Dalam proses identifikasi forensik, kondisi gigi sering kali menjadi salah satu petunjuk paling andal, terutama ketika identifikasi visual atau dokumen administratif tidak tersedia. Penelitian mengenai atrisi gigi pada masyarakat Dayak Kenyah di Desa Sungai Bawang, Kalimantan Timur, memberikan kontribusi penting bagi pengembangan data odontologi forensik berbasis populasi lokal Indonesia. Atrisi gigi merupakan proses aus atau keausan permukaan gigi yang terjadi secara alami akibat aktivitas pengunyahan dalam jangka waktu panjang. Tingkat keausan ini dapat mencerminkan usia biologis seseorang, serta dipengaruhi oleh faktor kebiasaan makan dan pola penggunaan gigi sehari-hari.
Dalam bidang odontologi forensik, pola atrisi gigi kerap dimanfaatkan sebagai salah satu parameter untuk memperkirakan usia individu, khususnya pada kelompok dewasa. Seiring bertambahnya usia, tingkat keausan gigi umumnya meningkat. Penelitian pada populasi Dayak Kenyah menunjukkan adanya variasi derajat atrisi yang dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat keausan tertentu. Data tersebut memberikan gambaran pola aus gigi yang khas dalam konteks populasi setempat. 淒ata berbasis populasi lokal sangat penting dalam mendukung proses identifikasi forensik. Setiap kelompok masyarakat memiliki karakteristik biologis yang dapat berbeda, sehingga pendekatan berbasis data spesifik populasi menjadi krusial, demikian salah satu poin penting dalam penelitian tersebut.
Dalam situasi bencana massal atau kasus forensik tertentu, pemeriksaan gigi sering menjadi metode yang relatif stabil dan dapat diandalkan. Struktur gigi yang kuat memungkinkan informasi biologis tetap dapat dianalisis meskipun jaringan lunak telah mengalami kerusakan. Dengan tersedianya data atrisi gigi pada populasi Dayak Kenyah, penelitian ini memperkaya literatur odontologi forensik Indonesia sekaligus membuka peluang pengembangan database nasional berbasis karakteristik masyarakat lokal. Ke depan, penguatan penelitian di bidang ini diharapkan dapat mendukung sistem identifikasi forensik yang lebih akurat dan berbasis bukti ilmiah, sekaligus memperluas kontribusi akademisi Indonesia dalam ranah forensik internasional.
Penulis: Maria Istiqomah Marini, drg., M.Si.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





