51动漫

51动漫 Official Website

Akses Internet dan Indeks Kekayaan Menjadi Faktor Penentu Makanan Anak yang Beragam

Foto by Suara com

Praktik pemberian makan merupakan salah satu upaya yang berperan dalam tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk dapat memastikan anak diberikan asupan zat gizi yang tepat dalam makanan setiap harinya. Salah satu pedoman Makanan Pendamping ASI menurut WHO, idealnya orang tua dapat memberikan makan anak dengan variasi makanan yang beragam untuk dapat memastikan terpenuhinya kebutuhan zat gizi. Konsumsi makanan yang beragam diketahui memiliki hubungan dengan pengurangan kekurangan gizi pada anak-anak.

Minimum Dietary Diversity (MDD) atau keragaman diet minimal adalah salah satu indikator utama yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) dan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) untuk menilai praktik pemberian makan anak usia 6-23 bulan dalam populasi. Anak yang memenuhi kriteria MDD adalah mereka yang biasanya mendapatkan setidaknya lima atau lebih kelompok makanan. Ada delapan kelompok makanan dalam indikator ini yakni (1) biji-bijian, akar, dan umbi-umbian, (2) kacang-kacangan dan kacang-kacangan, (3) produk susu, (4) daging, ikan, unggas, dan hati/daging jeroan, (5) telur, (6) buah dan sayuran yang kaya vitamin A, (7) buah dan sayuran, dan (8) ASI.

Menurut Data UNICEF, proporsi anak Indonesia usia 6-11 bulan yang telah memenuhi MDD pada tahun 2017 hanya sebesar 33,8%. Hal ini sejalan dengan hasil analisis pada data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) di tahun 2017 dimana anak usia 6-11 bulan yang telah memenuhi MDD hanya 35,3%. Indeks kekayaan dan akses internet merupakan faktor yang berhubungan dengan MDD pada anak usia 6-11 bulan di Indonesia. Lebih dari 70% anak usia 6-11 bulan tidak menerima diet beragam karena anak hanya mendapatkan kurang dari 5 kelompok makanan. Dengan memberikan makanan sebanyak 5 kelompok makanan, kita asumsikan setidaknya anak-anak telah menerima makanan pokok, makanan hewani, sayur-sayuran dan ASI yang dinilai dapat mencukupi kebutuhan gizi harian.

Konsumsi makanan pokok adalah yang tertinggi diberikan kepada lebih dari 80% anak usia 6-11 bulan. Sedangkan konsumsi bahan pangan hewani seperti daging (daging, unggas, ikan, hati, dan jeroan) dan telur kurang dari 35%. Ketidaksetaraan antara konsumsi makanan pokok dan makanan hewani ditemukan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Hal ini dapat disebabkan oleh harga makanan hewani yang lebih mahal dari makanan pokok. Konsumsi makanan sumber hewani ditemukan berhubungan dengan pertumbuhan anak terutama pada 1000 hari pertama kehidupan dimana tingkat pertumbuhan anak lebih tinggi dibandingkan pada tahap kehidupan lainnya.

Indeks kekayaan merupakan salah satu indikator untuk menilai tingkat kekayaan dalam rumah tangga tanpa menggunakan data pendapatan melainkan menggunakan kepemilikan dan karakteristik rumah tangga. Anak-anak yang tinggal di rumah tangga kaya memiliki peluang lebih tinggi untuk memenuhi MDD dibandingkan dengan anak-anak di rumah tangga termiskin. Anak-anak yang tinggal di kuintil indeks kekayaan yang lebih tinggi memiliki hak istimewa yang lebih baik untuk memilih makanan yang lebih beragam karena pilihan makanan yang lebih luas dan daya beli yang lebih besar.

Akses ke internet digunakan sebagai indikator untuk menggambarkan akses ke informasi. Ibu yang menggunakan internet hampir setiap hari memiliki kemungkinan 1,4 kali lebih besar untuk memberikan makanan yang beragam kepada anaknya. Studi sebelumnya di India dan negara lain menunjukkan akses informasi dari media massa secara signifikan terkait dengan memenuhi kriteria MDD pada anak-anak. Media massa memiliki peran penting dalam mendidik ibu dan pengasuh tentang praktik pemberian makanan pendamping ASI yang tepat terutama dalam keragaman makanan.

Internet memberikan kemudahan akses, informasi yang beragam, dan keleluasaan bagi ibu untuk mempelajari praktik pemberian makanan pendamping ASI yang tepat dan memberikan makanan yang beragam kepada anak dari artikel, video, atau konten lain yang disediakan oleh internet. Dengan menggunakan internet, ibu dapat menambah pengetahuan dan praktik dalam memberikan makanan kepada anak-anaknya hingga memenuhi MDD. Namun, untuk mengakses internet, ibu perlu membeli paket data internet dan memiliki platform seperti komputer atau smartphone. Oleh karena itu, ibu yang dapat mengakses internet cenderung memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik. Hal ini memungkinkan ibu untuk meningkatkan pengetahuan mereka dari internet dan menerapkan informasi dengan membeli makanan yang beragam untuk anak-anak.

Penulis: Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz, M.PH.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Eurika Zebadia, Dominikus Raditya Atmaka. (2022). Factors Associated with Minimum Dietary Diversity among 6-11-months-old Children in Indonesia Using the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey. Public Health and Preventive Medicine Archives 9(2) : 132-138.

AKSES CEPAT