UNAIR NEWS Peran perguruan tinggi dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa memang tidak diragukan. Berbagai kebijakan yang diputuskan oleh parlemen selaku pemangku kebijakan, tidak sedikit yang lahir dari gagasan SDM di perguruan tinggi. Untuk mendapat masukan dari perguruan tinggi, Komisi IX DPR RI berkunjung ke Fakultas Farmasi 51动漫 untuk mendiskusikan tentang Pengawasan Program Penelitian Bahan Obat Baku, Rabu (30/11).
Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, Ph.D, menyampaikan, selaku kalangan akademisi dan pelaku upaya-upaya dari pengadaan bahan baku dan produk obat, UNAIR memang terus fokus mengembangkan ilmu kesehatan. Baginya, sangat tepat jika kunjungan tersebut dilakukan di UNAIR.
淜ami memang unggul dalam pusat kesehatan. Semua tujuannya untuk kemakmuran bangsa, ujarnya.
Ketua rombongan Komisi IX, Hj. Ermalena dalam sambutannya berharap bahwa dalam diskusi tersebut nantinya bisa menghasilkan berbagai kajian yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan kebijakan. Selain itu, pihaknya juga mengakui bahwa sudah banyak tahu tentang kemajuan keilmuan farmasi di UNAIR.
淜ami sering mendengar banyak bahan baku obat yang dihasilkan dari penelitian UNAIR. Ini akan jadi masukan bagi kami untuk didiskusikan dengan para rekan di DPR RI. Pertemuan kita ini penting sekali mengingat JKN (Jaminan Kesehatan Nasional,red) sudah berjalan dan kebutuhan akan obat terus meningkatkan. Maka dari itu perlu kami diskusikan dengan UNAIR, jelas politikus dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.
Di hadapan peserta yang terdiri dari rombongan Komisi IX, perwakilan dari Kementerian Kesehatan, BKKBN, BPOM, BPJS, dan akademisi UNAIR, Junaidi mengungkapkan bahwa dalam pengembangan produk bahan baku obat, pihaknya sudah sering menjalin kerja sama dengan pihak industri. Hal itu dilakukan untuk kemandirian dan kebermanfaatan yang lebih luas.
淧erguruan tinggi itu harus membawa hasil riset, agar membawa dampak ekonomi di masyarakat dan hidup bersama masyarakat. Kita sekarang tengah membuka aset itu. Tentu peran PT (perguruan tinggi,red) tidak sendiri. Ada titik yang harus kita benahi bersama. Syukur semua pelaku ada di sini, yakni akademis, industri, dan pemerintahan, paparnya.
Ermelena mengungkapkan, bahwa hubungan antara akademik dan pemerintahan masih ada sedikit hambatan. Baginya, saat perguruan tinggi siap, pemerintah masih belum. Tidak hanya pimpinan rombongan, Betti Shadiq anggota rombongan dari Fraksi Partai Golkar menjelaskan bahwa permasalahan yang lain juga ada pada sistem impor obat yang masih berjalan.
Selain itu, pernyataan lain muncul dari perwakilan anggota rombongan yang menjabarkan mengenai produk halal, kesulitan mengembangkan dan produksi, serta kerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah, menjadi topik hangat saat pendalaman materi diskusi.
淯ntuk persoalan kebijakanregulasi, kami sedang mengusahakan. Semoga bisa masuk Prolegnas (program legislasi nasional, red), jelas Siti Masrifah dari Fraksi PKB.
Menanggapi berbagai pernyataan dari anggota Komisi IX, mewakili pihak UNAIR Prof.Syahrani menyampaikan bahwa fakta 95% Indonesia masih impor bahan baku obat. Baginya, itu ada permainan pelaku bisnis.
淯ntuk masalah ini peran negara bagaimana bisa menghentikan hal tersebut. Kita harus mengubahkan pandangan bangsa ini, tegasnya.
Menambahkan pernyataan Prof. Syahrani, Prof. Mangestuti juga menyatakan bahwa penemuan khasiat jamu ditemukan dari data empiris atau coba-coba, sebab itulah dibutuhkan landasan ilmiah yang kuat.
Di akhir diskusiDekan FF UNAIR, Dr. Umi Athiyah menyampaikan harapan kepada pemerintah agar mendukung penambahan ketersediaan laboratorium. 淧erihal fasilitas dan ketersediaan laboratorium. Mohon perhatian pemerintah, pungkasnya.(*)
Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Dilan Salsabila





