UNAIR NEWS – Pada tanggal 4 Mei 2026 di RW 10 Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya telah berlangsung kegiatan Opening COMDEV 2026 yang meriah serta penuh antusiasme warga. Kegiatan diawali dengan senam bersama kemudian dilanjutkan dengan permainan interaktif yang melibatkan warga untuk membangun kedekatan serta memperkuat solidaritas. Puncak acara ditandai dengan peresmian simbolis oleh Ketua Pelaksana, yaitu Rangga Aditya bersama Perwakilan RW 10, RT 4, 10, dan 12 yang pada tahun ini menjadi penggerak utama. Dengan melibatkan 1.613 penduduk, area binaan ini menjadi contoh penerapan ketiga SDGs yang telah ditetapkan menjadi landasan program. Pemilihan lokasi didasarkan pada kesiapan masyarakat dan komitmen keberlanjutan program di lahan terbatas.
Dalam sambutannya, ketua pelaksana menyampaikan peran COMDEV sebagai fasilitator pemberdayaan melalui tema besar Resik Bumine, Sehat Wargane, Murup Asane. Mahmud selaku Wakil Dekan III FKM 51动漫 menyampaikan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari Tridarma Perguruan Tinggi serta menekankan bahwa 淒isini Bapak dan Ibu adalah dosennya mahasiswa, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara timbal balik antara mahasiswa dan masyarakat.
Pada kegiatan Opening, program COMDEV FKM UNAIR 2026 resmi menjadikan RW 10, Kelurahan Tanah Kali kedinding, Kecamatan Kenjeran sebagai lokasi binaan tahun ini. Wilayah RW ini dihuni oleh 10.174 jiwa dalam 3.087 kartu keluarga yang tersebar di 18 RT serta menjadi bagian dari Kota Surabaya yang menempati posisi kedua kepadatan penduduk tertinggi nasional dengan 8.995 jiwa/km虏.

Masalah utama yang mendasari adalah timbunan sampah organik yang mendominasi. Hal ini diperkuat oleh data BPS dan KLHK di mana Surabaya menghasilkan lebih dari 1.800 ton sampah per hari dengan 60% diantaranya berupa sampah organik. Sebagai solusi, COMDEV memperkenalkan program inti pertama, yaitu Bak Kompos Aerob. Metode ini memanfaatkan mikroorganisme aerob untuk mengurangi limbah rumah tangga menjadi pupuk dalam waktu 34 minggu. Selain mengurangi volume sampah, masyarakat didorong untuk mandiri dalam mengelola limbah domestik secara ramah lingkungan.
Di sisi lain, kepadatan kota mempersempit lahan pertanian sehingga ketergantungan pangan dari luar wilayah semakin tinggi. Maka dari itu, program inti kedua yang diperkenalkan COMDEV adalah Aquaponik. Sistem terintegrasi ini memadukan budidaya ikan (akuakultur) dan tanaman tanpa tanah dalam siklus air tertutup (hidroponik). Caranya dengan kotoran ikan diubah oleh bakteri menjadi nutrisi yang dimanfaatkan tanaman sebagai unsur hara. Aquaponik menjadi solusi cerdas bagi wilayah padat karena hemat air, efisien tempat, serta menghasilkan sayuran segar sekaligus sumber protein ikan secara mandiri.

Ketua pelaksana menyampaikan dalam sambutannya bahwa 淧rogram yang telah kita susun bersama akan mendukung SDGs 3 (Good Health and Well-Being), SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDGs 12 (Responsible Consumption and Production), serta mengajak warga untuk mendukung tujuan global tersebut.
Menutup rangkaian sambutan, perwakilan dari RW 10 menyampaikan apresiasi sekaligus harapan terhadap keberlangsungan program ini, 淩W 10 siap mendukung dan menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama, serta berharap COMDEV mampu membawa perubahan nyata, khususnya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan secara berkelanjutan.





