UNAIR NEWS Guna mencari masukan terkait isu-isu terkini yang menerpa kampus, Rektor 51动漫 mengadakan dialog dengan perwakilan alumni 51动漫. Acara ini dilaksanakan di rumah dinas Rektor UNAIR Jl. Dr. Soetomo Surabaya, dan karena dilaksanakan di bulan Ramadhan, maka dikemas dalam suasana religi, Jumat (1/6) malam.
Sambil ngabuburit (menunggu datangnya waktu berbuka puasa), Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., membuka acara dialog didahului pembacaan teks Pancasila secara bersama. Hal ini dilakukan karena bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Pembacaan teks Pancasila itu dipimpin oleh Agus Hendrawan, atau yang akrab dipanggil Cak Ahen, pengurus IKA-UA.
Selain Rektor, hadir para Wakil Rektor dan pimpinan universitas yang lain. Hadir juga Ketua Umum IKA 51动漫 Drs. Ec. Haryanto Basoeni beserta jajaran pengurus IKA yang lain, komplit beserta perwakilan IKA fakultas dan beberapa komisariat daerah.
Dalam acara ini Rektor ingin memperoleh masukan dari para alumni terkait isu-isu yang akhir-akhir ini 漝ialamatkan kepada dunia kampus. Misalnya mengenai kampus yang ditengarai terpapar paham radikalisme, isu-isu pemihakan dalam Pilkada, dan lain-lainnya.
Terkait dengan isu Pilkada, ditegaskan oleh Rektor bahwa posisi 51动漫 adalah netral senetral-netralnya. Tidak memihak dan tidak condong pada salah satu kontestan. Dengan 38.000 mahasiswa UNAIR dan sekitar 1.800 dosen-dosennya, diakuinya, memang tidak mungkin bisa mengendalikan sepenuhnya pemikiran-pemikirannya. Justru di kampus, pemikiran-pemikiran itulah yang dihargai secara akademik.
滵osen memiliki kebabasan akademik dalam penelitian dan publikasi ilmiah, sehingga kebebasan akademik itulah yang seharusnya digunakan secara ilmiah dan bertanggungjawab sesuai dengan kompetensi penelitiannya, tandas Rektor.

Rektor juga menegaskan, UNAIR sangat menolak tudingan sebagai kampus yang terpapar paham radikalisme, atau kegiatan yang sama sekali diluar akademik. Sebab tak satu pun mata kuliah di UNAIR mengajarkan radikalisme, baik pada pendidikan agama, pembinaan dan kegiatan kemahasiswaan. Dari ribuan mahasiswa itu memang ada kemungkinan diantaranya ada punya pemikiran lain, tetapi itu personal lain dan tak bisa digeneralisasi dan 渄itempelkan dengan lembaga kampus.
Dimisalkan seorang mahasiswa mengambil 18 SKS. Maka ia berada di kampus hanya antara tiga sampai empat jam. Artinya tidak 100% berada di kampus. Selebihnya yang di luar kampus itulah dia bisa memperoleh paham radikal itu, misalnya “kuliah” dari internet dan dari suatu program sosial media.
漇ehingga tidak seharusnya mendiskreditkan kampus dengan tuduhan sebagai sarang paham radikal. Justru kita itu mendorong dengan segala upaya agar kampus itu terhindar dari terorisme, tandas Prof. Nasih.
Sejak reformasi, diakui kehidupan kampus memang lebih 漧iberal, banyak paham pemikiran dan kegiatan yang berkembang. Sebagai dunia akademik juga mempelajari paham-paham tertentu secara ilmiah. Misalnya tentang sosialisme, kapitalisme sebagai suatu aliran ekonomi. Di bidang ilmu politik mempelajari bentuk-bentuk pemerintahan, ideologi politik, komunisme, dan sebagainya sebagai bagian dari ilmu secara akademik. Dan, di UNAIR tidak satu pun ada mata kuliah yang mengajarkan radikalisme, termasuk dalam pembinaan kemahasiswaan.
滼adi kalau diantara mereka itu mendapatkan paham radikal di luar kampus, misalnya dari internet dan suatu program sosmed, ya salahkan itu internet dan sosmed. Jadi tidak relevan melabeli kampus sebagai bagian dari sarang radikalisme, tandas Rektor UNAIR itu.
Dengan prakata demikian akhirnya diskusi dan masukan pun banyak disampaikan oleh para alumni. Dialog berlangsung dua babak, sebelum dan sesudah salat tarawih bersama. Beragam kompetensi alumni andil dalam dialog, baik yang punya kompetensi bidang luar negeri, politik, agama, dan pemerintahan. Semua masukan ditampung untuk suatu kajian selanjutnya. (*)
Penulis : Bambang Bes





