Harapan baru muncul seiring dengan diperingatinya kesaktian pancasila. Tak lama harapan itu muncul, seketika digantikan oleh dukacita mendalam seperti aroma makanan yang menyeruak dan tak dapat diabaikan.
淏angkit Bergerak bersama Pancasila, tajuk kesaktian pancasila yang usai diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Tak melupakan peristiwa 30 September 1965, dimana para revolusioner merenggut nyawa mereka di lubang buaya, demi menolak ideologi komunis. Masa ini, tanggal 1 Oktober dikumandangkanlah, isinya tak jauh dengan pendirian Indonesia tak akan mengindahkan ideologi apapun, dan hanya berpatri pada ideologi pancasila.
Disusul dengan itu, euforia kesaktian pancasila juga dihiasi dengan pertandingan sepak bola. Pertandingan Liga 1, antara tim dengan atribut hiu dan buaya dengan tim berjulukan 淪ingo Edan berlaga di Gelanggang Kanjuruhan. Tak ada yang aneh awalnya, hanya ada hingar bingar disusul sorak sorai penonton yang mendukung ikon kesayangannya. Tentu saja, ini merupakan euforia yang dirindukan oleh para penggemar sepak bola di Indonesia, mengingat di setiap kuartal.
Sentimental menjadi Awal Mula Tragedi
Pertandingan sepak bola tak pernah tidak mengundang bermacam emosi. Perasaan gugup, tegang, dan sukacita pun memenuhi gelanggang yang terletak di kota Malang itu. Akan tetapi, siapa sangka, bahwa segala emosi yang terbendung itu menimbulkan ricuh antar supporter. Unggul satu skor di pihak persebaya, dengan total skor 2-3, merupakan awal mula sejarah mengerikan di tanah air terjadi. Berawal dari tim sepak bola Arema yang menunduk memohon maaf kepada para pendukungnya, turut mengundang kecewa beberapa pendukung Singo Edan ini.
Perilaku pendukung yang melakukan pencarian atas jawaban dari rasa jengkelnya, dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Dikutip dari pendapat Ahli Amerika Serikat, Lawrence Green, terdapat, diantaranya predisposing factor (faktor bawaan), reinforcing factor (faktor pendorong), dan enabling factor (faktor pendukung). Pada tragedi sepak bola di Malang ini, tak hanya didukung oleh reinforcing factor, tetapi faktor bawaan pun turut mengikuti.
Membuat seseorang otomatis mengambil sikap yang tidak pantas ketika ditempatkan pada suatu resiko merupakan ciri sifat dari predisposing factor. Selain rasa bersalah atas kekalahan yang harus disadap oleh tim Arema FC, kemarahan mewarnai diri pendukung atribut biru singa ini. Didukung dengan fakta bahwa tim pendukung bola sepak antara Persebaya dan Arema tak pernah akur, membuat stadion ini dipenuhi rasa ketidakadilan bagi tim yang menangis pilu tersebut.
Bunganya, satu persatu pendukung yang tak terima atas kekalahan ini bangkit dari tribun lalu menghampiri para pemain kesayangan mereka. Dengan praduga awal mereka hanya ingin memberikan pelukan rasa terima kasih, melemparkan gelanggang ini tetiba tak terkendali. Mereka yang turun berteriak, dan berluluh lantah menghantarkan para aparat yang mau tak mau harus mengambil tindakan keamanan. Namun, tak ada yang menyangka bahwa keamanan ini akan menjadi sesuatu yang sangat kelam.
(Gas) Air Mata Tak Terelakkan
Polisi keamanan serta TNI yang berjaga melindungi gelanggang tak kemudian pun panik dengan serangan tiba-tiba dari pendukung Arema FC. Sontak saja, terjadi kerusuhan antara kedua kubu ini. Tak mustahil juga, kebuasan para pendukung yang kalah ini membuat aparat keamanan refleks memberikan balasan yang lebih buas, mungkin dengan tujuan awal agar pemberontak segera tenang dan khilaf. Sangat disayangkan sekali bahwa perlakuan para aparat kepolisian ini memicu emosi para Aremania yang masih di tribun.
