Pendahuluan
Vaksinasi sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 penting dilakukan karena merupakan permasalahan kesehatan yang paling memprihatinkan dalam satu dekade terakhir. Platform vaksin inaktif dinilai lebih aman, terutama bagi pasien lanjut usia dan pasien penyakit penyerta. Sementara komorbit adalah pasien yang disertai infeksi sekuder yang dapat mempengaruhi efek vaksin dalam memproduksi respon imun. Hal ini dikarenakan vaksin inaktif cenederung lebih awal menginduksi response imun humoral, sementara infeksi penyerta atau komorbid cenderung menginduksi response imun seluler.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan macaca fascicularis dewasa yang disertai infeksi alami tuberculosis (TBC) dan viral hepatitis B yang diidentifikasi dengan polymerase chainreaction (PCR). Penyakit penyerta khususnya Tuberkulosis dan Hepatitis B, berdampak besar terhadap infeksi COVID-19 dan respon immne yang dapat menurunkan rekatifitas sel immune humoral dan seluler, karena dipengaruhi adanya factor, sitokin, komplemen yang kemungkinan dapat saling menghambat terhadap aktivitas sistem imune utamanya adalah mempengaruhi aktifitas IFN-gama dan sel T-CD4+, dan juga system komplemen (C3). Oleh karena itu molekul yang digunakan untuk mengevaluasi infeksi atau respon awal terhadap vaksin adalah IFN- 纬 dan sel T-CD4+ penting, dan tentu juga response immune humoral. Jika mempunyai peran dalam respon bawaan antivirus, termasuk inisiasi sitokin lain, peningkatan ekspresi MHC, peningkatan presentasi makrofag, dan peningkatan presentasi antigen ke sel T Na茂ve. Sel T-CD4+ dikaitkan dengan respon imun humoral. Monyet Cynomolgus atau dikenal dengan Macaca fascicularis didesain untuk Dikhususkan sebagai model pasien komorbid dewasa yang terdeteksi menderita hepatitis B dan Tuberkulosis (TBC) diperlakukan sebagai kelompok komorbid. Macaca fascicularis dewasa yang digunakan dalam penelitian ini berumur antara 6 sampai 9 tahun.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunaka Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengidentifikasi kuman TBC, serta hepatitis B untuk menentukan adanya bakteri tuberculosis, virus atau tidak karena kedua penyakit tersebut merupakan jenis penyakit yang paling banyak dijumpai yang merupakan penyakit zoonosis. Kedua penyakit tersebut tentu secara gejala klinik terlihat nyata tampak mempengaruhi respons immune karena dianggap sebagai target diantara sel adalah makrofage, sel T, sel NK yang sangat bertanggung jawab terhadap infeksi mikroorganisme. Metode lainya dalam pembuktian efek vaksinasi terhadap response imune seluler adalah dengan imunositokimia dan flowcytometri serta ELISA untuk menentukan aktifitas response seluler.
Hasil dari riset telah menunjukkan bahwa vaksin inaktif SARS-CoV2 dapat menginduksi response imun seluler melalui ekspresi IFN-gama yang dihasilkan oleh makrofage dan sel dendritic sel serta sel lainnya yang dapat mengaktifkan sel T terutama sel T helper 1 melalui MHC-I dan MHC-II yang selanjutnya dapat menstimulasi ekspresi dan sekresi Interleukin-6 (IL-6) IL-12, IL-13 serta sel T helper 2 menghasilkan IL-2,-4,-5 untuk mengatifkan sel B sehingga dapat menghasilkan imunoglobuline yang bersifat netralisasi. Hasil aktifitas sel T melalui ekspresi dan sekresi sitokin dapat dilihat pada permukaan sel membrane sel TCD-4+ dan selT CD-8+. Dengan demikian hasil imunisasi vaksin inaktif pada macaca fascicularis (Cynomolgus Macaques) yang comorbide terhadap TBC dan hepatitis B dapat menghasilkan atibodi netralisasi terhadap infeksi SARS-CoV-2 serta mengaktifkan respon imun seluler. Hal ini sangat dimungkinkan karena adanya perbedaan target response imun diantara vaksin dan infeksi komorbid.
Penulis: , , , , , , , , , ,
Referensi
Author(s): , , , , , , , , , ,
Coresponding Author Email(s): fedik-a-r@fkh.unair.ac.id
DOI:





