UNAIR NEWS – Pencegahan biorisk dalam kehidupan riset perguruan tinggi harus ditegakkan. Kegagalan penelitian laboratorium tanpa mitigasi dapat menimbulkan kerugian baik korban jiwa maupun penyebaran patogen. Perguruan tinggi sebagai basis riset harus memiliki pedoman terkait hal tersebut. Lewat hal tersebut, Airlangga Disease Prevention and Research Center-One Health Collaborating Center () menggelar Workshop Biorisk Management for Management and Leadership in 51 bagi pimpinan dan manajer di lingkungan UNAIR.
Kegiatan itu merupakan jalinan kerjasama 51 (UNAIR) lewat ADPRC-OHCC dengan Biosecurity Engagement Program (BEP) Kedutaan Besar Amerika Serikat yang terselenggara pada Rabu (13/9/2023) hingga Kamis (14/9/2023) di Ruang Sidang Kahuripan 301, 51. Secara langsung workshop dibuka oleh Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih MSi selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Investasi dan Community Development 51.
Komitmen Peningkatan Biorisk Management
Program Manager Biosecurity Engagement Program (BEP) Kedutaan Besar Amerika Serikat, Wahyuni Kamah memberikan komitmen untuk terus meningkatkan keamanan dan kapasitas bioscience dalam usaha kesehatan hewan, manusia, maupun lingkungan skala global. Laboratory biorisk management menjadi salah satu kunci keselamatan mendukung terciptanya keberhasilan riset kesehatan. Hal tersebut menjadi landasan dalam menghadapi isu kebocoran laboratorium yang telah menyebabkan wabah infeksius dalam kehidupan.
Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen dalam peningkatan penilaian risiko dan mitigasi ancaman biologis di laboratorium secara global, katanya.

Peran ADPRC-OHCC Sebagai Lembaga Pencegahan Biorisk
Koordinator ADPRC-OHCC, Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, drh mengungkapkan workshop yang berkolaborasi dengan BEP US Embassy tertuju kepada teknisi laboratorium untuk dapat memanajemen laboratorium secara baik dan benar. Acuan tersebut menjadi wujud penanganan risiko biologi yang disesuaikan pada level laboratorium yang ditetapkan. Program keamanan biorisk harus dilakukan secara termonitor dan terukur. Agar permasalahan yang terjadi dapat terevaluasi secara menyeluruh oleh lembaga laboratorium.
Hal ini menjadi yang luar biasa bagi kami bisa sharing pejabat pengambil keputusan yang menyangkut biorisk. Karena ini gak hanya menyangkut virus dan bakteri namun juga yang harus kita pikirkan keberlanjutan keamanan penggunaan kedepannya, ungkap peneliti Vaksin INAVAC tersebut.
Praktisi UNAIR terlatih oleh Sandia National Laboratory
Empat BRM Champion terpilih memaparkan materi terkait Introduction to laboratory Biosecurity. Mereka adalah yang merupakan 4 dari 5 civitas akademika UNAIR yang telah dilatih Sandia National Laboratory Amerika Serikat. Yaitu Prof Dr Fedik Abdul Rantam drh (Koordinator ADPRC-OHCC), Prof Mochammad Yunus drh MKes PhD (FKH UNAIR), Prof Dr Jola Rahmadhani drh MKes (FKH UNAIR), dan Laura Novika Yamoni SSi MSi phD (ITD UNAIR). Praktisi ahli tersebut memberikan materi di hadapan peserta yang hadir di tempat maupun melalui platform zoom meeting.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Feri Fenoria





