UNAIR NEWS – Wabah Kencing tikus atau Leptospirosis merupakan kasus musiman yang berasal dari kencing tikus. Penyakit dari bakteri leptospira sp tersebut biasanya terjadi pada musim penghujan. Karena bersifat zoonosis, Leptospirosis dapat menyerang hewan ke sesamanya, hewan ke manusia, maupun sebaliknya.
Dosen Divisi Mikrobiologi Veteriner SIKIA UNAIR Ratih Novita Praja drh MSi menyebut sebenarnya tidak semua tikus membawa leptospirosis pada tubuhnya. Tapi, pada lingkungan yang basah dan memiliki air menggenang patut curiga terdapatnya kencing tikus yang mengandung leptospirosis.
Karena itu, hewan maupun manusia yang memiliki luka terbuka harus lebih waspada menghindari tempat semacam itu. 淭idak semua tikus membawa leptospirosis, tapi kita tetap harus mewaspadai tikus yang kencing sembarangan, tuturnya.
Prevalensi Tinggi di Daerah Peternakan yang Becek
Tak hanya menyerang manusia, hewan pun dapat terserang infeksi Leptospirosis. Daerah peternakan dengan lingkungan yang becek dan lembab dapat meningkatkan risiko potensi penularan leptospirosis pada hewan dari air yang ada.
Gejala klinis pada hewan yang terjadi mulai pyrexia, hemolytic anemia, hingga jaundice yang khas apabila organ hepar terdampak. Bahkan infeksi pada babi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan reproduksi akut.
淧ada babi dapat menyebabkan kegagalan reproduksi, mirip dengan infertilitas dan keguguran sporadis, ungkap Dosen SIKIA tersebut.

Leptospirosis Mengancam Hewan Peliharaan
Tak hanya menyerang hewan ternak, Leptospirosis juga dapat menyerang hewan peliharaan di rumah. Anjing memiliki gejala klinis yang terlihat serupa pada manusia. Salah satu yang terlihat adalah terdapatnya pigmentasi warna kuning pada bagian luar kulit maupun gusi.
淐ara melihatnya bisa melihat dari terjadinya ichterus (Penyakit kuning, Red) pada bagian gusi, tuturnya.
Berbeda dengan anjing, kucing dianggap memiliki resistensi terhadap leptospirosis. Namun, keberadaan infeksi Leptospirosis dapat terbukti dengan uji PCR terhadap air kencing.
Leptospirosis dapat menyebabkan manifestasi klinis yang luas antara sedang hingga akut. Dengan masa inkubasi dalam hitungan minggu, dalam sebulan tubuh akan merespons untuk merangsang pembentukan antibodi.
淚nkubasi leptospirosis biasanya terjadi antara 1-2 minggu. Terbentuknya antibodi dapat terjadi dari 1 hingga 1,5 bulan, jelas drh Ratih.
Salah satu bentuk pencegahannya adalah dengan peningkatan biosekuriti kandang dan lingkungan. Jangan sampai ada air menggenang menjadi tempat potensial buang air kecil bagi tikus. Selain itu vaksinasi Leptospira pada anjing juga dapat menjadi pilihan untuk menghindarkan anabul dari infeksi tersebut.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:





