UNAIR NEWS – Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Tetapi kedekatan dan kebersamaan para alumni Jurusan Antropologi FISIP 51动漫 (UNAIR) ini tak renggang oleh waktu. Kedekatan itu sudah terajut dalam-dalam sejak menjadi mahasiswa tahun 1985. Apalagi mereka adalah angkatan pertama pada program studi yang dirintis oleh Dr. drg. A. Adi Sukadana (alm) ini. Jadi, Dies Natalis ke-38 FISIP dan 30 tahun Departemen Antropologi menjadi penyemangat para alumni Antro 85 untuk bereuni.
滲ertemu secara fisik juga menjadi hal penting dan pastinya membahagiakan, kata M Chilmi, yang dipercaya sebagai 淧ak Lurah Antro 85.
Media sosial dan berbagai fasilitas chit chat sebenarnya juga sudah menjadi 減enghubung mereka yang tersebar di berbagai tempat. 滽ami sebenarnya sudah 榬amai di facebook, dan grup whatsapp Antro 85, tapi bertemu langsung selalu memberikan kesan berbeda, ujar Miraningtyas, staf Kantor KB Adm Jakarta Timur.
漇aya ikut bahagia teman-teman berkumpul kembali, meski saya belum bisa gabung, ujar Billy Prasetyo, yang kini aktif di bidang kesehatan dan tinggal di Dallas, AS ini.
Perasaan dekat adalah perekatnya. Yang hadir memang belum lengkap, namun kerinduan dan kenangan saat mahasiwa sudah 減ecah kembali dalam pertemuan kecil di Resto Pondok Khas Jenggolo, Surabaya, 28 November 2015 lalu. Ini juga bukan reuni pertama. Tapi tetap saja, pertemuan dengan sahabat lama, selalu ditunggu dan dirindukan.
Pengalaman masa lalu juga menjadi obrolan yang gayeng. Sambil cemal-cemil makanan kecil yang tersaji, mereka berkisah bagaimana pertama kali bertemu dengan Pak Adi, Pak Josef Glinka, Pak Dyson, Bu Sanituti, Bu Pinky, Pak Budi, Pak Dede, Pak Naya, Bu Retno, dan yang lain dengan segala karakternya.
淏agaimana kami mengenal kuliah lapangan, napak tilas manusia purba, ujian open book, jatuh cinta saat kuliah, semua terceritakan kembali. Menyenangkan sekali masa-masa itu, kata Setia Pranata, peneliti di Litbang Kemenkes.
Kisah yang juga tak terlupakan adalah 淭ragedi air pel-pelan…hahahha, ujar Slamet Rustiaria, yang kini Kepala BPD Jatim di Pare, Kediri, sembari menunjuk rekannya, Herman, yang berprofesi pendidik. Tragedi yang dimaksud adalah ketika Herman ingin minum sebuah soft drink yang ternyata air pel-pelan. Kala itu mereka sedang kuliah lapangan materi Antropologi Agama pada masyarakat Tengger, Gunung Bromo. Begitu tragedi itu dikisahkan kembali, obrolan pun makin riuh, semua saling menyahut, seru.
Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Dimana saja mereka berkarya? Para alumni Antro 85 saat ini aktif pada beragam professi di berbagi kota di Indonesia dan manca negara. Menjadi pendidik, wirausaha, PNS, humas, marketing, peneliti, konsultan bidang kesehatan, perkotaan, hukum, dsb. (*)
Penulis: Onny Yoeliyana
Editor: Bambang Bes