Jika terdapat kalimat yang bisa menggambarkan sekumpulan aremania ini, teringat kalimat yang dituturkan oleh Bobby Seale, 淐ara terbaik untuk melawan rasisme adalah dengan solidaritas. Meminjam dari perkataan diatas, perasaan solidaritas ini menyeruak keluar ketika melihat saudaranya mendapatkan perlakuan tak pantas dari aparat keamanan. Sontak saja, para Aremania yang awalnya terdiam di tribun, meloncat ke tempat dimana saudara mereka dihajar. Hal inilah yang tragedi yang menyeramkan sepanjang sejarah sepak bola di Indonesia.
Melihat segala halnya sudah tidak terkendali, para supporter yang telah meringkuk ke berbagai sisi, hingga penonton dari tribun yang juga tak tertanggulangi, membuat aparat keamanan tiba-tiba mengeluarkan gas air mata. Sungguh sangat disayangkan, tindakan gegabah para aparat ini membuat keruh suasana, bukannya membuat segalanya mereda.
menuliskan di pasal 19B yang mengatakan bahwa senjata api maupun gas pengendali massa tidak boleh dibawa atau dipergunakan. Entah dimana pikiran dan akal sehat yang dimiliki para aparat keamanan ini sehingga melemparkan gas air mata. Tak hanya ditimpuk menuju tengah lapangan, tetapi juga ke arah tribun, dimana masih banyak penonton yang terdiri dari anak-anak maupun orang tua masih disana.
Dikarenakan gas air mata yang terus dilontarkan ke seluruh sisi gelanggang, memicu ketakutan dan kepanikan supporter. Kepanikan ini sontak saja membuat penonton berdesakan ke arah pintu keluar, serta merasakan sesak pernafasan, saling injak-menginjak, dan penumpukan massa.
Kejadian massa ini menimbulkan banyak korban jiwa. Seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, dalam Live Streaming nya di Youtube, menuturkan sebanyak 129 jiwa meninggal dunia. Selain korban yang meninggal dunia, banyak korban yang mengalami luka parah dan dilarikan di rumah sakit. Presiden Jokowi pun membuat pernyataan agar Menteri Kesehatan beserta Gubernur Jawa Timur untuk senantiasa memonitoring korban.
Tak sampai disitu saja, Presiden Indonesia ini pun berharap bahwa ini tragedi terakhir yang terjadi di Tanah Air Indonesia. Beliau memberikan perintah kepada seluruh aparat negeri untuk mengusut tuntas kejadian Kanjuruhan ini. Selain itu, PSSI juga dengan tegas diminta untuk menghentikan Liga 1 hingga prosedur evaluasi dan keamanan tuntas.
Kesaktian Pancasila dan Duka
Kabar korban yang merenggut nyawa ini hinggalah sampai pada pagar rumah keluarganya. Air mata tangis tak bisa dihindarkan lagi, mengingat banyak dari mereka yang izin untuk melihat sepak bola, lalu kembali dengan hanya nama yang tersisa. Keterkejutan seakan-akan menyelimuti sanak keluarga saat itu. Menggantikan sukacita hari kesaktian pancasila.
Hari kesaktian pancasila sendiri diperingati sehari setelah peringatan G30S/PKI. Namun, peringatan gugurnya para pahlawan revolusi ini disusul dengan banyaknya korban yang gugur dalam Liga 1 Stadion Kanjuruhan ini. Indonesia yang awalnya menyambut dengan sukacita hari nasional ini, langsung tergantikan dengan perasaan duka yang mendalam. Kejadian Kanjuruhan ini merupakan tragedi terburuk kedua dalam sejarah sepak bola dunia.
Nilai-nilai pancasila dalam hari kesaktian pancasila sontak saja hilang. Dalam sila kedua yang berbunyi, 淜emanusiaan yang Adil dan Beradab, tak dihiraukan oleh para supporter tim yang mengalami kekalahan. Tak ada adab karena ketidakadilan yang dirasakan oleh para Aremania ini tidak mencerminkan sila kedua pancasila ini.
淏angkit Bergerak Bersama Pancasila, pemerintah yang membuat tema ini seolah-olah berharap dengan 渄imasaknya tema ini, akan membawa masyarakat Indonesia ke arah yang lebih beradab lagi. Sangat disayangkan, bahwa emosi, keegoisan, dan ketidakadilan yang dirasakan, merenggut harapan Indonesia seketika. Jadi, dimanakah kebangkitan pancasila itu sendiri? Apakah dengan kejadian ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sudah menghargai pancasila?
Penulis: Adistyaisah Maura FH (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)





