51动漫

51动漫 Official Website

Aktifitas Antimalaria Dari Ekstrak Biji Mahoni

Foto by Fakta9 com

Malaria adalah penyakit infeksi yang menjadi salah satu penyebab kematian di seluruh dunia. Malaria disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Pengobatan lini pertama untuk malaria, yang direkomendasikan oleh WHO adalah Artemisinin combination therapy (ACTs). Namun sebagian masyarakat di Indonesia masih mengkonsumsi tanaman herbal yang telah digunakan untuk mengobati malaria secara turun temurun, salah satunya adalah tanaman mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.). Tumbuhan ini telah dilaporkan memiliki aktivitas antimalaria baik secara in vitro maupun in vivo, namun pengaruhnya terhadap sistem imun belum banyak dijelaskan. Aktivitas antimalaria ekstrak etanol biji mahoni (EEBM) telah diujikan pada mencit BALB/c yang diinfeksi Plasmodium berghei ANKA dan efek ektrak ini terhadap imunitas mencit telah dianalisis, terutama dalam hal korelasi antara parasitemia dengan kadar IFN-纬 dalam plasma.

Ekstrak etanol biji mahoni (EEBM) dibuat dengan metode maserasi mengguakan etanol 96%. Konsentrasi ekstrak etanol biji mahoni diencerkan menggunakan 0.5% CMCNa untuk membuat konsentrasi 100%, 50% dan 25%. Sebanyak 50 ekor mencit dikelompokkam menjadi 5 kelompok, yaitu Kelompok 1 untuk perlakuan 100% EEBM, Kelompok 2 untuk 50% EEBM dan Kelompok 3 untuk EEBM 25 %. Kelompok 4 adalah Kontrol Negatif, dan Kelompok 5 adalah Kontrol Positif. Untuk Kontrol Negatif hanya diberi perlakuan dengan 0.5% CMCNa. Kelompok Kontrol Positif diberi perlakuan dengan ACT yaitu 187.2 mg/kg berat badan dihydroartemisinin-piperquine (DHP). Perlakuan diberikan selama 4 hari. Parasitemia diamati setiap hari mulai hari ke satu setelah infeksi sampai hari ke 4 setelah infeksi. Pada hari ke 5 mencit dikorbankan untuk pengambilan serum dan pengukuran kadar IFN-g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antimalaria EEBM terlihat pada parasitemia yang lebih rendah dari kelompok mencit yang diberi EEBM dengan konsentrasi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok Kontrol Negatif tetapi lebih tinggi dibandingka dengan Kontrol Positif. Hal yang menarik adalah bahwa, semakin besar konsentrasi EEBM yang diberikan menunjukkan persentase penghambatan yang lebih rendah terhadap pertumbuhan parasit. Konsentrasi EEBM 25% mengakibatkan persentase penghambatan terhadap pertumbuhan parasit lebih tinggi, yaitu 75% daripada konsentrasi EEBM yang lebih tinggi, yaitu 63% untuk konsentrasi EEBM 50% dan 62% untuk konsentrasi EEBM 100%. Obat antimalaria DHP menunjukkan persentase penghambatan yang tinggi (>100%), menunjukkan bahwa obat ini merupakan obat antimalaria yang poten.

Sebaliknya, kadar IFN-g menunjukkan pola yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi EEBM yang diberikan. Pada kelompok mencit yang diberi EEBM konsentrasi 25% menunjukkan kadar IFN-g sebesar 158.24卤89.08 pg/ml, konsentrasi 50% sebesar 195.41卤42.27 pg/ml, dan konsentrasi 100% sebesar 473.53卤550.82 pg/ml. Kadar IFN-g pada Kelompok Kontrol Negatif adalah 293.88卤154.51 pg/ml, dan pada Kontrol Positif sangat rendah, yaitu 26.76卤15.27 pg/ml.

Aktivitas antimalaria EEBM pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh senyawa bioaktif yang terkandung dalam EEBM. Berdasarkan uji fitokimia, EEBM yang digunakan dalam penelitian ini positif mengandung flavonoid, tanin, dan triterpenoid. Flavonoid menghambat biosintesis asam lemak dalam biokimia parasit dan menghambat masuknya myoinositol ke dalam eritrosit (sel darah merah) yang terinfeksi selama fase eritrositik. Senyawa ini dibutuhkan oleh Plasmodium untuk perkembangan stadium parasit selama fase eritrositik. Flavonoid dan turunannya berperan dalam menghambat pembentukan haemozoin atau pigmen amalaria dengan membentuk kompleks heme bebas yang dapat menjadi racun bagi parasit sehingga parasit mati. Kandungan tanin dalam EEBM dapat berperan dalam penghambatan enzim protease Plasmodium, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terhambat dan mencegah invasi eritrosit baru. Asam oleanolat yang merupakan salah satu senyawa triterpenoid memiliki aktivitas antiplasmodium yang disebabkan oleh penggabungannya ke dalam membran eritrosit dan menyebabkan perubahan eritrosit membentuk stomatosit, sehingga mengganggu pertumbuhan P. falciparum strain 3D7 secara in vitro. Invasi dan pertumbuhan Plasmodium dalam eritrosit tergantung pada integritas dan fungsi normal membran eritrosit. Perubahan membran eritrosit akan mengganggu pertumbuhan Plasmodium.

Rerata kadar IFN-纬 pada kelompok yang diberi EEBM berbanding lurus dengan konsentrasi EEBM tetapi berbanding terbalik dengan parasitemia. Semakin besar konsentrasi EEBM yang diberikan, maka semakin tinggi rerata kadar IFN-纬, tetapi semakin rendah persentase parasitemia yang diakibatkan. Semakin tinggi parasitemia semakin tinggi pula PAMPs (Pathogen associated molecular patterns) yang direspons oleh sel-sel immune penghasil IFN-纬, sehingga semakin tinggi pula kadar IFN-纬. Hal ini ditunjukkan pula oleh kelompok mencit yang diberi obat antimalaria DHP sebagai Kontrol Positif, yaitu  menunjukkan penurunan parasitemia yang tajam, dan mencapai 0% pada hari ke-4 pasca perlakuan diikuti dengan penurunan kadar IFN-纬. Sebaliknya, kelompok Kontrol Negatif yang tidak diberi ekstrak, menunjukkan parasitemia yang tinggi dan kadar IFN-纬 yang tinggi pula. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa IFN- 纬 berperan penting dalam eliminasi parasit pada mencit yang diinfeksi P. berghei.

Penulis: Heny Arwati

Informasi detail penelitian ini dapat diakses pada artikel kami di:

AKSES CEPAT