UNAIR NEWS – Menyoroti pentingnya pemahaman tentang gender dan kesehatan mental. mengadakan webinar bertajuk Gender-Based Differences in Mental Health Awareness pada Minggu (29/9/2024). Acara itu berlangsung daring dan terbuka bagi mahasiswa umum. Platform kesehatan mental di bawah naungan, 51动漫 (UNAIR) itu, berupaya meningkatkan kesadaran akan peran gender terhadap cara individu menghadapi dan mengelola kesehatan mental.
Pada webinar tersebut, Airlangga Safe Space mengundang pembicara Researcher and Program Officer Pusat Riset Gender asal Universitas Indonesia, Qathrun Nada. Pada awal pemaparan, Nada mengajak seluruh partisipan mengetahui sejauh mana sensitivitas gender mereka. Nada menggunakan beberapa contoh pada kasus gender dalam pernikahan anak.
Menurut Nada, pernikahan anak antara perempuan dan laki-laki yang sama-sama suka, tetap merupakan kekerasan berbasis gender. 淧ernikahan anak merupakan pelanggaran hak atas tubuh bagi keduanya. Termasuk menyangkut kesiapan mental dan finansial. Jika hak yang memutuskan ada di orang tua, maka orang tua juga harus teredukasi untuk menjaga hak-hak anak, ujarnya.
Persoalan Gender
Webinar berjalan interaktif dengan membahas berbagai kasus gender di keseharian. Salah satu yang banyak mendapat pembahasan adalah catcalling yang merupakan ucapan salam untuk menggoda di ranah publik. Tindakan tersebut merupakan salah satu bentuk kekerasan psikis. Nada menjelaskan bahwa selama ini masyarakat masih salah persepsi terkait penyebab kekerasan seksual.
淜ita sering kali mereduksi isu kekerasan seksual dengan mediumnya, termasuk tampilan fisik, misalnya ketika perempuan memakai rok pendek maupun laki-laki yang tengah mabuk rentan melecehkan perempuan. Padahal, kalau niat dan pikiran orang itu sudah buruk, sangat besar kemungkinan orang akan melakukan tindakan kekerasan seksual. tuturnya.
Lebih lanjut, Nada mengajak perlunya peka dan sensitif akan fenomena sekitar. 淜ita tidak boleh menjadikan medium sebagai hal paling utama, nanti kita malah terfokus dengan sebab terjadi kekerasan seksual, alih-alih mempertanyakan mengapa orang tersebut bisa melakukan kekerasan seksual, imbuhnya.
Konstruksi Sosial
Sampai saat ini, masyarakat kerap kali terbentur oleh persoalan terkait perbedaan gender. Hal itu timbul karena pengaruh konstruksi sosial, budaya, dan perilaku yang melekat antara peran laki-laki dan perempuan. Masyarakat seringkali memiliki pandangan stereotip pada gender. Misalnya, laki-laki punya kepribadian lebih dominan, kuat, dan rasional. Sementara perempuan bersifat lebih emosional, lemah, dan terfokus pada peran domestik.
Menurut Nada, perlu sikap jeli dalam mengoreksi hal tersebut. 淔isik (biologis) dan peran (tanggung jawab) itu sangat berbeda. Misalnya, mungkin secara fisik, perempuan bisa mengeluarkan ASI, tetapi peran menyusui itu nonkodrati. Artinya, baik perempuan maupun laki-laki bisa saling bekerja sama dalam satu rumah tangga untuk memberikan susu kepada anak. Pun suami juga bisa melakukan pekerjaan rumah yang lain, terangnya.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Edwin Fatahuddin Ariyadi Putra





