UNAIR NEWS “ 51¶¯Âþ berkolaborasi dengan , menggerlar Asia-Europe Meeting (ASEM) Day 2026. Pembukaan kegiatan ini berlangsung pada Rabu (23/04/2026) di Hall 1 Gedung Manajemen 51¶¯Âþ Kampus MERR-C. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi generasi muda dan para penggerak lingkungan untuk membahas tantangan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap program keberlanjutan.
Diskusi tersebut menghadirkan berbagai perspektif dari komunitas lingkungan yang telah aktif melakukan aksi nyata di masyarakat. Para narasumber berbagi pengalaman langsung terkait dinamika di lapangan, mulai dari membangun kesadaran publik, menghadapi perbedaan pola pikir, hingga merancang strategi agar program keberlanjutan dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Membangun Kesadaran dari Permasalahan Nyata
Maulina Gheananta selaku (Co-founder of ) menyoroti bahwa tantangan utama dalam mendorong partisipasi masyarakat terletak pada rendahnya kesadaran terhadap isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah di kawasan seperti Bantargebang. Berangkat dari kondisi tersebut, 4GoodThings berupaya menghadirkan solusi melalui pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai guna dengan pendekatan desain berkelanjutan.

Gerakan ini tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Dalam memperluas pengaruhnya, edukasi menjadi langkah penting, terutama dengan menjangkau institusi pendidikan seperti sekolah. Selain itu, pemanfaatan media sosial, khususnya Instagram, dinilai efektif dalam menyebarkan kesadaran kepada generasi muda. Ia juga menekankan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal kecil di lingkungan rumah tangga, seperti memilah sampah plastik atau mengolahnya menjadi barang sederhana, selama dilakukan secara konsisten.
Mengubah Pola Pikir melalui Aksi Kolektif
Selanjutnya, Muhammad Ikhsan Destian selaku Co-founder of menjelaskan bahwa Pandawara Group merupakan gerakan lingkungan yang digerakkan oleh anak muda dengan fokus tidak hanya pada aksi bersih-bersih, tetapi juga edukasi kepada masyarakat. Melalui berbagai program seperti Jagabumi (Clean Up Initiative), Pancaranata (Raising Awareness), Ajakarsa (Environmental Education), Manahrasa (Infrastructure Improvement), dan Jaganadara (Community Development), gerakan ini berupaya menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada aksi di lapangan, tetapi pada perbedaan perspektif di masyarakat. Tidak semua orang memiliki kesadaran yang sama terhadap pentingnya menjaga lingkungan, sehingga perlu pendekatan yang berorientasi pada aksi dan perubahan perilaku. Dalam hal ini, publikasi digital dan keterlibatan komunitas menjadi strategi penting untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Ia juga mendorong generasi muda untuk mulai bertindak, karena setiap langkah kecil memiliki kontribusi dalam menciptakan perubahan yang lebih besar.
Konsistensi dan Peran Media Sosial dalam Gerakan Lingkungan
Sesi pamungkas, menghadirkan Arnedi Rizki Adidharma sebagai Representative of The Sanitizers. Ia membagikan bahwa gerakan lingkungan sering kali bernula dari inisiatif individu yang kemudian berkembang menjadi aksi kolektif. Kegiatan seperti bersih-bersih rutin mingguan, program tematik seperti ngabubersih serta edukasi kepada generasi muda menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan.

Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki pola pikir yang sama. Anggapan bahwa kegiatan bersih-bersih tidak akan berdampak karena sampah akan kembali muncul menjadi salah satu hambatan utama. Dalam menghadapi hal tersebut, media sosial menjadi alat yang sangat membantu dalam menyebarkan kesadaran dan mengajak partisipasi masyarakat. Melalui konten digital, pesan lingkungan dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan mendorong keterlibatan generasi muda.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya memulai dari langkah kecil. Terlalu fokus pada aksi besar justru dapat membuat seseorang merasa kewalahan. Ia mengungkapkan bahwa konsistensi dalam tindakan sederhana menjadi kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





