Di tengah upaya Indonesia mencapai cakupan kesehatan universal, akses yang cepat dan merata ke layanan kesehatan masih menjadi tantangan, terutama bagi ibu hamil yang memerlukan bedah obstetri darurat seperti operasi caesar. Sebuah studi terbaru menyoroti kesenjangan geografis dalam akses ke layanan bedah obstetri di Indonesia, dengan fokus pada waktu tempuh ke rumah sakit yang menyediakan layanan tersebut.
Penelitian menunjukkan 94,5% wanita usia reproduksi (15-49 tahun) dapat mencapai rumah sakit dengan layanan bedah obstetri dalam waktu dua jam perjalanan攎elampaui target global yang ditetapkan oleh Lancet Commission on Global Surgery sebesar 80%. Namun, di delapan provinsi, akses ini masih jauh di bawah standar. Provinsi Papua memiliki akses terendah, hanya 60,7% wanita yang dapat mencapai rumah sakit dalam waktu dua jam.
Indonesia memiliki lebih dari 3.200 rumah sakit, tetapi hanya 2.855 (89,2%) yang memiliki dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn) yang dapat menangani bedah darurat. Konsentrasi dokter cenderung berada di daerah perkotaan, sementara di wilayah terpencil banyak rumah sakit yang tidak memiliki tenaga spesialis. Selain itu, sejumlah rumah sakit kelas C dan D masih kekurangan dokter spesialis, menyebabkan wanita di daerah terpencil kesulitan mendapatkan layanan bedah obstetri darurat dengan cepat.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti departemen obstetric dan ginekologi menemukan korelasi negatif antara angka kematian ibu (AKI) dengan ketersediaan dokter spesialis dan akses ke layanan bedah obstetri darurat. Provinsi dengan cakupan layanan yang rendah memiliki angka kematian ibu yang lebih tinggi. Sebagai contoh, Papua mencatat AKI sebesar 565 per 100.000 kelahiran hidup, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di 186 per 100.000 kelahiran hidup.
Untuk meningkatkan akses ke layanan bedah obstetri darurat di seluruh Indonesia, beberapa langkah strategis perlu diambil:
- Pemerataan distribusi tenaga medis, terutama dokter spesialis, ke daerah yang kurang terlayani.
- Peningkatan fasilitas rumah sakit di daerah terpencil, termasuk penyediaan peralatan bedah dan tenaga anestesi.
- Penguatan sistem rujukan dan transportasi medis, termasuk layanan ambulans yang cepat dan terjangkau.
- Penggunaan teknologi telemedisin untuk membantu dokter di daerah terpencil berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan.
Indonesia telah mencapai kemajuan signifikan dalam memastikan akses ke layanan bedah obstetri darurat, tetapi masih terdapat ketimpangan akses di beberapa wilayah. Dengan pemerataan fasilitas kesehatan dan tenaga medis, angka kematian ibu dapat ditekan, dan cakupan kesehatan universal yang lebih adil dapat terwujud.
Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro
Artikel lengkapnya dapat diakses pada tautan berikut





