51动漫

51动漫 Official Website

Apakah Terdapat Reaktivitas Silang antara Antibodi Dengue dan SARS-CoV-2?

Apakah Terdapat Reaktivitas Silang antara Antibodi Dengue dan SARS-CoV-2?
Sumber: Bruker

Selama pandemi COVID-19, berbagai tantangan muncul bagi negara-negara tropis yang memiliki beban penyakit menular yang tinggi, termasuk Indonesia yang menjadi salah satu negara endemik dengue. Salah satu tantangan tersebut adalah potensi terjadinya reaktivitas silang antara antibodi yang dihasilkan oleh infeksi dengue dengan SARS-CoV-2, yang dapat menyebabkan hasil tes positif palsu dan berujung pada misdiagnosis. Seiring meningkatnya kasus COVID-19 di negara-negara endemik dengue, para peneliti mulai menemukan adanya kasus di mana pasien COVID-19 awalnya didiagnosis sebagai pasien dengue, karena kemiripan gejala klinis, seperti demam, ruam, dan nyeri sendi. Gejala awal yang mirip antara kedua penyakit ini, ditambah dengan hasil tes serologis yang mungkin bereaksi silang, menimbulkan kekhawatiran besar dalam hal akurasi diagnosis. Misdiagnosis ini tidak hanya dapat mempengaruhi perawatan pasien, tetapi juga memengaruhi akurasi pelaporan epidemiologi yang pada akhirnya berdampak pada kebijakan kesehatan masyarakat.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Institute of Tropical Disease (ITD) 51动漫 di Surabaya, Jawa Timur, yang merupakan salah satu daerah endemik dengue di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengonfirmasi kemungkinan adanya reaktivitas silang antara antibodi dengue dan SARS-CoV-2 pada sampel serum yang diambil sebelum pandemi COVID-19. Dalam studi ini, 238 sampel serum dari pasien dengan infeksi dengue yang dikonfirmasi sebelum pandemi diuji menggunakan dua metode, yaitu Rapid Detection Test (RDT) dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah ada antibodi yang bereaksi terhadap SARS-CoV-2 pada sampel dari pasien dengue ini. Selain itu, untuk membandingkan hasil, para peneliti juga mengambil sampel dari pasien dengue yang terinfeksi selama pandemi dan dari pasien COVID-19 yang sudah terkonfirmasi. Hasil dari masing-masing kelompok ini kemudian dibandingkan untuk mengidentifikasi adanya reaktivitas silang dan mengukur konsentrasi antibodi yang ada.

Dari pengujian dengan metode RDT, sekitar 6,7% dari sampel dengue sebelum pandemi menunjukkan reaksi terhadap SARS-CoV-2, namun reaktivitas ini terjadi pada tingkat yang sangat rendah. ELISA, yang merupakan metode dengan tingkat sensitivitas lebih tinggi, juga digunakan untuk memvalidasi temuan dari RDT. Hasil menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa reaktivitas silang yang terdeteksi, konsentrasi antibodi SARS-CoV-2 pada sampel-sampel ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan sampel COVID-19 yang asli. Reaksi silang ini dapat disebabkan oleh interaksi antara protein SARS-CoV2 yang berupa anti-S1-RBD dengan protein virus dengue, yaitu protein E, prM, dan NS1. Reaksi silang terkuat adalah dengan protein E dan tidak ada reaksi silang dengan protein NS4. Selain itu, terdapat pula kesamaan antara epitop protein SARS-CoV-2 S1-RBD dan DENV E pada lokasi asam amino 343-347 dan 64-69. Kedua epitop ini terletak di area permukaan virus. Selain itu, urutan protein dengue NS1 pada asam amino 115-119 juga memiliki kesamaan dengan protein SARS-CoV2 S1-RBD 376-380. Dari berbagai macam penelitian yang ada, reaksi silang ini tidak hanya ditemukan pada sampel dengue di Indonesia, melainkan juga di beberapa negara lain, walau memang angka reaktivitas yang ada di beberapa penelitian lain juga disebutkan tidak tinggi.

Dari sampel pasien dengue yang diambil selama pandemi, lebih dari 75% menunjukkan hasil positif untuk antibodi SARS-CoV-2, khususnya IgG. Namun, kemungkinan besar ini merupakan indikasi infeksi SARS-CoV-2 asimptomatik yang terjadi sebelumnya, bukan karena reaktivitas silang. Selain itu, terdapat pula kemungkinan adanya reaktivitas silang dengan flu musiman yang sering terjadi di Indonesia. Hal ini menggarisbawahi perlunya pengawasan ketat dalam interpretasi hasil uji serologis untuk COVID-19, khususnya di daerah endemik dengue.

Implikasi Klinis dan Epidemiologis

Penelitian ini menunjukkan bahwa risiko terjadinya reaktivitas silang antara antibodi dengue dan SARS-CoV-2 sebenarnya tergolong rendah, meskipun tidak bisa diabaikan sepenuhnya. Temuan ini penting, terutama bagi klinisi di daerah endemik, karena memberikan wawasan tentang kemungkinan positif palsu dalam diagnosis COVID-19 menggunakan tes serologis. Penggunaan uji yang lebih spesifik, seperti ELISA, dalam pengujian antibodi SARS-CoV-2 di daerah endemik dengue menjadi penting untuk meningkatkan akurasi diagnosis.

Di samping itu, temuan ini juga memberikan panduan dalam pengambilan kebijakan terkait serosurvei dan penentuan tingkat kekebalan populasi di daerah endemik. Di negara-negara tropis seperti Indonesia, di mana infeksi dengue merupakan penyakit yang umum, penting untuk menghindari kesalahan dalam menginterpretasikan hasil serologis COVID-19. Kesalahan dalam interpretasi dapat mempengaruhi estimasi kekebalan populasi terhadap COVID-19 dan pada akhirnya, kebijakan vaksinasi serta pengendalian penyakit menular.

Penelitian ini menyarankan bahwa metode serologis yang ada perlu diperbaiki untuk meminimalkan kemungkinan hasil positif palsu pada pasien yang telah terinfeksi dengue. Langkah ke depan yang disarankan meliputi pengembangan metode uji yang mampu mendeteksi antibodi secara spesifik tanpa bereaksi silang dengan penyakit lain. Selain itu, studi lanjut yang mengeksplorasi reaktivitas silang antibodi SARS-CoV-2 dengan patogen lain yang umum di daerah endemik sangat diperlukan. Pada akhirnya, meskipun penelitian ini menunjukkan bahwa risiko reaktivitas silang antara antibodi dengue dan SARS-CoV-2 relatif rendah, para praktisi kesehatan dan pembuat kebijakan tetap perlu waspada dalam menerapkan dan menginterpretasikan tes serologis. Hal ini terutama penting dalam konteks pandemi COVID-19, di mana keakuratan dalam penentuan status infeksi dan kekebalan sangat berpengaruh terhadap upaya pengendalian wabah dan kebijakan kesehatan masyarakat.

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu

Link:

Baca juga: Analisis Filogenetik dan Mutasi Sars-Cov-2 pada Kelelawar

AKSES CEPAT