51动漫

51动漫 Official Website

Bagaimana Perspektif Pemangku Kepentingan Kepada Sarjana Keperawatan yang Berfokus pada Keperawatan Olahraga?

Bagaimana perspektif pemangku kepentingan kepada sarjana keperawatan yang berfokus pada keperawatan olahraga?
Ilustrasi Perawat (sumber: halodoc)

Kompleksitas sistem layanan kesehatan dan meningkatnya harapan hidup individu mengharuskan perawat untuk memiliki kemampuan berpikir kritis yang kuat. Selain meningkatkan kualitas hidup pasien, mereka harus memiliki kapasitas untuk menjamin keselamatan mereka (Papathanasiou et al., 2014). Negara-negara tertentu, termasuk Australia, Inggris, dan Amerika Serikat, telah mengambil inisiatif untuk menetapkan kurikulum keperawatan (Virgolsi et al., 2020). Selanjutnya, sejak tahun 2000, lebih dari 130 institusi dari Eropa dan Asia telah berpartisipasi dalam ‘Tuning Project’ yang bekerja sama dengan Asian Association of European Universities dan Chancellor’s Conference. Davis (2010) menyatakan bahwa inisiatif ini berupaya untuk membakukan tingkat program pendidikan. Dalam upaya meningkatkan kemampuan perawat (Davis, 2010), banyak program keperawatan yang beralih dari metodologi konvensional ke metodologi berbasis kompetensi (Davis, 2010). Untuk mengatasi kekhawatiran dan tuntutan berbagai pemangku kepentingan (seperti komunitas, keluarga, pasien, dan organisasi), sangat penting untuk mengembangkan kurikulum keperawatan yang inovatif dan disesuaikan (Sidebotham et al., 2017). Hal ini menyoroti tantangan yang dihadapi keperawatan saat ini, seperti perlunya keterampilan berpikir kritis yang kuat dan tuntutan akan keselamatan pasien (Evi et al., 2023; Sunaryo, 2015).

Meskipun banyak penulis telah melakukan upaya untuk menetapkan definisi yang tepat mengenai istilah pemangku kepentingan, Freeman memberikan definisi paling awal dengan mengkarakterisasinya sebagai kelompok atau individu yang memiliki kemampuan untuk memberikan dampak atau terkena dampak dari pencapaian tujuan organisasi (Deverka dkk., 2012). Para ahli telah menekankan pentingnya melibatkan beragam pemangku kepentingan, termasuk profesor, mahasiswa, organisasi profesi, dan calon pemberi kerja, dalam pendidikan kedokteran dan keperawatan untuk mengembangkan kurikulum yang relevan (Edwards et al., 2019). Disarankan untuk mengembangkan kurikulum keperawatan sesuai dengan pendekatan yang berorientasi pada pemangku kepentingan, mengingat bahwa pemangku kepentingan, yang memiliki kepentingan dalam proses layanan kesehatan, dapat menawarkan perspektif yang sangat berharga mengenai lingkungan layanan kesehatan yang selalu berubah (Virgolesi et al., 2020). Pentingnya pemangku kepentingan dalam proses pengembangan kurikulum telah ditekankan dalam berbagai penelitian (Harris et al., 2016).

Menurut sebuah penelitian (Mannix et al., 2009), pembelajaran klinis dalam program keperawatan harus ditingkatkan seperti yang dinyatakan oleh pemangku kepentingan. Berbagai pendekatan untuk melibatkan pemangku kepentingan telah ditekankan dalam penelitian lain (Murtagh et al., 2017). Sebagai gambaran, Olinzock dkk. (2009) menggunakan strategi metode campuran ketika melibatkan pemangku kepentingan dan memberikan penekanan signifikan pada kontribusi penting pemangku kepentingan di seluruh proses pengembangan kurikulum, termasuk perencanaan, implementasi, dan evaluasi (Olinzock et al., 2009). Valaitis dkk. (2008) mendokumentasikan hasil yang sebanding mengenai hambatan dan elemen pendukung yang berdampak pada integrasi layanan kesehatan dalam program sarjana keperawatan, seperti partisipasi pemangku kepentingan. Tuning Project sangat mementingkan keterlibatan pemangku kepentingan (Gobbi, 2014), dan menganjurkan pendekatan yang meningkatkan program sarjana melalui partisipasi pemangku kepentingan (Setyowati dkk., 2020).

Keterlibatan aktif para pemangku kepentingan merupakan landasan paradigma pendidikan baru yang disebut sebagai pendidikan yang berpusat pada keperawatan olahraga (Gobbi, 2014). Paradigma pendidikan berbasis kompetensi menyatakan bahwa keterlibatan pemangku kepentingan dalam proses pengembangan kurikulum menetapkan akuntabilitas melalui bahasa standar dan kriteria pengajaran, evaluasi, dan pengawasan yang disepakati bersama (Keogh et al., 2010). Meskipun banyak penelitian telah menyelidiki sudut pandang pemangku kepentingan keperawatan (Virgolesi et al., 2014), terdapat kelangkaan penelitian yang secara khusus membahas perspektif pemangku kepentingan dalam desain kurikulum keperawatan sarjana muda untuk atletik. Kajian terhadap kekurangan ini perlu dilakukan karena pandangan pemangku kepentingan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan kurikulum yang tepat dan bermutu unggul. Perspektif pemangku kepentingan antara lain meliputi perawat, pendidik, manajer, pelajar, dan pasien (Yusuf, Aditya, Fitryasari, dkk., 2020). Tujuan utama dari upaya penelitian ini adalah untuk menyelidiki keyakinan dan sudut pandang berbagai pemangku kepentingan termasuk akademisi, pendidik, administrator, dan perawat sehubungan dengan pelaksanaan program sarjana keperawatan olahraga yang mencakup partisipasi aktif mereka.

Penulis : Prof. Dr. Ah. Yusuf S., S.Kp., M.Kes.

AKSES CEPAT