51动漫

51动漫 Official Website

Pramono Hari Susanto, Alumni FIB UNAIR yang Kini Jadi Sosok Penting di Metro TV

Pramono Hari Susanto, alumnus Fakultas Ilmu Budaya 51动漫, kini menjabat Executive Producer di Metro TV. (Foto: Istimewa)
Pramono Hari Susanto, alumnus Fakultas Ilmu Budaya 51动漫, kini menjabat Executive Producer di Metro TV. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Seringkali muncul stigma bahwa lulusan sastra hanya berkutat di perpustakaan atau ruang kelas. Namun, Pramono Hari Susanto, alumnus 51动漫 mematahkan anggapan tersebut. Kini, ia menduduki posisi strategis sebagai Executive Producer di Metro TV, salah satu stasiun televisi berita terbesar di Indonesia.

Bagi Pramono, ilmu budaya dan sastra bukanlah ilmu yang kaku. Sebaliknya, ia merasa latar belakang keilmuannya sangat relevan dengan industri pers. Memahami bahasa bukan sekadar soal tata bahasa, melainkan soal rasa, diksi, dan kemampuan bercerita (storytelling).

“Memahami sastra dengan segala kekayaan gaya bahasa dan diksi tentunya sangat bermanfaat bagi industri yang mengutamakan interaksi dengan orang lain, termasuk industri pers,” ujarnya.

Membangun “Road Map” Sejak Mahasiswa

Kesuksesan Pramono tidak datang secara instan. Pada tahun 1997, ia sudah merancang road map kariernya dengan aktif di organisasi pers kampus, Suara Airlangga. Baginya, jurnalisme adalah disiplin ilmu yang bersifat open source, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang jurusan.

“Saya memulainya dengan mengikuti pelatihan jurnalistik di media besar seperti Jawa Pos dan Kompas saat masih mahasiswa. Jadi, jalurnya memang sudah saya bangun sejak dini,” tambahnya.

Menavigasi Idealisme di Tengah Arus Industri

Sebagai pemangku program tertinggi (Executive Producer), Pramono memegang tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan antara idealisme jurnalisme dan kepentingan komersial. Ia menekankan bahwa selama sebuah media menyajikan fakta, maka prinsip jurnalisme tetap terjaga.

“Pilihan fakta atau durasi mungkin bisa dipengaruhi kebijakan media, tapi yang tidak boleh dilakukan adalah menyajikan berita bohong (fake news). Idealisme jurnalisme akan tetap melekat sampai kita menanggalkan profesi ini,” tegasnya.

Pesan untuk Mahasiswa: Jangan Minder!

Pramono memberikan pesan motivasi bagi mahasiswa FIB UNAIR yang mungkin merasa ragu dengan masa depan mereka di dunia kerja praktis. Ia menganalogikan mahasiswa berkualitas seperti “sebongkah emas”.

“Sebongkah emas akan selalu menjadi emas dan tetap bersinar, baik ditaruh di etalase mewah bersama emas yang lain, maupun ditaruh di baskom bersama kerikil, ungkap Pramono

Ia mendorong mahasiswa untuk terus mengasah soft skill, terutama kemampuan komunikasi dan adaptasi teknologi digital. Di era sekarang, jurnalis dituntut menjadi multi-platform, mampu menjadi reporter sekaligus juru kamera dan presenter.

“Jangan memusingkan label akademik. Miliki daya dobrak dan daya saing agar kompetitif. Tentukan road map kalian, lalu mulailah menapaki anak tangga menuju kesuksesan,” pungkasnya.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT