak akan tercapai tanpa kontribusi signifikan dari Jawa Timur. “Rekomendasi gagasan dari kampus dapat membantu mendorong pencapaian target ini,” ujar Prof. Badri.

Sementara itu, Prof. Muhammad Nafik Kepala BPBRIN UNAIR yang mewakili Rektor 51¶¯Âþ menggambarkan Jawa Timur sebagai “Singapura-nya Indonesia,” yang berpotensi menjadi pusat transit dan pintu gerbang dunia internasional. “Kita bisa membayangkan bagaimana Jawa Timur menjadi pintu gerbang masuknya kekuatan ekonomi dan kebaikan untuk seluruh Nusantara,” ungkapnya. Beliau juga menambahkan bahwa meskipun 70 persen aktivitas ekonomi terpusat di Jawa, pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia bisa lebih tinggi. Hal ini membuat peran Jawa Timur sebagai penghubung menjadi semakin penting.

Dalam presentasinya, Wakil Gubernur Periode 2019 – 2024 Emil Elestianto Dardak memberikan gambaran komprehensif mengenai posisi strategis Jawa Timur dalam konteks nasional dan internasional.

Emil juga memaparkan visi besar untuk mencapai tujuan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Ia menegaskan pentingnya membangun rantai pasok industri yang lebih kuat melalui hilirisasi. “Kita harus mampu menghasilkan barang setengah jadi (intermediate goods) dari luar Jawa, mengolahnya di Jawa Timur, dan kemudian menjadikannya produk ekspor atau menjualnya di pulau Jawa sendiri,” ungkap Emil. Dengan pendekatan ini, Jawa Timur diharapkan dapat memperkuat posisinya sebagai pusat industri dan ekspor nasional.

Selain itu, Emil menyampaikan bahwa pengembangan energi bersih, mitigasi bencana seperti banjir, serta implementasi proyek strategis nasional hingga 2025 telah masuk dalam desain besar pembangunan Jawa Timur. “Semua langkah ini adalah bagian dari visi besar menuju Indonesia Emas 2045, di mana Jawa Timur akan memainkan peran kunci sebagai penggerak utama,” pungkasnya.

Seminar ini menjadi momen penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, 51¶¯Âþ sebagai pusat akademisi, dan masyarakat dalam mewujudkan visi besar menjadikan Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara melalui kolaborasi gagasan dan inovasi strategis.

Emil membandingkan aktivitas pelabuhan Tanjung Perak dengan Jakarta pada tahun 2022, di mana Jakarta menangani 6,4 juta kontainer internasional, atau sekitar 70 persen dari total kontainer internasional Indonesia. “Tanjung Perak sendiri telah menangani 3,6 juta kontainer, sebuah angka yang cukup besar dengan fokus utama pada wilayah timur Indonesia,” jelas Emil.

Lebih lanjut, Emil menekankan pentingnya Jawa Timur sebagai lumbung pangan dan pusat industri nasional. Sebagian besar pengolahan pangan di Indonesia terjadi di Jawa Timur, menjadikan provinsi ini sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional. Ia juga menyoroti Probolinggo sebagai salah satu kawasan strategis di Jawa Timur dengan garis pantai yang potensial untuk pengembangan lebih lanjut.

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, Emil menyoroti pentingnya mendorong pendapatan per kapita Jawa Timur dari angka saat ini sebesar USD 4.580 menjadi USD 8.000 untuk mendukung Indonesia mencapai status upper middle-income country pada tahun 2045. Mengenai interkonektivitas antara Jawa Timur dan Kalimantan Timur harus ditingkatkan untuk menciptakan persaingan sehat, terutama dengan adanya proyek-proyek strategis nasional di Kalimantan.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT