Tim peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis 51动漫 berkolaborasi dengan peneliti internasional telah mengungkapkan sebuah studi komprehensif yang menyoroti faktor-faktor penting yang mempengaruhi daya saing destinasi pariwisata (TDC). Tim peneliti 51动漫 terdiri dari Prof. Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE, Dr. Miguel Angel Esquivias M.SE , dan Dr. Lilik Sugiharti, SE.,M.Si dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis berkolaborasi dengan Omar Rojas, peneliti dari Universidad Panamericana, Mexico. Penelitian ini berjudul 淭ourism Destination Performance and Competitiveness: The Impact on Revenues, Jobs, the Economy, and Growth yang telah diterbitkan dalam edisi terbaru Journal of Tourism and Services, penelitian ini memberikan analisis mendalam tentang bagaimana berbagai elemen berkontribusi pada daya tarik dan kesuksesan ekonomi suatu destinasi.
Dalam penelitian 淭ourism Destination Performance and Competitiveness: The Impact on Revenues, Jobs, the Economy, and Growth. para penulis mengeksplorasi hubungan antara daya saing destinasi pariwisata (TDC) dan kinerja ekonomi. Studi ini menggunakan Indeks Pengembangan Pariwisata dan Perjalanan (TTDI) serta berbagai metrik pariwisata, dengan fokus pada konektivitas, infrastruktur, penggerak permintaan, keberlanjutan, dan lingkungan yang mendukung. Dalam hal ini, pertumbuhan signifikan dalam kedatangan wisatawan internasional, mencapai hampir 1,5 miliar perjalanan pada tahun 2019, meningkat 4% dari tahun 2018 dan lebih dari dua kali lipat jumlah pada tahun 2000. Di Asia, pariwisata berkontribusi hampir 10% terhadap PDB, menciptakan lebih dari 160 juta pekerjaan, dan menghasilkan hampir 480 miliar dolar dalam penerimaan pada tahun 2019. Negara-negara seperti Bangladesh, Indonesia, Filipina, Malaysia, India, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam telah mengalami peningkatan signifikan dalam penerimaan pariwisata mereka selama dua dekade terakhir. Peningkatan yang signifikan ini mengindikasikan pentingnya pariwisata sebagai penghasil pendapatan, pencipta lapangan kerja, dan sumber devisa telah menarik perhatian akademisi dan pembuat kebijakan.
Penelitian ini menggunakan Model Persamaan Struktural (SEM) dan data terbaru dari tahun 2021 untuk menganalisis korelasi antara faktor-faktor yang diidentifikasi dan pilar daya saing destinasi. Dalam penelitian ini mengungkapkan adanya korelasi positif, yang menunjukkan bahwa perbaikan dalam konektivitas, infrastruktur, pendorong permintaan, keberlanjutan, dan lingkungan pendukung secara signifikan meningkatkan TDC di negara-negara Asia. Perbaikan ini kemudian mengarah pada peningkatan kedatangan wisatawan, pendapatan yang lebih tinggi, dan penciptaan lebih banyak lapangan kerja. Namun, dalam penelitian ini juga ditemukan korelasi negatif antara aspek-aspek tertentu dari kinerja destinasi dan pertumbuhan pariwisata. Secara khusus, destinasi yang sangat kompetitif mungkin mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang kurang kompetitif. Paradoks ini menunjukkan bahwa meskipun destinasi kompetitif menarik aktivitas pariwisata yang substansial, tingkat pertumbuhannya dapat mencapai titik jenuh, yang berdampak pada perkembangan keseluruhan sektor pariwisata.
Dalam hal ini, secara keseluruhan, aspek kompetitif pariwisata memiliki efek yang beragam pada indikator kinerja pariwisata. Kondisi pelengkap dan keberlanjutan secara positif mempengaruhi konektivitas dan kinerja pariwisata secara keseluruhan, tetapi mungkin bukan merupakan pendorong utama pertumbuhan pariwisata atau ekonomi. Sumber daya inti dan infrastruktur memiliki dampak penting pada konektivitas, pangsa kinerja, kinerja destinasi pariwisata, dan kinerja finansial, meskipun mereka juga dapat menghambat pertumbuhan pariwisata. Sebaliknya, manajemen destinasi sangat penting dalam meningkatkan kinerja pariwisata secara keseluruhan dan konektivitas. Temuan ini menekankan peran penting sumber daya inti destinasi dan infrastruktur dalam mencapai kinerja pariwisata yang tinggi, terutama dalam mendorong hasil utama seperti peningkatan jumlah wisatawan, pendapatan pariwisata yang lebih tinggi, dan penciptaan lapangan kerja. Elemen-elemen ini berkontribusi secara signifikan terhadap dampak finansial sektor pariwisata dan kontribusi keseluruhan terhadap ekonomi, yang mencakup pengeluaran, ekspor, aktivitas bisnis, dan pertumbuhan PDB.
Penemuan ini menyoroti implikasi praktis bagi negara-negara yang ingin meningkatkan sektor pariwisata mereka. Negara dengan sumber daya budaya, alam, atau khusus yang menarik memiliki keunggulan dalam menciptakan lingkungan pariwisata yang kompetitif dan dapat memanfaatkan aset ini untuk menarik segmen perjalanan yang beragam. Fokus pada peningkatan dan pelestarian aset tersebut dapat menciptakan pengalaman yang autentik bagi wisatawan. Investasi strategis dalam sumber daya inti, infrastruktur, konektivitas, dan layanan pariwisata memberikan manfaat ekonomi langsung, menarik lebih banyak wisatawan, meningkatkan pendapatan, dan menciptakan lapangan kerja. Melestarikan sumber daya juga penting untuk pariwisata yang bertanggung jawab, memastikan dampak positif jangka panjang pada lingkungan dan komunitas lokal. Pemerintah dapat menjajaki kemitraan dengan sektor swasta dan organisasi internasional untuk pengembangan dan pelestarian sumber daya ini. Meskipun investasi awal mungkin besar, manfaat ekonomi jangka panjang sangat signifikan, dengan pendapatan yang lebih tinggi dan ekonomi lokal yang lebih kuat melebihi investasi awal. Dengan strategi ini, negara dapat meningkatkan daya saing destinasi mereka dan memanfaatkan sektor pariwisata sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan sosial.
Penulis: Dr. Lilik Sugiharti, S.E., M.Si.





