51动漫

51动漫 Official Website

Analisis Konsep: Perawatan Psikospiritual

Analisis Konsep: Perawatan Psikospiritual
Sumber: Siloam Hospitals

Dalam konsep keperawatan holistik, penggunanan istilah perawatan psikospiritual telah diartikan ke dalam banyak bentuk teori dan implementasi. Dalam konteks klinis, makna, variasi, dan ketidakkonsistenan dalam penyampaian psikospiritual dan istilah terkaitnya masih ada. Istilah 減sikospiritual umumnya digunakan untuk merujuk pada berbagai sistem terapi yang menggabungkan dimensi psikologis dan spiritual secara holistik. Literatur menunjukkan pentingnya peran psikospiritual karena mencerminkan rentang hidup seseorangserta hubungan antara peran ini dan kesejahteraan manusia.

Watson (2007) menggambarkan individu sebagai makhluk yang memiliki berbagai kebutuhan fisik, psikologis, sosial, emosional, intelektual, perkembangan, budaya, dan spiritual. Dalam layanan kesehatan, perawatan psikospiritual mengacu pada penyediaan tubuh, pikiran, dan jiwa, psikologis, emosional dan mental, kepercayaan, spiritual, dan praktik keagamaan. Pendekatan tersebut telah diterapkan secara luas untuk menangani kompleksitas manusia sebagai makhluk bio-psiko-spiritual.

Baru-baru ini, dalam praktik klinis, praktik yang berbasis pada kesadaran  menunjukan bahwa intervensi non-farmakologis untuk meringankan tekanan psikologis. Berbeda dengan psikospiritual, akar dari kesadaran adalah Buddhisme, di mana para biksu melakukan praktik keagamaan ini dalam rutinitas harian. Selain psikospiritual, kesadaran juga diterapkan untuk memberi manfaat holistik bagi tubuh, pikiran, dan jiwa individu. Sampai saat ini, tampaknya intervensi berbasis kesadaran sering digunakan secara bergantian untuk sepenuhnya memenuhi kebutuhan psikospiritual seseorang. Penerapan perawatan psikospiritual dalam layanan kesehatan banyak tercatat dalam basis data akademis. Penelitian yang berbasis psikospiritual menjunkan adanya variasi dalam pemberian perawatan psikospiritual. Misalnya, di negara-negara Barat, seperti di Amerika Serikat (AS) dan Inggris, pemberian perawatan psikospiritual tidak selalu terkait dengan praktik keagamaan Namun dalam konteks Indonesia, merujuk pada Standar diagmosa keperawatan Indonesia (SDKI) yang dibuat oleh Perawat Nasional Indonesia (PPNI), perawatan psikospiritual dirancang dengan tujuan untuk mencakup area psikologis dan keagamaan.

Agama dan mekanisme penanganan spiritual harus dinilai sebelum pemberian perawatan psikospiritual. Meskipun demikian, tidak ada kesepakatan yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan perawatan psikospiritual dalam konsep, istilah, dan pemberiannya. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa aktivitas psikis, mental, dan spiritual berhubungan dengan kepercayaan seseorang untuk meringankan tanda dan gejala yang terkait dengan penyakit atau gangguan kesehatan, dan menghasilkan kesejahteraan psikospiritual. Dalam layanan kesehatan, perawatan psikologis diterapkan secara luas untuk meringankan tekanan psikologis yang terkait dengan penyakit. Tanda dan gejala tekanan psikologis berikut,

depresi, kecemasan, stres, dan gangguan stres pascatrauma juga dilaporkan di antara orang-orang yang sehat secara fisik dan mereka yang memiliki penyakit fisik dan gangguan kesehatan mental. Sementara itu, perawatan spiritual bertujuan untuk memenuhi kebutuhan spiritual atau keagamaan seseorang, membangun rasa tujuan dan makna dalam hidup.

termasuk moral dan etika seseorang yang mungkin berbeda dari agama.

Praktek implementasi keperawatan spiritual sangat mungkin untuk melibatkan atau sama sekali tidak melibatkan aktivitas keagamaan. Misalnya, terapi perilaku kognitif dengan pendekatan keagamaan diterapkan untuk mencapai kesejahteraan spiritual di antara sekelompok orang Kristen di wilayah Timur AS. Dalam kasus lain, sekelompok veteran dengan cedera moral menerima perawatan spiritual yang terdiri dari terapi penerimaan dan pengampunan untuk mencapai kesejahteraan spiritual.Kebutuhan manusia akan kesejahteraan psikologis dan spiritual terus-menerus sepanjang lingkaran kesehatan dan penyakit. Perawatan psikospiritual ada untuk mengakomodasi kebutuhan individu yang mungkin tidak dapat sepenuhnya dicakup oleh perawatan psikologis atau spiritual tunggal, masalah pribadi yang melibatkan nilai-nilai fisik, psikologis, agama, dan kepercayaan. Oleh karena itu, penyediaan perawatan psikospiritual bergantung pada kepekaan budaya-kepercayaan, kemampuan profesional kesehatan untuk melakukan kepedulian, menjadi berwawasan, dan komitmen profesional.

Meskipun ada upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan kesadaran akan kesejahteraan psikospiritual, profesional kesehatan interdisipliner membutuhkan kepastian lebih tentang definisi kesejahteraan psikospiritual dan pemberian perawatan psikospiritual. Empati dan pendengaran yang aktif dan intens diperlukan dalam penilaian psikospiritual, serta kemauan untuk mendengar. Mengenali kesadaran diri untuk membantu pasien mengatasi beban yang disebabkan oleh penyakit, membangun penerimaan tanpa syarat, dan menyadari serta menghormati karakteristik unik pasien semuanya penting. Interaksi tersebut lebih dari sekadar sebagai profesional terhadap klien: pasien yang menjalani perawatan psikospiritual perlu dipandang secara keseluruhan.

Telah banyak dipelajari bahwa praktik berbasis agama tidak selalu menjadi perawatan kesehatan terbaik yang dibutuhkan oleh semua individu yang sakit. Pada praktiknya, didapat bahwa perawatan spiritual mungkin tidak menyediakan sumber daya untuk membantu praktisi perawatan kesehatan memahami kebutuhan pasien dan memberikan intervensi yang tepat dalam konteks penurunan agama atau ketidakreligiusan. Dalam hal penurunan kepercayaan terhadap agama dan pertumbuhan spiritualitas secara bersamaan, skala keterlibatan dan kepercayaan spiritual dapat membantu untuk mengklarifikasi dan menerjemahkan kebutuhan individu ke dalam perawatan psikospiritual yang terintegrasi.

Berbagai macam respons penanganan yang melibatkan penggunaan konsep agama dan spiritual mengklasifikasikan penanganan agama sebagai positif atau negatif. Penanganan agama yang positif mencakup pengampunan, mencari dukungan spiritual, dan membangun kesejahteraan spiritual. Penanganan agama yang negatif mencakup ketidakpuasan spiritual dan penilaian ulang terhadap Tuhan. Analisis menunjukan bahwa parktik pemberian perawatan spiritual meningkatkan kondusifitas lingkungan tempat kerja dan menyediakan kompetensi utama bagi para profesional kesehatan dan layanan kesehatan. Penelitian tentang perawatan psikospiritual harus mempertimbangkan karakteristik pasien dan mengidentifikasi variabel tambahan yang memengaruhi status kesehatan.

Penulis: Ira Suarilah, S.Kp., M.Sc

Link:

Baca juga: Mengatasi Tantangan Intervensi Dini Psikosis di Indonesia

AKSES CEPAT