UNAIR NEWS (UNAIR) menyelenggarakan Airlangga Forum bersama Koordinator Program Studi (KPS) bertajuk Makna Lebaran bagi KPS Sekolah Pascasarjana pada Jumat (28/3/2023). Acara itu berlangsung secara daring dan bekerja sama dengan Jatim Radio Network sehingga juga tersiar pada 30 jaringan radio di Kota dan Kabupaten Jawa Timur.
Dalam Airlangga Forum tersebut, terdapat tujuh narasumber telah didapuk untuk menyampaikan makna lebaran berdasarkan latar keilmuan. Dua di antaranya adalah Koordinator Program Studi S2 Magister Ekonomi Kesehatan Sekolah Pascasarjana UNAIR Dr Ni Made Sukartini SE MSi MIDEC dan Koordinator Program Studi S2 Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana UNAIR Dr Nuri Herachwati Dra Ec Msi Msc.
Ni Made Sukartini menyampaikan pandangannya berdasarkan bidang kesehatan dan ekonomi. Berdasarkan perspektif kesehatan, ia memaknai lebaran sebagai proses menuju keseimbangan.
淪elama sebulan sebelum merayakan lebaran, tentu ada fase puasa. Bagi kami itu adalah sebuah proses menjalankan keteraturan konsumsi. Kami juga meyakini akan membawa sebuah langkah memperoleh kesehatan, ungkapnya.
淜eseimbangan itu akan tercapai ketika proses itu dilaksanakan secara continue. Kalau bulan puasa, kita alami setahun sekali yang nantinya akan menyeimbangkan metabolisme di dalam tubuh kita, imbuhnya.
Selain penyeimbang kesehatan, budaya mudik juga menjadi penyeimbang perekonomian, terlebih bagi petani desa. Para petani desa memandang mudik lebaran sebagai suatu berkah.
淪elama ini kalau bekerja di kota kita pasti lebih cenderung makan makanan cepat saji. Ketika kita pulang ke desa, konsumsi buah-buahan segar, sayur-sayuran segar yang baru dipetik oleh petani bisa kita nikmati kembali. Meskipun itu mungkin setahun sekali, tetapi membawa dampak kesejahteraan bagi saudara-saudara petani yang ada di desa jelasnya.
Perspektif Manusia
Di lain sisi, Nuri Herachwati mengupas makna lebaran dari perspektif manusia sebagai salah satu sumber daya. Para pekerja yang khususnya bekerja di perkotaan menjadikan momen lebaran sebagai salah satu budaya berbagi kebahagiaan.
淏erbagi kebahagiaan ini macam-macem wujudnya. Parcel, misalnya. Kalau dari sisi ekonomi, berapa putaran ekonomi dari berbagi kebahagiaan ini. Hampers, parcel, kemudian juga angpau, jelasnya.
Untuk itu, lanjut Nuri, pemimpin perusahaan wajib mengetahui dan menghargai budaya-budaya yang berlaku pada karyawannya saat momen lebaran. Jika tidak, maka yang akan terpengaruh adalah kinerja perusahaan itu sendiri.
(Jika serangkaian budaya lebaran dilarang, red) itu pasti dalam sekian jangka waktu, kepuasan karyawan akan turun. Kalau kepuasan karyawan turun, maka kinerja juga akan turun. Kalau kinerja individu turun, pasti kinerja organisasi yang turun, tuturnya.
Hal demikian bermaksud agar kesejahteraan karyawannya tetap terlaksana. Kesejahteraan karyawan menjadi salah satu kunci keberlangsungan suatu perusahaan.
淗arapannya setelah lebaran selesai, maka motivasi dalam bekerja dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih tinggi, pungkasnya (*)
Penulis : Muhammad Badrul Anwar
Editor: Nuri Hermawan





