UNAIR NEWS- Pada Konvensi XXIX dan Temu Tahunan XXV , Presiden Joko Widodo mengaku kaget terkait data rendahnya rasio penduduk berpendidikan tinggi di Indonesia. Hanya 0,45% yang berhasil lulus S2 dan 0,02% untuk S3 dari total penduduk Indonesia. Hal tersebut disampaikan di Graha pada Senin (15/01/2024).
Kepada UNAIR NEWS (23/01/2024), Dr Tuti Budi Rahayu Dra M Si, dosen sosiologi, , 51动漫 (UNAIR), berikan tanggapan. Ia menjelaskan secara sosiologis bahwa rendahnya tingkat pendidikan tinggi di Indonesia memiliki dampak signifikan pada perkembangan ekonomi
Hambatan Pertumbuhan Ekonomi
Keterbatasan sumber daya manusia berpendidikan tinggi di Indonesia dapat menjadi hambatan untuk pertumbuhan ekonomi. Masyarakat berpendidikan rendah cenderung terbatas pada pekerjaan yang tidak membutuhkan kualifikasi tinggi. Tenaga kerja asing yang masuk untuk pekerjaan kelas menengah dan tinggi menunjukkan ketidaksetaraan akses terhadap peluang pekerjaan.
“Negara dengan tingkat perekonomian yang tinggi cenderung didorong oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berpendidikan tinggi,” ungkapnya.
Selanjutnya, Tuti menekankan bahwa faktor finansial menjadi kendala utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengakses pendidikan tinggi. Selain itu, aspek budaya seperti pandangan rendah terhadap pendidikan formal juga menjadi penyebab rendahnya partisipasi pendidikan tinggi.
“Pendidikan tinggi dianggap ‘barang‘ mewah karena hampir semua perguruan tinggi berkualitas di Indonesia tidak ‘dijual‘ dengan harga yang murah,” katanya.

Kesetaraan Akses
Dalam konteks ketidaksetaraan gender, Tuti menekankan bahwa rendahnya partisipasi perempuan dapat memengaruhi kesempatan kerja dan kualitas generasi mendatang. Pihaknya juga menyoroti peran penting kebijakan pendidikan dalam meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi.
“Kebijakan tidak hanya berupa program afirmasi, tetapi juga perlu mengatasi masalah ekonomi masyarakat dan menciptakan peluang pekerjaan bagi lulusan perguruan tinggi,” paparnya.
Terkait dengan inovasi dan kemajuan teknologi, Tuti menyimpulkan bahwa rendahnya partisipasi pendidikan tinggi memiliki dampak signifikan. Rendahnya partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya menjadi masalah pendidikan. Hal ini merupakan tantangan serius bagi kemajuan ekonomi dan perkembangan sosial di masa depan.
“Sumber daya manusia berkualitas dan berpendidikan tinggi menjadi pendorong utama inovasi dan kemajuan teknologi dalam konteks ekonomi global,” pungkasnya.
Penulis :
Editor: Nuri Hermawan
Baca Juga: Dua Paslon Presiden Sapa Ksatria Airlangga dalam Gagas RI





