51

51 Official Website

Airlangga Critical Movement Bahas Meritokrasi dalam Demokrasi

Eddy Prastyo Pimpinan Redaksi Suara Surabaya saat memaparkan materi dalam ACM 2.0 (Foto: Istimewa)
Eddy Prastyo Pimpinan Redaksi Suara Surabaya saat memaparkan materi dalam ACM 2.0 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Kementerian Sosial dan Politik Badan Eksekutif Mahasiswa 51kembali menggelar seminar nasional. Seminar Airlangga Critical Movement 2.0 itu terselenggara pada Minggu (22/9/2024). Mengusung tajuk Disrupsi Demokrasi Indonesia: Masihkah sistem Merit Diperlukan?, seminar nasional ini berlangsung di Aula Ternate, ASSEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.

Kegiatan ini menghadirkan pemateri pilihan yang sesuai dengan tajuk acara. Terkait isu yang sedang mendapatkan sorotan, terutama jelang pemilihan kepala daerah (pilkada). Yakni sistem meritokrasi dalam demokrasi. Di antara pemateri yang berpartisipasi adalah Agatha Retnosari STM HP Anggota DPRD Jawa Timur 2014-2019 dan 2019-2024. Juga Eddy Prastyo Pimpinan Redaksi Suara Surabaya.

Pandangan Lembaga Legislatif

Sebagai perwakilan dari lembaga legislatif DPRD Jawa Timur, Agatha mengawali pemaparan materinya dengan definisi sistem merit. Dari paparannya, sistem meritokrasi adalah sebuah pendekatan dalam manajemen sumber daya manusia.

Dalam pengambilan keputusan, lembaga pemerintahan atau organisasi besar sering terapkan. Khususnya dalam perekrutan dan promosi berdasarkan kemampuan, keterampilan dan kinerja. Bukan berdasarkan faktor lain, seperti koneksi politik atau nepotisme. Intinya sistem ini bertujuan memastikan bahwa pembagian orang dalam jabatan, adalah yang sesuai dan memenuhi kriteria. Sehingga kompeten dan mendorong keadilan dan efisiensi, paparnya.

Menurut Agatha, dalam pelaksanaannya sistem merit mengalami tantangan dari segala aspek. Mulai dari dampak adanya perubahan teknologi, dinamika sosial dan aspek politik. Namun menurutnya, sistem merit masih relevan saat ini. Karena dengan sistem ini, bisa menilai kinerja seseorang secara objektif dan tidak bias, jelasnya.

Pandangan Media

Selanjutnya, Eddy Pimpinan Redaksi Suara Surabaya menyampaikan pendapatnya dari aspek media. Menurutnya sistem meritokrasi masih relevan, karena ada terdapat tujuan mencapai efektivitas, kredibilitas dan akuntabilitas pada kinerja seseorang.

Lebih lanjut ia menyampaikan, meritokrasi ini merupakan kebutuhan terutama pada industri media. Karena media saat ini harus berhadapan dengan Kita butuh orang terbaik, kreatif, bisa bersaing dan relevan dalam digital age, imbuhnya.

Menurutnya, sebuah perusahaan atau bahkan lembaga pemerintahan tidak hanya membutuhkan seseorang karena kemampuan atau nilai yang bagus saja. Namun penting untuk memperhatikan attitude. Orang dengan nilai tertinggi, akan kalah dengan orang yang punya attitude dan latar belakang yang baik, tuturnya.

Terakhir, Eddy menekankan bahwa saat ini dunia industri dan profesionalisme membutuhkan orang yang memiliki value dan attitude. Bagaimana kemampuan seseorang dalam decision making dan memberikan problem solver, tutupnya.

Penulis: Tsaqifa Farhana W

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT