51动漫

51动漫 Official Website

Acara NGOBRAS Kupas Peluang Beasiswa di Serbia

Sesi Diskusi dalam Acara Ngobras (Ngobrol Santai) melalui zoom meeting pada Jumat (7/4/2023). (Foto: Nopitasari)
Sesi Diskusi dalam Acara Ngobras (Ngobrol Santai) melalui zoom meeting pada Jumat (7/4/2023). (Foto: Nopitasari)

UNAIR NEWS – Kuliah gratis merupakan impian semua orang. Sejalan dengan hal itu, UNAIR bersama PPI Serbia dan Sahabat Beasiswa Surabaya menggelar acara Ngobras (Ngobrol Santai) yang bertajuk Tips Kuliah Gratis Sampai Lulus pada Jumat (7/4/2023). Acara ini mengundang Muhammad Jullyo Bagus Firdaus Master Student in International Politics University of Belgrade Serbia sebagai narasumber.

Pada kesempatan tersebut, Jullyo mengatakan bahwa ia bisa berkuliah di Serbia karena menerima beasiswa World in Serbia. Beasiswa tersebut merupakan beasiswa khusus untuk negara-negara Non Blok untuk jenjang S1/S2/S3.

淲aktu itu saya tidak sengaja mendapatkan info dari teman-teman sesama pejuang beasiswa, saya mencoba mencoba daftar dan akhirnya dapat disini. Untuk kuotanya mulai tahun saya itu sekitar 200 dari negara-negara Non Blok, salah satunya Indonesia tiap tahun hanya dapat empat kuota, jelasnya.

Persyaratan Beasiswa di Serbia

Selanjutnya, Jullyo menjelaskan bahwa usia maksimal untuk melamar beasiswa World in Serbia untuk jenjang S1 adalah 21 tahun, jenjang S2 adalah 26 tahun, dan jenjang S3 adalah 35 tahun. Ia juga menjelaskan persyaratan untuk mendaftar beasiswa yaitu CV, application form, language certificate dapat berupa IELTS atau TOEFL, motivation letter, statement of purpose, transkrip nilai, ijazah, paspor, dan sertifikat HIV.

淪eluruh beasiswa itu memiliki syarat umum yang hampir sama dan memiliki syarat khusus. Mereka meminta sertifikat HIV dan kesehatan yang berguna untuk menjadi pertimbangan, jelasnya.

Sistem Perkuliahan Di Serbia

Jullyo juga menjelaskan bahwa saat berkuliah di Serbia para mahasiswa wajib mengambil kursus bahasa Serbia selama enam bulan. Seluruh proses perkuliahan menggunakan bahasa Serbia.

淜husus untuk S1, semua pembelajaran menggunakan bahasa Serbia. S2 pun sebenarnya iya, tetapi beberapa kali saya mengirim email kepada dosen dan konsultasi mengenai riset mereka lebih suka menggunakan bahasa Inggris, jelasnya.

Jullyo menyampaikan bahwa model perkuliahan di Serbia sama seperti di Indonesia. Metode pembelajaran dilakukan dengan presentasi dan diskusi. Menurutnya pembelajaran di S2 lebih ringan dari pada S1 karena jumlah kelasnya tidak terlalu banyak.

淢enurut saya pembelajaran di S2 lebih ringan, karena waktunya tidak sebanyak S1 dulu. Kalau S1 berat banget, yang mana semua program studi terdapat kelas perkuliahan dan kelas praktik, ungkapnya.

Penulis : Nopitasari

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT