51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Abses Otak pada Pasien Penyakit Jantung Bawaan yang Jarang Terjadi dengan Tetralogy of Fallot (Tof)

Abses otak merupakan penyakit yang jarang terjadi namun berpotensi fatal dalam infeksi parenkim otak pada 5%-18,7% populasi dengan Penyakit Jantung Bawaan. Adapun factor risiko primer adalah persisten hipoksia, yang menyebabkan polisitemia, hiperviskositas, dan inang imunitas yang kurang memadai. Abses otak yang terjadi pada pasien dengan sianotik Penyakit Jantung Bawaan secara umum terjadi fallot tetralogi (TOF).

Perwujudan kecacatan tersebut berupa stenosis pulmonal atau penyumbatan aliran keluar ventrikel kanan, defek septum ventrikel, aorta yang menimpa, dan hipertrofi ventrikel kanan. Tetralogy of Fallot (TOF) biasa terjadi pada anak yang terkena cyanotic congenital heart disorders (CCHD). Penyakit tersebut dapat mempengaruhi Penyakit ini mempengaruhi hingga sepersepuluh dari semua lesi jantung bawaan dan terjadi pada tiga dari setiap 10.000 kelahiran.

Adanya CCHD pada pasien memiliki dampak pada perkembangan abses otak. Meskipun secara epidemiologi kelainan otak yang berkaitan dengan CCHD banyak terjadi di kelompok umur anak, namun juga terjadi pada orang dewasa, yang dampaknya dapat mengganggu produktivitas. Hal ini dibuktikan dengan laporan kasus pada penelitian Mikaningtyas, Lefi, dkk. 2023.

Dalam menentukan diagnosa pada pasien subjek laporan kasus penelitian Mikaningtyas, Lefi, dkk. 2023., diperlukan beberapa pemeriksaan. Mulai dari penaelaahan anamnesis, dan riwayat penyakit pasien, keluhan pasien pada penyakit ini adanya penurunan kesadaran secara bertahap selama 2 minggu, tidak bisaberkomunikasi verbal, hanya dapat merangsang nyeri dengan membuka mata, dan riwayat penyakit pasien terdapat TOF sejak muda yang tidak pernah diperiksa klinis.

Adanya riwayat TOF, diperlukan ekokardiografi transthoracic, sehingga menghasilkan Double Outlet Right Ventricle (DORV), VSD Subaortic bidirectional shunt, katup PS yang parah, diagnosis ASD kecil yang berbeda dengan Patent Foramen Ovale (PFO), trikuspid prolaps dengan TR sedang-parah, dugaan arteri kolateral aortopulmonalis mayor (MAPCA).

Pasien telah berupaya untuk memeriksakan diri di Rumah Sakit sebelumnya, hasil dari CT-Scan cukup mengkhawatirkan, karena ditemukan beberapa edema otak secara massif. Lalu, selama 3 hari perawatan di Rumah Sakit setelah dilakukan MRI. MRI merupakan golden standart dalam diagnosis abses otak, dan hasilnya pasien didiagnosis multiple abses otak dengan trombosis sinus transversal. Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan lab, CT-Scan, dan MRI diagnosa tidak hanya multiple abses otak, namun diperparah dengan adanya faktor TOF.

Diagnosis dan penanganan yang terlambat dapat memperparah penyakit primer, dan dapat meningkatkan kompleksitas penyakit. Hal ini dapat berisiko pasien mengalami kematian, terdapat 27,5% hingga 71% terjadi mortalitas akibat keterlambatan penanganan penyakit multiple abses otak. Adapun terapi yang diperlukan  adalah perawatan intensif, dengan diberikan infus 1000cc per 24 jam, metamizole injeksi setiap 8 jam, omeprazole injeksi setiap 12 jam, ceftriaxone 2 gram injeksi setiap 12 jam, metronidazole injeksi 500 mg setiap 6 jam, dexamethasone injeksi setiap 8 jam, dan diberi perencanaan obat antibiotic 6-8 pekan, lalu dievaluasi perkembangannya. Apabila terdapat perkembangan, dapat dipertimangkan operasi. Untuk pengobatan oral, pasien diberi propranolol 10 mg setipa 12 jam, dan ramipril 2,5mg setiap 12 jam dengan saran diet tinggi protein “ tinggi kalori 2100kka/hari per sonde.

Penulis: Mikaningtyas L, Sugianto P, Ardhi MS, Tripriyanggara A, Risqon N

Artikel dapat diakses di:

Mikaningtyas L, Sugianto P, Ardhi MS, Tripriyanggara A, Risqon N. Multiple brain abscesses with tetralogy of fallot (TOF): a case report. Bali Med J. 2023;12(3):2555“8.

AKSES CEPAT