Para peneliti telah menegaskan bahwa inovasi memiliki peran penting dalam suatu organisasi untuk mempertahankan keunggulan dalam lingkungan kompetitif dan kelangsungan hidup jangka Panjang. Melalui inovasi, organisasi diharapkan terus meningkatkan produk dan layanannya agar dapat mengungguli pesaingnya. Ide-ide baru diketahui mengarah pada inovasi, meskipun demikian, pelaksanaannya ditentukan oleh manajemen organisasi dan individu di dalamnya tidak secara spesifik mendefinisikan inovasi, namun menyebutnya sebagai sesuatu yang lebih besar dan melampaui kreativitas, dengan diferensiasi sebagai esensi tunggalnya. Mereka menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide, sedangkan inovasi berkaitan dengan penciptaan atau penerapan ide-ide yang berguna dan implementasinya. Oleh karena itu, inovasi memerlukan pengetahuan baru dan kebaruan serta proses pengerjaan ulang suatu produk dan penerapannya secara nyata.
Perpustakaan, termasuk lembaga atau organisasi penyedia berbagai sumber ilmu pengetahuan, juga memerlukan inovasi. Terdapat perkembangan penting di bidang perpustakaan dan layanan informasi, namun tidak diikuti dengan kreativitas dan inovasi. Sehubungan dengan hal tersebut, inovasi di bidang perpustakaan diperlukan karena berkaitan dengan proses pengembangan layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, seperti menawarkan layanan baru atau inovasi teknologi yang memadukan digitalisasi dan perilaku pencarian informasi terkini oleh pengguna.
Pentingnya peningkatan IWB pada pustakawan Kantor Perpustakaan Daerah mendorong peneliti untuk menganalisis mekanisme yang mempengaruhi perilaku kerja inovatif di kalangan pustakawan. Terdapat kesenjangan literatur yang konsisten mengenai apa yang merupakan efek mediasi dan moderasi pada proses memprediksi perilaku kerja inovatif pustakawan melalui berbagai pendahulunya. Penelitian ini menganalisis proses dorongan terhadap perilaku kerja inovatif pustakawan melalui kepemimpinan transformasional dan iklim inovasi, serta bagaimana kekuatan hubungan tersebut ditentukan dalam perspektif interaksionis multilevel. Peneliti menemukan bahwa kepemimpinan transformasional secara langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku kerja inovatif pustakawan di Kantor Perpustakaan Kota Malang, Kantor Perpustakaan Kabupaten Gunung Kidul, dan Kantor Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan positif langsung antara kepemimpinan transformasional dan perilaku kerja inovatif. Kepemimpinan transformasional juga merupakan variabel paling kuat yang berpengaruh positif terhadap perilaku kerja inovatif.
Berdasarkan hasil penelitian, kepemimpinan transformasional mempunyai pengaruh langsung yang signifikan dan positif terhadap iklim inovasi pustakawan di Kantor Perpustakaan Kota Malang, Kantor Perpustakaan Kabupaten Gunung Kidul, dan Kantor Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat kepemimpinan transformasional yang baik maka semakin baik pula iklim inovasi pada pustakawan. Hubungan positif dan signifikan secara langsung antara kepemimpinan transformasional dan iklim inovasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional yang baik akan mampu meningkatkan iklim inovasi.
Inovasi adalah upaya yang memakan waktu dan berisiko, oleh karena itu para pemimpin harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja inovatif anggotanya. Pemimpin transformasional mendorong keterbukaan karyawan, eksperimen dan perilaku pengambilan risiko, yang pada gilirannya mendorong perilaku kerja inovatif dalam konteks organisasi.
Dari hasil uji hipotesis juga ditemukan bahwa iklim inovasi mempunyai pengaruh langsung yang signifikan dan positif terhadap perilaku kerja inovatif pustakawan pada Kantor Perpustakaan Kota Malang, Kantor Perpustakaan Kabupaten Gunung Kidul, dan Kantor Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang semakin inovatif akan semakin meningkatkan perilaku inovatif pada pustakawan. Hubungan negatif langsung antara iklim inovasi dan perilaku kerja inovatif. Kepemimpinan transformasional dapat memberdayakan anggota serta menciptakan iklim inovasi di lingkungan kerja. Ketika kepemimpinan transformasional dimasukkan ke dalam model secara terpisah melalui iklim inovasi, terbukti dapat mempengaruhi perilaku kerja inovatif.
Innovation Climate (IC) merupakan iklim yang mendorong karyawan untuk berinovasi dan mencoba strategi baru dalam organisasi. Sebab, inovasi tidak bisa diciptakan dalam iklim yang bertentangan dengan kreativitas dan inovasi. Di perpustakaan, iklim seperti ini diperlukan untuk memperkenalkan ide-ide konstruktif yang sangat diperlukan dibandingkan hanya mengambil posisi reaktif terhadap perubahan. Terciptanya iklim inovasi di perpustakaan tidak lepas dari peran pustakawan. Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku inovatif pustakawan dengan iklim inovasi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa iklim inovasi dapat menjelaskan cara dan tingkat organisasi dalam memperkenalkan inovasi dan mendorong perilaku kerja inovatif.
Oleh: Dyah Puspitasari Srirahayu
Lebih lengkap dapat dibaca di





