UNAIR NEWS Beberapa tahun terakhir, perubahan iklim menjadi isu penting. Mengenai hal itu akademisi UNAIR memberikan respon. Menurut Kepala Program Studi UNAIR Dr R Azizah SH MKes, perubahan iklim terjadi karena pemanasan global. Ia menjelaskan dampak pemanasan global ini dapat mengganggu kesehatan lingkungan.
Pemanasan global terpicu gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), methan (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O) yang dihasilkan dari aktivitas manusia, ucapnya.
Tanggapan itu ia sampaikan dalam Seminar on Environment and Health (2nd SEHAT). Kegiatan tersebut terselenggara oleh Himpunan Mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan FKM UNAIR secara hybrid, Selasa (6/6/2023).
Dampak Perubahan Iklim
Azizah mengatakan perubahan iklim memiliki dampak bagi kesehatan lingkungan. Salah satunya, kenaikan suhu yang menyebabkan perubahan cuaca ekstrem sehingga muncul berbagai penyakit di antaranya malaria, malnutrisi, diare, bahkan heat stress.
Tak hanya itu, lanjutnya, penyakit respiratori atau infeksi saluran pernapasan akibat polusi udara juga dapat masyarakat derita, khususnya pada masyarakat perkotaan. Data The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menyebut penyebab kematian tertinggi pada masyarakat perkotaan adalah penyakit respiratori yang mencapai 6,48 persen, ujar Azizah.
Solusi
Maraknya penyakit berbasis lingkungan menurut Azizah dapat dicegah dengan mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial. Maka ia menawarkan dua strategi guna menghadapi perubahan iklim.
Pertama, mitigasi perubahan iklim merupakan serangkaian kegiatan untuk upaya menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca. Kedua, adaptasi perubahan iklim yaitu upaya menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim.
Upaya penyesuaian kegiatan ekonomi pada sektor-sektor rentan mendorong perencanaan yang lebih baik dengan mempertimbangkan kondisi iklim. Termasuk pengelolaan sumber daya air dan pertanian sehingga mengurangi kemungkinan bencana karena iklim, terang Azizah.
Selain dua strategi itu, ia juga menyarankan agar masyarakat membiasakan diri dengan pola hidup bersih dan sehat. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat, tambahnya.
Beberapa perilaku STBM antara lain tidak membuang air besar sembarangan, rutin cuci tangan menggunakan sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga, serta pengamanan limbah cair rumah tangga. Upaya tersebut menjadi bagian dari climate village program yang diinisiasi FKM untuk mendorong literasi iklim dalam masyarakat.
Penulis: Sela Septi Dwi Arista
Editor: Nuri Hermawan





