Bagi banyak orang tua baru, kelahiran bayi adalah momen penuh harapan dan kebahagiaan. Namun, beberapa hari setelah lahir, sebagian bayi mendadak menunjukkan warna kekuningan pada kulit dan bagian putih mata mereka. Inilah yang biasa disebut dengan “bayi kuning”, atau secara medis dikenal sebagai hiperbilirubinemia neonatal. Meski terlihat umum dan sering dianggap ringan, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi sangat serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Hiperbilirubinemia terjadi akibat penumpukan bilirubin dalam darah, suatu zat yang berasal dari pemecahan sel darah merah. Pada bayi baru lahir, terutama yang prematur, fungsi hati belum sempurna sehingga bilirubin sulit dikeluarkan dari tubuh. Bila kadarnya terlalu tinggi, bilirubin dapat menembus sawar darah-otak dan menyebabkan kerusakan otak permanen, kondisi yang dikenal sebagai kernikterus. Di sinilah fototerapi berperan penting sebagai terapi utama yang terbukti efektif untuk menurunkan kadar bilirubin.
Namun, tantangan besar masih dihadapi di lapangan. Banyak fasilitas kesehatan di Indonesia, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki akses ke alat fototerapi standar. Selain itu, alat-alat tersebut umumnya berukuran besar, memerlukan daya listrik tinggi, serta membuat bayi terpisah dari ibunya selama perawatan. Ini tentu menjadi hambatan dalam praktik pemberian ASI eksklusif dan bonding ibu-bayi yang sangat penting pada masa neonatal.
Menjawab Tantangan: Lahirnya AirBiliNest
Melihat permasalahan tersebut, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ dan RSUD Dr. Soetomo mengembangkan sebuah inovasi alat fototerapi portabel yang diberi nama AirBiliNest. Berbeda dari alat konvensional, AirBiliNest dirancang dalam bentuk selimut tidur bayi (sleeping bag) yang dilengkapi dengan lampu LED biru khusus untuk fototerapi.
Keunikan dari AirBiliNest terletak pada desainnya yang menyatu dengan tubuh bayi, sehingga terapi dapat diberikan tanpa memisahkan bayi dari ibunya. Bayi tetap bisa dipeluk, disusui, atau bahkan dibawa berpindah ruangan tanpa harus mematikan terapi. Selimut ini dilapisi bahan lembut dan ringan, dilengkapi dengan sensor suhu, serta dapat dikontrol melalui ponsel pintar melalui koneksi WiFi. Artinya, tenaga medis atau orang tua dapat memantau suhu dan intensitas cahaya hanya dari aplikasi yang terhubung.
Evaluasi Teknis: Aman, Efektif, dan Terkontrol
Dalam studi yang kami lakukan, AirBiliNest dievaluasi selama 48 jam penggunaan. Alat ini menunjukkan kontrol suhu yang stabil dan aman bagi kulit bayi. Kami menemukan bahwa intensitas cahaya yang dihasilkan mencapai standar internasional untuk terapi intensif (30 µW/cm²/nm) dan standar (10 µW/cm²/nm). Tidak ditemukan adanya kenaikan suhu yang membahayakan atau potensi efek samping lain selama uji coba berlangsung.
Studi ini juga menilai persepsi dari tenaga kesehatan terhadap alat ini. Sebanyak 32 responden dari berbagai latar belakang profesi menyatakan bahwa AirBiliNest mudah digunakan, nyaman bagi bayi, dan layak untuk diimplementasikan di fasilitas pelayanan kesehatan. Tidak hanya memberikan rasa aman, alat ini juga membantu memperkuat hubungan emosional antara bayi dan ibunya karena terapi bisa dilakukan sambil menggendong atau menyusui.
Lebih dari Sekadar Alat: Simbol Akses dan Kesetaraan
Inovasi ini bukan hanya soal teknologi medis, tetapi juga merupakan simbol akses dan keadilan dalam pelayanan kesehatan. Di banyak daerah di Indonesia, fototerapi masih menjadi layanan yang langka. Dengan alat yang lebih kecil, portabel, dan hemat daya, AirBiliNest membuka peluang pemanfaatan di puskesmas, klinik bersalin, hingga untuk perawatan rumah dalam kasus-kasus tertentu. Terlebih di era pasca-pandemi, pelayanan kesehatan berbasis rumah (home care) menjadi alternatif yang semakin relevan.
Secara ekonomi, AirBiliNest berpotensi menurunkan beban biaya rumah sakit dan orang tua. Dengan harga produksi yang lebih terjangkau dibandingkan alat impor, serta efisiensi energi yang lebih tinggi, alat ini bisa menjadi pilihan hemat tanpa mengorbankan efektivitas.
Menuju Implementasi Nasional
AirBiliNest saat ini telah memperoleh paten industri dengan nomor P00202102166. Namun, perjalanan alat ini masih panjang. Kami menyadari bahwa validasi klinis lebih lanjut, uji keamanan jangka panjang, dan penerapan dalam skenario klinis nyata secara luas masih diperlukan. Tantangan regulasi, distribusi, pelatihan tenaga medis, hingga dukungan dari pemerintah dan pihak swasta menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi alat ini secara nasional.
Namun satu hal yang pasti: AirBiliNest telah membuktikan bahwa inovasi yang berakar dari kebutuhan lokal dapat memberikan solusi nyata bagi masalah kesehatan yang telah lama dihadapi masyarakat. Lebih dari itu, proyek ini juga membuktikan bahwa kolaborasi antara tenaga medis, peneliti, dan insinyur bisa melahirkan solusi lintas disiplin yang berdampak luas.
Penutup: Cahaya untuk Masa Depan Neonatal Indonesia
Inovasi seperti AirBiliNest adalah cerminan dari semangat tridarma perguruan tinggi ” pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di tengah keterbatasan sumber daya, ide sederhana dapat berkembang menjadi solusi berdampak luas.
Kami berharap AirBiliNest menjadi inspirasi bahwa kemajuan teknologi tidak harus rumit dan mahal, tapi cukup tepat guna, aman, dan mudah diakses. Karena pada akhirnya, setiap bayi Indonesia, di manapun ia lahir, berhak mendapatkan perawatan terbaik untuk memulai hidupnya.
Penulis: Mahendra Tri Arif Sampurna, dr., Sp.A.





