Kepemimpinan memainkan peran krusial dalam memotivasi pekerja di sektor publik untuk melaksanakan proyek-proyek kreatif serta menghasilkan ide dan solusi yang inovatif. Sebagai institusi pemerintahan utama dalam sektor publik, kantor imigrasi memerlukan inovasi yang berkelanjutan. Penerapan kepemimpinan ambidekster dapat memfasilitasi pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara komprehensif dampak kepemimpinan ambidekster terhadap praktik kerja kreatif di sektor keimigrasian. Studi ini mengkaji pengaruh kepemimpinan ambidekster terhadap praktik kerja kreatif dan kinerja pegawai. Data dikumpulkan dari 200 personel di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya dengan menggunakan metodologi potong lintang. Teknik pengambilan sampel sistematis digunakan untuk memilih partisipan, dan survei dilakukan secara independen. Hubungan struktural antara kepemimpinan terbuka dan tertutup, perilaku kerja inovatif (IWB), serta kinerja pegawai dianalisis dengan menggunakan pemodelan persamaan struktural partial least squares (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.0. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan ambidekster berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap perilaku kerja inovatif (IWB)
Pada dasarnya, penelitian ini menyajikan sebuah kesimpulan yang jelas: gaya kepemimpinan, baik yang berfokus pada struktur maupun keterbukaan, memainkan peran penting dalam mendorong inovasi dan kinerja di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya. Dengan mendorong keseimbangan antara arahan yang jelas dan kebebasan berkreasi, para pemimpin dapat membangun lingkungan kerja di mana inovasi dapat tumbuh subur, yang pada akhirnya mengarah pada peningkatan kinerja karyawan. Perilaku Kerja Inovatif berperan sebagai mediator kunci dalam proses ini, menjembatani hubungan antara kepemimpinan dan kinerja, serta menegaskan pentingnya menumbuhkan budaya inovasi untuk mencapai keberhasilan organisasi yang berkelanjutan.
Berdasarkan temuan ini, lembaga pelayanan publik, khususnya kantor imigrasi, perlu memprioritaskan program pengembangan kepemimpinan yang mendorong praktik kepemimpinan ambidextrous. Program pelatihan harus membekali para pemimpin dengan keterampilan untuk menyeimbangkan Perilaku Kepemimpinan Terbuka, yang mendorong kreativitas, dan Perilaku Kepemimpinan Tertutup, yang memastikan fokus dan struktur. Pendekatan yang seimbang ini akan memungkinkan para pemimpin untuk secara efektif menghadapi tantangan organisasi sekaligus menumbuhkan budaya inovatif.
Lebih lanjut, organisasi perlu menyediakan sumber daya dan sistem pendukung yang memadai untuk mendorong Perilaku Kerja Inovatif. Sistem ini harus mencakup penciptaan platform untuk berbagi ide, alokasi waktu dan pendanaan untuk eksperimen, serta penerapan mekanisme penghargaan untuk mengapresiasi inovasi karyawan. Menyelaraskan upaya inovatif dengan tujuan organisasi akan memastikan bahwa kreativitas memberikan kontribusi langsung terhadap hasil yang terukur.
Akhirnya, menumbuhkan umpan balik dan perbaikan berkelanjutan adalah hal yang esensial. Lembaga perlu membangun mekanisme untuk menghimpun masukan dari karyawan mengenai praktik kepemimpinan dan organisasi, sehingga memungkinkan adanya penyesuaian yang mendukung inovasi dan kinerja jangka panjang. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, lembaga pelayanan publik dapat meningkatkan kinerja karyawan sekaligus kualitas layanan dalam lingkungan yang dinamis.
Penulis: Raden Dedy Chairil Zain, Fendy Suhariadi, Sendy Ayu Mitra Uktutias
Link:





