UNAIR NEWS – Departemen Bahasa dan Sastra Inggris (Sasing), (FIB), 51动漫 (UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Digital Media Literacy, Information Disorders, and Fact-Checking pada Kamis (23/5/2023). Kuliah tamu bertempat di Ruang Herodotus, Gedung FIB, Kampus UNAIR-B Dharmawangsa. Gelaran kali ini mengundang Dr Mehmet Fatih Comlekci PhD selaku Head of International Relations Office di Kirklareli University, Turkiye.
Membedakan Jenis Information Disorder
Pada salah satu pemaparan, Mehmet memaparkan tiga jenis information disorder, yaitu, mis-information, dis-information, dan mal-information.
Misinformation adalah kesalahan yang tidak intensional. Seperti ketidaksesuaian yang tertera pada caption foto, tanggal, statistik, terjemahan atau kalimat satire. Kemudian, disinformation adalah manipulasi konten audio atau visual secara sengaja untuk menciptakan teori konspirasi atau rumor, ucap akademisi Kirklareli University itu.
Sedangkan malinformation, lanjutnya,yaitu publikasi informasi pribadi secara sengaja tentang kehidupan personal atau suatu perusahaan. Biasanya, publikasi itu mengubah konteks asli dari konten aslinya.
Tujuh Tipe
Lebih lanjut, Mehmet menguraikan tujuh tipe misinformation dan disinformation. Pertama satire atau parodi yang tidak sengaja untuk merugikan seseorang sehingga menyebabkan kebodohan. Kedua, misleading content yaitu penggunaan informasi yang menyesatkan untuk membingkai suatu isu. Ketiga, imposter content atau plagiasi, yang mana konten tersebut melakukan plagiasi terhadap suatu konten.
Keempat, fabricated content biasanya terdiri dari konten berita yang salah untuk merugikan seseorang. Kelima, false connection, yaitu antara headlines berita, caption, dan cover berita tidak sesuai dengan isi berita. Keenam, false context, yaitu konten asli dibagikan dengan mencantumkan konteks informasi yang salah. Terakhir, manipulated content atau konten asli mengandung asumsi manipulatif untuk menipu seseorang.
Navigasi Informasi
Akademisi dari Kirklareli University itu juga membagikan cara menavigasi informasi. 淒i era digital ini kita sebagai warga internet harus memiliki tingkat literasi yang tinggi. Salah satunya melakukan navigasi terhadap infodemic (information and academic). Yaitu, menelusuri sumber aslinya. Kemudian pastikan bahwa headline berita tidak bersifat sensasional atau provokator, papar Mehmet perihal digital literasi media.
淪etelah itu identifikasi author dari berita tersebut apakah bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya. Serta, pastikan sumber yang kamu adalah berita yang up to date, tambahnya.
Hal yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah memeriksa bukti pendukung yang berdasarkan pada fakta. Sebab, dapat mempengaruhi penilaian dan sudut pandang pembaca informasi. Terakhir, periksa kembali fakta dan keabsahan berita dengan mencari tahu sumber resmi seperti lembaga atau organisasi terpercaya. Kemudian, pastikan isi konten tidak bertentangan dengan sumber aslinya.
Pada akhir materi, Mehmet memberikan saran cara mendapatkan berita yang dapat diandalkan. Yaitu dengan mengecek jenis publikasi. 淪ejauh ini sumber paling akurat dapat kita jumpai dari jurnal akademik. Karena lewat jurnal telah melalui beberapa tahapan penelitian dan pengujian dan situs dari organisasi terpercaya dan berlisensi, ujarnya perihal digital literasi media.
淛ika berita yang kita dapatkan dari koran atau majalah, blog, atau sosial media kita harus memeriksa kembali keabsahannya dengan mencari sumber aslinya. Karena bisa saja isi informasi telah ada perubahan sedemikian rupa, imbuhnya. (*)
Penulis: Aidatul Fitriyah
Editor: Binti Q Masruroh





