Mikrotia adalah malformasi kongenital telinga luar dan tengah yang disebabkan oleh kelainan perkembangan selama embryogenesis, sekaliguas dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan tantangan psikososial. Kondisi ini sering disertai dengan gangguan pendengaran akibat tidak adanya kanalis auditorius eksternal dan dapat dikaitkan dengan kondisi sindromik seperti mikrosomia kraniofasial dan sindrom Treacher Collins. Rekonstruksi bedah sangat penting, karena individu dengan deformitas wajah sering kali menganggap diri mereka tidak menarik dan mungkin mengalami harga diri yang rendah, yang menyebabkan penarikan diri dari pergaulan4,5. Oleh karena itu, pasien dengan mikrotia lebih rentan terhadap depresi dan tantangan dalam interaksi social Rekonstruksi bedah menggunakan kartilago kosta autologus tetap menjadi standar emas untuk pengobatan. Mengevaluasi kepuasan dan kualitas hidup pasien setelah rekonstruksi sangat penting dalam menilai keberhasilan pembedahan.
Sebanyak 34 individu dengan mikrotia menjalani operasi rekonstruksi dua tahap (pengambilan dan pemasangan kerangka tulang rawan kosta, diikuti dengan elevasi kerangka) di Rumah Sakit 51动漫 antara Agustus 2022 dan Agustus 2024. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan melalui grup WhatsApp. Kuesioner dibagikan kepada seluruh 34 pasien atau anggota keluarga mereka, dengan 28 tanggapan lengkap diperoleh, sehingga sebanyak 28 partisipan yang memenuhi syarat dianalisis menggunakan uji statistik bivariat.
Sebagian besar partisipan berjenis kelamin laki-laki (75%) dengan mikrotia sisi kanan unilateral (57,1%) dan tingkat keparahan yang paling umum adalah mikrotia derajat 3 (67,9%). Mayoritas memiliki mikrotia terisolasi tanpa anomali kongenital lainnya (67,9%). Kepuasan secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai “sedang” (39,3%), sementara kualitas hidup dinilai “sangat baik” (57,1%). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan mikrotia atau keberadaan anomali kongenital dengan kepuasan pasien atau kualitas hidup (p > 0,05).
Sebagian besar pasien mikrotia di Indonesia adalah laki-laki (75%), datang dengan keterlibatan unilateral sisi kanan (57,1%), kasus terisolasi (67,9%), dan diklasifikasikan sebagai derajat 3 berdasarkan Klasifikasi Hunter (67,9%). Kepuasan keseluruhan setelah rekonstruksi mikrotia cukup moderat, dengan 39,3% pasien melaporkan cukup puas. Yang penting, baik tingkat keparahan mikrotia maupun keberadaan anomali kongenital tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepuasan pasien atau kualitas hidup pasca-rekonstruksi. Temuan ini menunjukkan bahwa luaran bedah yang sukses dapat memberikan tingkat kepuasan dan kualitas hidup yang konsisten, terlepas dari tingkat keparahan klinis atau kondisi komorbiditas.
Penulis: Dr. Indri Lakhsmi Putri, dr., Sp.BP-RE.
Link artikel:





