Hati memiliki sifat imunologis unik yang membuat penolakan yang dimediasi antibodi (antibody-mediated rejection; AMR) jarang terjadi, namun tetap signifikan. Antibodi spesifik donor (donor-specific antibody; DSA), yang dapat berupa preformed atau muncul de novo setelah transplantasi, memainkan peran sentral dalam patogenesis AMR dengan menargetkan antigen leukosit manusia (HLA) pada hati donor. Respon imun ini memicu aktivasi komplemen, kerusakan sel, dan inflamasi yang dapat menyebabkan disfungsi dan kegagalan cangkok. Terdapat dua bentuk presentasi AMR攅pisode akut yang ditandai dengan onset cepat disfungsi hati dan kasus kronis yang berkembang perlahan menuju fibrosis dan kegagalan cangkok jangka panjang. Tantangan diagnostik muncul dari kompleksitas imunologis hati, dengan temuan seperti deposisi C4d dan penanda histologis seringkali tumpang tindih dengan kondisi lain, sehingga memerlukan kombinasi kriteria serologis, histologis, dan klinis untuk diagnosis yang akurat. Privilege imun dan kapasitas regeneratif hati memberikan perlindungan parsial terhadap DSA, tetapi paparan kronis terhadap antibodi ini tetap dapat menyebabkan cedera cangkok progresif. Strategi penatalaksanaan AMR saat ini termasuk optimalisasi terapi imunosupresi dengan inhibitor kalsineurin dan mikofenolat mofetil, penggunaan plasmaferesis untuk penghapusan antibodi yang cepat, dan terapi baru seperti inhibitor proteasom seperti bortezomib. Artikel ini juga menyoroti peran imunoglobulin intravena (IVIG) dan antibodi monoklonal seperti rituximab pada kasus refrakter. Potensi pendekatan baru, termasuk belatacept dan agen pengatur imun lainnya juga memberikan harapan untuk meningkatkan hasil pada kasus AMR yang sulit ditangani.
Penulis:
dr. Henry Sutanto
dr. Ummi Maimunah, Sp.PD, K-GEH
Dr. dr. Deasy Fetarayani, Sp.PD, K-AI
Informasi lebih lengkap dari tinjauan pustaka ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666967624000151
Donor-specific antibodies and their impact on antibody-mediated rejection post-liver transplantation: A comprehensive review
Henry Sutanto, Ummi Maimunah, and Deasy Fetarayani





