Fistula vesikovaginal merupakan masalah di kalangan wanita di negara berkembang. Morbiditas yang signifikan tidak hanya karena masalah medis tetapi juga masalah psikososial yang serius. Penyembuhan luka pasca operasi merupakan tantangan, dan tingkat kekambuhan tetap tinggi. Penutupan fistula vesikovaginal yang berhasil membutuhkan perbaikan yang akurat dan tepat waktu dengan prosedur yang menggunakan prinsip dasar bedah. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 3 juta wanita di dunia mengalami fistula karena kebidanan, dengan 50.000 hingga 130.000 kasus baru fistula per tahun. Di Amerika Serikat, insiden fistula adalah <0,5% setelah histerektomi sederhana dan 10% setelah histerektomi radikal. Studi di Afrika Sub-Sahara telah melaporkan tingkat kejadian fistula vesikovaginal sebesar 33.000 per tahun, dan perbaikan fistula diperkirakan terjadi pada sekitar 10.000 kasus per tahun. Zambon dkk melaporkan 23 pasien yang mengalami fistula urogenital kompleks (2004-2007), 43% di antaranya gagal dalam perbaikan abdomen.
Kegagalan perbaikan fistula dipengaruhi oleh proses penyembuhan luka, infeksi dan sistem imunologi. Ada kebutuhan untuk menemukan terapi baru, efektif dan kurang invasif untuk fistula vesikovaginal. Penyembuhan luka di daerah kandung kemih membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan kulit. Ada empat fase penyembuhan luka: hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Keempat fase ini tumpang tindih dan dapat berlangsung beberapa lama. Setiap fase dipengaruhi oleh sitokin, faktor pertumbuhan dan komunikasi antar sel yang kompleks. Potensi penggunaan sel punca sebagai terapi alternatif di bidang uroginekologi sedang diselidiki. Sumber sel induk biomaterial yang melimpah di bidang obstetri dan ginekologi adalah amnion manusia. Amnion merupakan bahan yang ideal untuk rekayasa jaringan karena mudah diakses dan kaya akan sel punca mesenkim untuk perbaikan dan regenerasi jaringan. Lapisan sel epitel amnion mengandung fibroblast growth factor (FGF), platelet-derived growth factor (PDGF), epidermal growth factor (EGF) dan vascular endothelial growth factor (VEGF).
Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi apakah amnion beku-kering manusia berguna sebagai perancah sel punca mesenkimal untuk perbaikan fistula vesikovaginal melalui penilaian fase proliferasi dan remodeling. Fase proliferatif dan remodeling didasarkan pada ekspresi PDGF, VEGF, FGF, occludin dan claudin-4. Hasil penelitian ini menemukan bahwa amnion beku-kering ditemukan berperan dalam penyembuhan luka proses dalam model perbaikan fistula vesikovaginal. Penelitian ini diharapkan akan meningkatkan layanan uroginekologi. Penelitian eksperimental yang berfokus pada penggunaan amnion beku-kering pada manusia, dan parameter pemeriksaan lain yang terkait dengan fase penyembuhan luka di kasus fistula vesikovaginal dianjurkan.
Penulis: Eighty Mardiyan Kurniawati, Budi Santoso, Fedik Abdul Rantam, Budi Iman Santoso, Widjiati, Tri Hastono Setyo Hadi, Gatut Hardianto, Hari Paraton
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Kurniawati EM, Santoso B, Rantam FA, Santoso BI, Widjiati, Hadi THS, Hardianto G, Paraton H. Does freeze dried amnion useful as scaffold for mesenchymal stem cell for repair of vesicovaginal fistula? An overview of proliferative and remodeling phase in the wound healing process. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2022 Jul;274:113-116. doi: 10.1016/j.ejogrb.2022.05.017. Epub 2022 May 20. PMID: 35640439.





