Saat ini, Indonesia sedang berhadapan dengan ancaman serius terkait meningkatnya jumlah perokok dengan prevalensi mencapai 7,2%. Berdasarkan data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada tahun 2019, sekitar 19,2% pelajar di Indonesia menggunakan produk tembakau. Menurut data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kemenkes RI pada tahun 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia perkiraan mencapai 70 juta orang. Dengan 56,5% di antaranya merupakan kelompok perokok dengan usia 15-19 tahun, diikuti sebanyak 18,4% merupakan perokok dengan usia 10-14 tahun.
Situasi ini tentu bukanlah sesuatu yang dapat membanggakan. Peningkatan prevalensi perokok di kalangan remaja tentu juga dapat mengancam masa depan bangsa Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023, jika persentase rata-rata penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun yang merokok telah meningkat menjadi 27,24% dari tahun sebelumnya sebesar 26,76%. Meningkatnya pertumbuhan perokok aktif di Indonesia sendiri juga tidak terlepas dari industri produk tembakau yang kerap menargetkan produknya di masyarakat, terutama anak dan remaja, melalui media sosial.

Terlebih lagi, kini sedang gencar dengan adanya rokok elektrik yang semakin remaja minati. Menurut data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) pada tahun 2021, jika prevalensi rokok elektrik naik 0,3% pada tahun 2019 menjadi 3% pada tahun 2021. Bahkan juga terdapat sebutan di antara kalangan remaja di mana jika kita tidak merokok maka kita tidak dapat disebut sebagai seorang yang keren. Hal-hal tersebutlah yang menjadikan salah satu faktor besar dalam peningkatan perokok di kalangan remaja ini, yaitu karena gengsi dan rasa keinginan untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Selain itu, juga masih banyak miskonsepsi pada masyarakat jika beralih pada rokok elektrik masih lebih baik daripada menggunakan rokok konvensional. Padahal dampak yang ditimbulkan keduanya masih sama-sama membahayakan. Sehingga juga diperlukan adanya peningkatan kemampuan individu untuk dapat menghindari hal tersebut.
Cara menghindari perilaku merokok:
- Usahakan untuk menjauh dari lingkungan teman-teman yang sedang merokok.
- Percayalah, merokok bukanlah satu-satunya cara untuk bersosialisasi.
- Jangan ragu untuk mengatakan bahwa Anda bukan seorang perokok.
- Tingkatkan pengetahuan tentang dampak buruk yang rokok timbulkan
- Jauhi segala hal yang berhubungan dengan rokok, seperti sponsor, iklan, poster, atau penawaran rokok gratis.
- Isi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat, seperti berolahraga, membaca, atau menjalani hobi yang mendukung kesehatan.
Seperti yang kita ketahui jika perilaku merokok tidak hanya membahayakan kesehatan bagi perokok itu sendiri. Melainkan juga bagi orang-orang di sekitarnya baik yang sengaja maupun tidak sengaja menghirup asap rokok tersebut. Dampak penyakit yang dapat timbul antara lain seperti kerusakan otak, kanker paru-paru, kanker tenggorokan, penurunan performa pada tulang dan otot, penurunan fungsi seksual, kematian, dan lain-lain. Oleh karena itu perlu penekanan berupa intervensi berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan ini.
Strategi mengatasi masalah perilaku merokok di kalangan remaja:
- Pendidikan Kesehatan
Penting untuk meningkatkan pendidikan kesehatan dan kampanye anti-rokok. Dengan edukasi yang tepat, remaja dapat lebih memahami bahaya merokok dan mengubah pandangan serta perilaku mereka terhadap kebiasaan ini. - Kebijakan dan Regulasi
Penguatan larangan merokok di tempat umum perlu menjadi prioritas. Menciptakan kawasan bebas rokok di sekolah dan tempat umum dapat mengurangi paparan remaja terhadap asap rokok dan mendorong lingkungan yang lebih sehat. - Materi Bahaya Rokok di Kurikulum Sekolah
Bahaya merokok perlu menjadi bagian dari kurikulum sekolah. Hal ini bisa mendapatkan dukungan dari pelatihan khusus bagi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan agar mereka mampu menyampaikan informasi ini secara efektif kepada siswa. - Layanan Konseling di Sekolah untuk Siswa yang Ingin Berhenti Merokok
Sekolah perlu menyediakan layanan konseling untuk siswa yang ingin berhenti merokok. Pengadaan layanan ini dapat secara langsung melalui pusat kesehatan sekolah atau secara daring. Dukungan psikologis yang berkelanjutan akan membantu siswa mencapai tujuan ini. Program ini juga selaras dengan inisiatif Layanan Konseling Bebas Biaya dari Kementerian Kesehatan.
Dengan memahami berbagai faktor yang mendorong perilaku merokok dan dampaknya, terutama pada remaja, serta menerapkan strategi pengendalian yang tepat, harapannya angka perokok di Indonesia dapat berkurang. Peningkatan kesadaran tentang bahaya merokok, penegakan aturan kawasan bebas rokok, dan pemberian dukungan melalui konseling bagi mereka yang ingin berhenti merokok adalah langkah-langkah penting yang harus terus optimal. Langkah-langkah ini harapannya bisa untuk melindungi generasi muda, menciptakan individu yang lebih sehat, dan mendukung masa depan bangsa yang lebih baik.
Penulis: Muhammad Aqeela Bagus Pramudityo, Mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin





