UNAIR NEWS Mahasiswa kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kali ini, Muhammad Irfan Permana Hidayat dan Raja Luna, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UNAIR berhasil meraih Juara 1 Lomba Esai Hukum Nasional dalam ajang UNJA Law Fair 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Jambi dan diumumkan pada Rabu (25/6/2025).
Dalam kompetisi yang mengangkat tema besar bertajuk Transformasi Hukum Sumber Daya Alam demi Mewujudkan Keadilan Progresif, mereka menyajikan gagasan inovatif untuk memperkuat pengakuan hak masyarakat hukum adat dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia.
Mengangkat Hak Masyarakat Adat
Berkaca pada maraknya pelanggaran terhadap hak masyarakat hukum adat dalam proyek pengelolaan sumber daya alam, terutama dalam kasus pertambangan, Irfan dan Luna mengangkat esai berjudul Penerapan Aboriginal and Treaty Rights Information System sebagai Perwujudan Partisipasi Masyarakat Hukum Adat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia.
淜asus di Raja Ampat menjadi titik awal kami menyadari bahwa pengabaian terhadap masyarakat adat dalam proyek lingkungan masih sangat nyata. Melalui esai ini, kami ingin mendorong pengakuan dan partisipasi aktif mereka dalam kebijakan lingkungan, ungkap Irfan.
Solusi dari Sistem Kanada
Irfan dan Luna mengusulkan adopsi mekanisme Aboriginal and Treaty Rights Information System yang diterapkan di Kanada. Sistem ini mengandalkan pemetaan partisipatif wilayah adat yang diakui secara formal oleh negara. Selain itu, mereka juga mengusulkan reformulasi UU No. 32 Tahun 2009 agar lebih inklusif terhadap kelompok rentan.
淜ami ingin menunjukkan bahwa keadilan lingkungan tak bisa lepas dari keadilan sosial dan masyarakat adat, sebagai penjaga alam, harus menjadi subjek aktif dalam proses tersebut, jelas Luna.
Proses Penuh Perdebatan dan Dedikasi
Butuh waktu dua minggu bagi Irfan dan Luna menyusun esai ini. Prosesnya tidak mudah, penuh dengan diskusi panjang dan revisi konsep agar solusi yang ditawarkan aplikatif secara hukum dan kontekstual di Indonesia.
淭antangan kami bukan hanya menulis, tapi memastikan solusi yang kami tawarkan bisa benar-benar diterapkan. Berkali-kali kami debat internal sebelum yakin dengan struktur akhir esai ini, ucapnya.
Pesan untuk Mahasiswa UNAIR
Kemenangan ini disambut baik oleh kampus, dosen pembimbing, dan keluarga. Bagi mereka, capaian ini bukan hanya gelar, tetapi wujud kepedulian terhadap kelompok rentan yang haknya kerap terabaikan.
淜ami berharap mahasiswa UNAIR tidak hanya fokus di ruang kelas, tapi juga aktif menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya. Perlombaan bukan tujuan akhir, tapi salah satu bentuk kontribusi nyata sebagai intelektual muda, pungkas Irfan. (*)
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





