Di tengah riuh rendah transformasi industri kreatif tanah air, sebuah nama muncul membawa misi akademik ke Kanada. Diffa Shalavy, mahasiswa program magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Industri Kreatif Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR), berhasil menembus seleksi ketat program Canada-ASEAN SEED.
Melalui skema kolaborasi riset university-to-university (U2U), Diffa menjalankan penelitian bersama klaster Business and Social Sciences di Dalhousie University, Nova Scotia, Canada. Kolaborasi ini menjadi ruang akademik lintas negara yang mempertemukan perspektif Indonesia dan Kanada dalam melihat masa depan industri kreatif berbasis komunitas.
Bukan sekadar mengejar gelar, Diffa membawa satu kegelisahan akademik: bagaimana storytelling dapat berfungsi sebagai mesin pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar etalase promosi destinasi.
Melampaui Sekadar Branding
Program Canada-ASEAN SEED yang didanai Pemerintah Kanada ini merupakan skema kolaborasi riset university-to-university (U2U). Bagi Diffa, risetnya mengenai industri wine tourism di Wolfville memiliki urgensi yang berkelindan dengan kondisi di Indonesia.
“Selama ini, storytelling sering dipersepsikan hanya sebagai strategi pemasaran destinasi. Padahal, narasi tentang budaya, lanskap, dan sejarah itu lahir dari masyarakat. Seharusnya cerita itu memberdayakan pemiliknya, bukan sekadar ‘dijual’ untuk kepentingan branding semata,” ujar Diffa saat diwawancarai.
Menurutnya, Indonesia yang masa depan ekonominya bertumpu pada kreativitas dan identitas lokal sangat membutuhkan sistem pengelolaan pengetahuan yang mumpuni. Jika dikelola sebagai sistem pembelajaran, industri kreatif tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat kapasitas sosial-kultural masyarakat.
Ekosistem Kolaboratif di Sekolah Pascasarjana UNAIR
Keberhasilan Diffa menembus standar akademik internasional tidak lepas dari gemblengan di almamaternya. Sekolah Pascasarjana UNAIR, yang memposisikan diri sebagai School of Collaborative Leadership, menjadi kawah candradimuka yang relevan.
Diffa menyebutkan bahwa mata kuliah seperti Big Data dan Strategi Kreatif hingga Kota dan Komunitas Kreatif memberikan kedalaman konseptual bagi proposal risetnya. Di sini, ia belajar melihat industri kreatif sebagai ekosistem kompleks yang melibatkan ruang publik, teknologi, dan strategi global.
Dukungan penuh dari para mentor di UNAIR, seperti Prof. Dian Yulie Reindrawati, S.Sos., M.M., Ph.D., Prof. Dr. Nuri Herachwati,Dra.Ec., M.Si., M.Sc. dan Prof. Dr. Rudi Purwono, SE., M.SE. dan Koordinator Program Studi S2 Pengembangan Sumber Daya Manusia Dr. Nur Ainy Fardana Nawangsari, M.Si., Psikolog. diakui Diffa sebagai faktor krusial. “Dukungan akademik dan moral dari mereka membentuk kesiapan saya untuk memenuhi standar tinggi pemerintah Kanada,” tambahnya.
“Yang membuat kita setara dengan mahasiswa dunia bukan tempatnya, tetapi kualitas gagasan dan kesiapan kita untuk bertumbuh. Ungkap Diffa Shalavy
Mengapa Wolfville?
Pilihan Diffa jatuh pada Wolfville, Nova Scotia, bukan tanpa alasan. Wilayah ini berdiri di atas tanah tradisional masyarakat adat Mi檏maq yang memiliki ikatan spiritual dengan alam. Selain itu, warisan budaya Acadian (keturunan Prancis abad ke-17) masih kental terasa.
Di sana, wilayah rural bertransformasi menjadi pusat wisata lewat pemanfaatan lahan pertanian yang kreatif. Karakter produknya dipengaruhi oleh Bay of Fundy dengan pasang surut tertinggi di dunia. “Produk kreatif di sana lahir dari relasi antara manusia, sejarah, dan alam. Ini laboratorium yang tepat untuk mempelajari pemberdayaan berbasis komunitas,” urai Diffa.
Pesan untuk Ksatria Airlangga
Menutup perbincangan, Diffa menekankan bahwa strategi utamanya menyelaraskan diri dengan standar akademik Kanada adalah melalui critical thinking dan ketajaman analisis. Pendekatan multidisiplin攅konomi, psikologi, dan budaya攜ang ia dapatkan di UNAIR menjadi modal kuat untuk masuk ke diskursus global.
Bagi rekan-rekan mahasiswa yang masih ragu melanjutkan studi S2, Diffa menitipkan pesan penyemangat.
“S2 bukan sekadar gelar, tetapi proses membangun kapasitas berpikir dan jejaring. Pintu internasional terbuka lebar bagi mereka yang siap secara kompetensi dan mentalitas. Jangan ragu, karena peluang seperti kolaborasi internasional bukanlah sesuatu yang jauh jika fondasi akademik kita bangun dengan serius,” pungkasnya optimis.




