Parenting atau pengasuhan adalah segala tindakan yang menjadi bagian dalam proses interaksi dan berlangsung terus menerus, serta mempengaruhi bukan hanya bagi anak tapi juga orangtua, dengan tujuan melindungi, merawat, mengajari, mendisiplinkan dan memberi panduan (Bornstein, 2019). Proses panjang dalam pengasuhan tersebut merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi orangtua dan memiliki dampak terhadap perkembangan anak. Tidak jarang pengalaman orangtua memunculkan rasa bahagia, haru, dan penuh dengan antusias dalam menghadapi perilaku anak. Namun, terkadang juga ada tekanan yang dialami orangtua dalam mengahadapi perilaku yang sulit dari anak, sehingga memunculkan perasaan khawatir, kecemasan, stress sampai pada gejala depresi. Hal inilah yang nantinya akan berpengaruh pada kualitas pengasuhan orangtua terhadap anak.
Disisi lain fenomena tentang pengasuhan masih mencerminkan kualitas yang kurang. Hasil survei oleh KPAI (2017) tentang kualitas pengasuhan anak di Indonesia masih dibawah 50%, hal tersebut ditunjukkan dengan kuantitas dan kualitas berkomunikasi hanya satu jam dalam sehari yakni 47,1% oleh ayah dan 40,6% oleh ibu. Komunikasi yang digunakan ibu yaitu 51,8% mengaku kurang memberikan pujian, 89,8% suka memarahi anak, dan 74,4% suka menakuti atau mengancam anak ketika berbuat kesalahan. Kualitas pendidikan dan pengetahuan orangtua terkait pengasuhan anak masih lemah, dimana 27,9% (ayah) dan 36,9% (ibu) mencari informasi merawat dan mengasuh anak sebelum menikah, lainnya 38,9% pada ayah dan 56,2% ibu yang mencari informasi merawat serta mengasuh anak setelah menikah. Keterlibatan secara langsung dalam proses pengasuhan anak oleh orangtua adalah 75% dengan menggunakan jasa oranglain, sedangkan 25% yang menyatakan tidak melibatkan oranglain (diasuh oleh orangtua sendiri). Kebiasaan orangtua mendampingi anak dalam memilih permainan sudah cukup baik dimana 74,1 % ayah dan 76,6% ibu menyatakan mendampingi anak dalam memilih permainan sesuai dengan tumbuh kembangnya. Namun, hasil juga masih menemukan terdapat 43% orangtua tidak memberikan pengawasan dan pendampingan terhadap anak dalam bermain dengan mengakses media sosial.
Berdasarkan survei diatas, maka pengasuhan memang menuntut orangtua memiliki komitmen dalam keterlibatan untuk mengasuh anak, kesediaan waktu dalam kualitas komunikasi, proses pendampingan pada anak, dan menciptakan lingkungan yang hangat dan harmonis bagi anak (Lugo_Gil & Tamis-LeMonda, 2008). Kondisi seperti diatas mengharuskan orangtua untuk melakukan pendampingan terhadap anak dengan penuh kasih sayang, mendengarkan dengan baik, dan tidak mudah menghakimi dalam setiap perilaku anak, artinya menerima anak tanpa syarat. Pengasuhan yang dimaksud bisa dikembangkan melalui pendekatan mindful parenting.
Apa yang dimaksud dengan mindful parenting?
Mindful parenting adalah pengasuhan yang dilakukan dengan penuh kesadaran untuk hadir dan bertindak dengan bijaksana terhadap terhadap anak serta focus pada kebutuhan anak (Kabat-Zinn & Kabat-Zinn, 2014). Dengan mindful parenting orangtua memungkinkan untuk memperhatikan dan mendengarkan kebutuhan anak dengan lebih jelas dan mempercayai diri serta hati sendiri, sehingga proses pengasuhan tidak hanya sebuah rutinitas mengasuh anak, namun bagaimana keterlibatan kesadaran dalam pengasuhan adalah sesuatu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Dengan mempraktekkan mindful parenting, dapat mengurangi praktik pengasuhan yang negatif melalui penggunaan strategi pengasuhan yang lebih efektif dengan meningkatkan rasa percaya dan berbagai emosional antara orangtua-anak (Duncan, dkk, 2009).
Mindful parenting memperluas konsep kesadaran pada interaksi orangtua-anak, yang terdiri dari lima elemen utama, yaitu: mendengarkan dengan penuh perhatian, pengaturan diri dalam hubungan orangtua-anak, kesadaran emosional diri terhadap anak, penerimaan tidak menghakimi diri sendiri dan anak, dan kasih sayang untuk diri sendiri dan anak (Duncan, dkk, 2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi mindful parenting?
Hasil literature review yang sudah dilakukan melalui metode scoping review oleh Hidayati & Hartini, (2022), melalui 16 naskah yang terpilih pada rentang tahun publikasi 2015 sampai pada 2021, menunjukkan bahwa ada tiga faktor penentu mindful parenting yaitu: karakteristik orangtua, karakteristik anak dan karakteristik kontekstual: 1). Karakteristik orangtua: meliputi demografi (misalnya; tingkat pendidikan), kepribadian (misalnya; kecemasan, stress dan depresi), sikap (misal; gaya pengasuhan, keterikatan atau attachment) dan keyakinan (misalnya; rasa bersyukur). 2). Karakteristik anak: meliputi tempramen, jenis kelamin dan kesadaran. 3). Karakteristik kontekstual: meliputi kualitas komunikasi antara orangtua-anak dan self-disclosure.
Mindful parenting mampu meningkatkan kualitas hubungan orangtua-anak, sehingga hal tersebut akan menurunkan gejala kecemasan dan faktor resiko bagi perilaku anak utamanya diusia remaja serta meningkatkan kesejahteraan psikologisnya (Moreira & Canavarro, 2018).
Penulis: Fina Hidayati & Nurul Hartini
Link Jurnal:





