Pencemaran plastik telah menjadi isu lingkungan global yang semakin mendesak. Salah satu bentuknya, mikroplastik (MP), adalah partikel plastik berukuran sangat kecil yang kini banyak ditemukan di berbagai ekosistem, termasuk perairan laut. Menurut data IUCN (2021), sekitar 60“80% limbah laut didominasi oleh plastik. Hal ini tidak mengherankan karena plastik memiliki sifat yang tahan lama, ringan, mudah diproduksi, serta murah secara ekonomis. Sayangnya, sifat-sifat inilah yang membuat plastik sukar terurai dan akhirnya mencemari lingkungan dalam jangka panjang.
Mikroplastik merupakan hasil degradasi plastik berukuran besar yang tersebar melalui berbagai jalur, termasuk limbah rumah tangga, limbah industri, kegiatan perikanan, dan aktivitas manusia di pesisir. Keberadaannya di lingkungan perairan sangat mengkhawatirkan karena dapat terakumulasi dalam rantai makanan laut dan membahayakan berbagai spesies akuatik. Setelah masuk ke dalam tubuh organisme, mikroplastik dapat menimbulkan berbagai efek negatif, termasuk gangguan pada sistem pencernaan, kerusakan sel, bahkan efek toksik yang berasal dari bahan aditif maupun senyawa kimia yang menempel pada permukaan partikel plastik tersebut.
Organ-organ utama yang paling sering terpapar mikroplastik pada ikan adalah insang dan saluran pencernaan. Insang, sebagai alat respirasi dan penyaring air, mampu menangkap partikel-partikel kecil yang larut dalam air, termasuk mikroplastik. Sementara itu, saluran pencernaan menjadi jalur utama akumulasi partikel melalui proses makan. Pola akumulasi ini bisa berbeda tergantung pada jenis ikan, kebiasaan makan, lingkungan tempat hidup, dan kemampuan migrasi ikan tersebut.
Di Indonesia, pencemaran mikroplastik telah menjadi perhatian serius, termasuk di Kota Surabaya sebagai kota terbesar kedua. Pada tahun 2019, Surabaya mencatat pengumpulan sampah plastik mencapai 23,5 ton. Pantai Timur Surabaya, salah satu kawasan penting perikanan, kini juga mengalami tekanan akibat pencemaran mikroplastik. Banyak spesies ikan yang menghuni wilayah ini, termasuk yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Karena itu, ancaman mikroplastik bukan hanya merugikan ekosistem laut, tapi juga membahayakan kesehatan manusia melalui konsumsi makanan laut.
Kemampuan ikan untuk bermigrasi juga menjadi faktor penting dalam tingkat paparan mikroplastik. Perpindahan ikan dari satu wilayah ke wilayah lain memungkinkan ikan terpapar partikel mikroplastik dari berbagai sumber. Penelitian terbaru mengkaji delapan spesies ikan dari kawasan Pesisir Timur Surabaya”antara lain Mugil cephalus, Hexanematichthys sagor, Johnius trachycephalus, Mystus tengara, Synanceia verrucosa, Rhynchobatus sp., Hypanus americanus, dan Plotosus canius”yang memiliki perbedaan dalam kebiasaan makan dan jangkauan habitat.
Informasi ini untuk mengetahui sejauh mana mikroplastik terakumulasi dalam organ insang dan saluran pencernaan ikan, serta bagaimana karakteristik fisik dan kimia mikroplastik tersebut. Beberapa aspek yang dianalisis meliputi kelimpahan, bentuk, warna, dan ukuran partikel, serta komposisi kimia polimer yang terkandung di dalamnya. Penelitian juga mengkaji keberadaan mikroplastik dalam air sebagai habitat ikan, guna memahami hubungan antara paparan lingkungan dan akumulasi dalam tubuh ikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk mikroplastik yang paling umum ditemukan adalah fragmen, diikuti oleh serat. Warna hitam mendominasi, dan ukuran partikel bervariasi antara 20 hingga 40 mikrometer. Komposisi polimer didominasi oleh polipropilena (PP) sebesar 75%, dan polietilena densitas tinggi (HDPE) sebesar 25%. Menariknya, spesies Mugil cephalus”yang diketahui bermigrasi secara katadromus (dari laut ke air tawar untuk berkembang biak)”memiliki tingkat akumulasi mikroplastik tertinggi dibanding spesies lainnya. Meski demikian, penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk menjelaskan lebih jauh kaitan antara pola migrasi dan tingkat paparan mikroplastik.
Temuan ini menegaskan bahwa pencemaran mikroplastik di Pesisir Timur Surabaya adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan biota laut dan kesehatan manusia. Diperlukan langkah konkret, mulai dari pengelolaan sampah yang lebih baik hingga kebijakan pengurangan plastik sekali pakai, agar pencemaran ini tidak semakin meluas dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
Penulis: Prof. Dr. Alfiah Hayati, Dra., M.Kes
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





