51动漫

51动漫 Official Website

Aktivitas Antimikroba dari Daun Sirih Gading L. Pers terhadap patogen periodontal

Ilustrasi Daun Sirih (*)

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir 3,5 miliar orang di seluruh dunia terkena penyakit mulut, dengan tiga dari empat orang yang terkena tinggal di negara-negara berpenghasilan menengah. Secara global, penyakit periodontal parah diperkirakan mempengaruhi sekitar 19% dari populasi orang dewasa, yang mewakili lebih dari 1 miliar kasus. Penyakit periodontal adalah kondisi yang disebabkan berbagai macam faktor yang ditandai dengan resorpsi progresif struktur yang menyanggah gigi. Proses ini melibatkan berbagai mikroorganisme yang memicu peradangan, sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan periodontal, tulang alveolar, hingga hilangnya gigi juga terkait dengan beberapa kondisi kesehatan sistemik, seperti diabetes melitus dan aterosklerosis.

P.gingivalis dianggap sebagai bakteri patogen dominan yang terkait dengan periodontitis karena kemampuannya untuk mengganggu keseimbangan mikrobiota mulut dan merusak respons imun inang. Gangguan ini berkontribusi terhadap patogenesis penyakit periodontal diantaranya peradangan gusi, kerusakan jaringan periodontal, tulang alveolar. Hal ini tidak hanya memicu penyakit periodontal tetapi juga mendorong disbiosis oral, yaitu perubahan dalam komunitas mikroba yang memperburuk perkembangan penyakit. Kolonisasi P.gingivalis mengganggu keseimbangan normal komunitas mikroba mulut, yang menyebabkan peradangan dan pengeroposan tulang. Faktor seperti kebersihan mulut yang buruk, penggunaan tembakau, dan kondisi kesehatan sistemik dapat berkontribusi terhadap perkembangan disbiosis. Metode perawatan tradisional non bedah untuk penyakit periodontal, seperti scaling dan root planing (SRP), tidak cukup untuk menghilangkan patogen oral atau mencegah kekambuhannya. Selain itu, penggunaan antibiotik sistemik untuk mengobati periodontitis dibatasi oleh karena dapat menyebabkan resistensi antibiotik dan potensi terjadinya efek samping yang lain. Penggunaan bahan kimia dalam produk perawatan mulut dalam jangka panjang, seperti klorheksidin, dapat menyebabkan perubahan warna gigi dan jaringan, serta efek samping lainnya, termasuk penumpukan kalkulus, gangguan pengecap, dan dampak pada mukosa mulut.

Reaksi alergi terhadap klorheksidin juga dapat memicu respons hipersensitivitas tipe IV, yang dapat bermanifestasi sebagai sensasi terbakar di mulut, eritema pada jaringan gusi, dan stomatitis. Masalah-masalah ini menghadirkan tantangan yang signifikan bagi penyedia layanan kesehatan dan pasien
Mengingat hal tersebut, terdapat peningkatan penggunaan alternatif alami, khususnya material herbal dan rempah yang dikenal karena sifat antibakteri dan kemopreventifnya.

Secara historis, tanaman dan ekstrak material herbal telah digunakan untuk tujuan terapeutik di berbagai budaya, dengan praktik pengobatan tradisional karena kemanfaatannya. Daya tarik ekstrak herbal terletak pada keamanan, efektivitas biaya, dan kemanjurannya, serta perannya sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan konvensional. Ekstrak herbal telah digunakan selama berabad-abad untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan, termasuk masalah kesehatan mulut seperti radang gusi, periodontitis, dan karies gigi.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian kurkumin secara sistemik, suatu senyawa yang berasal dari kunyit, dapat mengurangi kehilangan tulang alveolar pada model tikus yang diinduksi ligatur, yang berpotensi sebagai alternatif untuk terapi periodontal. Penelitian lain mengungkapkan bahwa ekstrak dari Kayu manis zeylanicum dan bunga salvador persica menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap berbagai patogen periodontal seperti P. gingivalis, T. denticola, T. forsythia

Keluarga Rutaceae, khususnya genus Ruta, seperti Daun sirih gading L. Tanaman ini secara tradisional telah digunakan di Indonesia untuk mengobati penyakit kuning dan gangguan hati. Tanaman ini telah dibudidayakan di Jawa dan Vietnam, di mana rebusannya digunakan untuk meredakan kram, kembung, dan demam. Daun ini menunjukkan sifat antibakteri, dengan adanya kandungan flavonoid, alkaloid, dan kumarin. Senyawa ini telah menunjukkan berbagai efek pengobatan, terutama terhadap infeksi mikroba, misalnya, chalepin, yang diisolasi dari daun R.angustifolia,menunjukkan aktivitas antiparasit sederhana terhadap Trypanosoma cruzi,patogen penyebab penyakit Chagas. Minyak atsiri yang diekstrak dari R. Angustifolia menunjukkan aktivitas anti jamur yang signifikan terhadap Jamur Fusarium oxysporum Dan Jamur Botrytis cinerea. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak R. Angustifolia memiliki potensi untuk digunakan sebagai perawatan alternatif selain terapi periodontal konvensional.

Penulis: Elly Munadziroh

AKSES CEPAT