Dampak perubahan iklim mempunyai dampak besar terhadap kesehatan manusia, yang berujung pada munculnya penyakit-penyakit terkait iklim. Menyadari hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia telah membentuk Program kampung Iklim. Salah satu aksi mitigasi perubahan iklim dengan meminimalisasi gas rumah kaca seperti Gas CO2 maupun CH4 dengan melakukan aksi pengelolaan sampah sebagai wujud aksi nyata dalam meminimalisasi dampak penyakit akibat iklim. Meski program ini telah diterapkan, Desa Larangan di Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, masih terus berjuang melawan kasus penyakit terkait perubahan iklim.
Hingga tahun 2022, Indonesia telah mendokumentasikan 4.218 desa yang terdaftar dalam Program Kampung Iklim, dengan tujuan mencapai 20.000 program tersebut pada tahun 2024. Di Provinsi Jawa Timur, tepatnya sebanyak 500 lokasi telah bergabung dalam Program Kampung Iklim hingga akhir tahun 2022. Kondisi lingkungan di Desa Larangan di Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, ada beberapa kasus penyakit terkait iklim, antara lain 2 kasus demam berdarah, 566 kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dan 85 kasus diare. Mengingat hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pengelolaan sampah terhadap penyakit terkait iklim baik di wilayah Program Kampung Iklim dan Wilayah Non Program Kampung Iklim di Desa Larangan Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, analitis, observasional dengan desain cross-sectional, penelitian ini berkonsentrasi pada dua lingkungan di Desa Larangan. Variabel yang diselidiki mencakup pengelolaan sampah dan penyakit terkait iklim. Pengumpulan data melakukan wawancara dan mendistribusikan kuesioner di antara anggota masyarakat di kedua lingkungan (Proklim dan Non Proklim). Data yang terkumpul dianalisi menggunakan Multigroup Analysis SEM PLS dengan taraf signifikansi 0,05.
Temuan ini mengungkapkan korelasi negatif yang signifikan antara pengelolaan sampah dan penyakit terkait iklim, menunjukkan bahwa peningkatan pengelolaan sampah terkait dengan berkurangnya insiden penyakit tersebut di masyarakat. Nilai q Square redundancy untuk variabel penyakit akibat iklim diatas 0 menunjukkan model mempunyai predictive relevance. Nilai Q Square penyakit akibat iklim adalah 0,171 menunjukkan akurasi prediksi moderat. Artinya setiap perubahan pada tiap variabel maka akan memprediksi perubahan pada kepuasan pada tingkat akurasi prediksi moderat. Begitu juga dengan nilai R Square nya 0.337 maknanya pengaruh pengelolaan sampah terhadap penyakit akibat iklim 33,7% berpengaruh sedang atau moderat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berpengaruh negatif signifikan terhadap penyakit akibat iklim dengan nilai p value 0,000>0,05 pada wilayah Proklim, p value 0,000>0,05 pada wilayah Non Proklim dan originalitas sample negatif. Maknanya bahwa semakin tinggi nilai pengelolaan sampah maka semakin rendah nilai penyakit akibat iklim atau dalam artian lain semakin baik melakukan pengelolaan sampah maka semakin kecil kemungkinan risiko terkena penyakit akibat iklim.
Penulis : Dr. R. Azizah, S.H., M.Kes
Detail tulisan ini dapat dilihat di :





